Warning, Buku “Ranjau Biografi”

Buku “Ranjau Biografi” yang ditulis oleh mas Pepih Nugraha, bisa dikatakan sebagai buku lanjutan (advance) dari karya mas Pepih sebelumnya, “Menulis Sosok: Secara Inspiratif, Menarik, dan Unik (2013)” ulasannya bisa dibaca pada tautan ini http://www.triadicl.com/2013/11/resensi-buku-sosok.html. Perbedaan penting kedua buku tersebut yakni pada Buku Menulis Sosok, mas Pepih membahas tip dan trik serta keharusan yang wajib dilakukan oleh seorang penulis biografi (biograf) dalam menulis tokoh yang akan disosokkan dari kacamata seorang jurnalis. Salah satu yang disyaratkan oleh mas Pepih adalah harus ada nilai berita (news value) pada si empunya sosok.

Sedangkan pada buku “Ranjau Biografi”, mas Pepih lebih menekankan apa saja yang harus dihindari atau tidak boleh dilakukan oleh si penulis biografi. Dalam buku ini, mas Pepih akan menguraikan sebelas “ranjau” dalam menulis biografi atau sosok (feature), kenapa mas Pepih memakai istilah ranjau? Yang merupakan sebutan untuk alat peledak yang ditanam di dalam tanah dan sangat mematikan bagi siapa saja yang menginjak ranjau tersebut, tentu saja itu merupakan warning bagi penulis yang harus dihindari. Begitu mas Pepih menganalogikan penggunaan kata “ranjau” pada bukunya.

Dalam menulis sosok atau biografi, seorang penulis harus mampu menghidupkan karakter si sosok agar lebih menarik perhatian para pembaca. Caranya, melalui pendekatan jurnalistik dengan menggunakan gaya bahasa yang lebih fleksibel dan mudah dipahami karena menulis sosok adalah jenis penulisan soft news. Berbeda dengan penulisan hard news untuk menulis berita peristiwa yang menggunakan gaya bahasa yang cenderung kaku dan seragam. Sehingga kreatifitas seorang penulis sosok atau biografi berperan penting dalam menceritakan keunikan dan kelebihan seseorang yang disosokkan.

Pada Buku Ranjau Biografi, mas Pepih tak hanya menjelaskan seberapa penting menghindari ranjau dalam menulis biografi tapi juga dampak yang ditimbulkan jika penulis sosok atau biografi menginjak ranjau itu. Seperti pada ranjau pertama yang harus dihindari, yaitu “Berbohong Tak Hanya Dilakukan Jurnalis, Narasumber Juga”. Mas Pepih berbagi pengalaman ketika ia mensosokkan Eko Ramaditya Adikara, seorang blogger tunanetra dengan beragam kelebihan yang dimiliki ternyata ada hal menyimpang terkait informasi yang ia berikan.

Kemudian ranjau kedua, “Tokoh Kontroversial, Baik atau Buruk untuk Diprofilkan?” Dalam sebuah perjalanan di kota Helsinki, Finlandia. Mas Pepih bersama beberapa politisi tanah air diundang oleh pemerintah Finlandia yang sedang mengadakan Pemilu 1999. Pada saat itu, Andi Alfian Mallarangeng “membocorkan” sebuah berita rahasia dari Jakarta, seketika saja berita yang ditulis oleh mas Pepih bikin heboh dan menggoncang politik nasional. Lalu pada ranjau keenam, ada “Bahaya Kultus Individu dan Pencitraan”. Mas Pepih coba mengangkat sosok Rudini yang kharismatik dan tetap eksis di dunia politik pasca rezim Soeharto runtuh.

Dan masih banyak lagi ranjau-ranjau biografi yang harus dihindari oleh penulis sosok atau biografi agar tak mengurangi nilai berita dan informasi yang ingin disampaikan oleh narasumber. Pada setiap ranjau, mas Pepih memberikan contoh penulisan sosok berupa tulisan biografi ringkas dan pernah dimuat di Harian Kompas pada rubrik “Sosok”. Buku ini sangat bermanfaat khususnya bagi para penulis sosok di media massa maupun biografi dalam bentuk buku, sehingga penulis dapat terhindar dari kesalahan-kesalahan sehingga keunikan dan kelebihan yang ditonjolkan oleh narasumber dapat menarik perhatian pembaca.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE