Waspada Pornografi Di Sekitar Anak

Inggris-larang-anak-anak-buka-situs-pornografi_17-02-16-14-42

Ilustrasi (monitorday.com)

Foto pasangan ABG di sebuah kamar dan hanya dibungkus dengan sehelai selimut menyebar viral di jejaring sosial Facebook, mengundang banyak keprihatinan khususnya di kalangan orangtua, sepasang ABG tersebut kabarnya masih duduk di bangku SMP memberi gambaran bagi orangtua bahwa sebegitu urgent-nya pengawasan terhadap pergaulan anak-anak di zaman teknologi berbasis internet seperti sekarang ini.

Kemudahan mengakses internet khususnya untuk anak di bawah umur tanpa pengawasan yang ketat dari orangtua tentu memberi dampak positif dan negatif, keingintahuan anak yang berusia produktif namun tak diimbangin dengan kemampuan orangtua memberi perhatian dan arahan agar anak tetap berada di jalur positif lebih rentan terkontaminasi dengan konten-konten negatif.

Kasus foto sepasang ABG tersebut bukan yang pertama, dan bukan tak mungkin kasus-kasus seperti itu akan semakin marak jika orangtua tak menyikapinya sejak dini. Sebagai orangtua, saya pun bersiap melakukan tindakan antisipasi bahkan sejak anak sudah mampu berkomunikasi dan berintraksi dengan lingkungan sekitar serta dengan beragam jenis gadget yang mau tak mau akan menghiasi tumbuh kembang sang anak.

Jangan sampai anak tumbuh bersama perangkat teknologi khususnya smartphone tanpa ada pengawasan, perhatian, dan arahan dari orangtua. Berbagai kemampuan motorik anak yang mulai bekerja sempurna menuntun anak untuk tahu segala yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Lingkungan sekitar dan pergaulan sangat berperan atas perkembangan anak, orangtua kadang tak punya waktu untuk mengawasi aktivitas anak yang sudah menginjak remaja selama 24 jam, mereka pun akan merasa risi jika orangtua terlalu turut campur dengan segala kegiatan sang anak.

Di sinilah cara orangtua mengawasi dan mencurahkan perhatian pada anak tanpa membuat mereka risi dan merasa terkekang. Bagi saya pendidikan agama sejak usia dini wajib ditanamkan pada anak, agama yang menjadi pilar dan benteng pelindung bagi mereka saat kita sebagai orangtua tak punya waktu mendampingi mereka. Memberikan pendidikan agama yang benar dan sesuai dengan syariat sedikit banyak menjadi sebuah alarm jika suatu ketika anak berpikir untuk melakukan hal-hal yang dilarang.

Sex education juga penting sebagai bekal anak yang telah beranjak remaja ketika ia bergaul dan berinteraksi dengan dunia luar, khususnya di dunia digital yang menyajikan beragam informasi secara bebas. Pendidikan seks yang tak ia dapatkan secara maksimal di sekolah harus disempurkan oleh orangtua, pengetahuan seputar seks bisa saja diterjemahkan secara bebas oleh anak jika tanpa arahan dari orangtua. Dampak yang ditimbulkannya pun beragam yang jelas hal tersebut bisa merusak moral dan pola pikir sang anak.

*****

Tak mudah memang menahan gempuran peredaran konten-konten negatif bermuatan pornografi yang semakin masif menyasar anak khususnya di alam maya, pertumbuhan jumlah korban kejahatan seksual terhadap anak terus meningkat seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat. Orangtua dituntut aktif dan melek teknologi agar tak tertinggal dengan kemampuan anak yang kadang lebih agresif ketika bersinggungan dengan perangkat-perangkat teknologi.

Selalu awas menjadi sikap yang harus ada pada setiap orangtua dalam membendung berbagai bentuk konten-konten negatif yang mengintai sang anak, penerapan sex education dan penanaman moral agama pada anak tak akan berdampak apa-apa jika tak ditunjang dengan peran aktif orangtua dalam melakukan pengawasan, perhatian, dan arahan. Orangtua tak akan mampu menahan laju teknologi yang terus berkembang, namun orangtua bisa mengelola dan memanfaatkannya secara positif demi masa depan yang cerah untuk anak tercinta.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE