Vaksin MR Haram Tapi Bisa Digunakan

image pexels.com

Beberapa pekan ini sedang hangat diperbincangkan vaksin measless rubella (MR) yang sebelumnya dinyatakan haram oleh LPPOM MUI karena positif mengandung babi dan bahan dari organ manusia.

Hal tersebut menimbulkan pro dan kontra di kalangan orangtua khususnya yang memiliki anak usia 9 bulan hingga 15 tahun karena penyebaran rubella terjadi pada anak usia di bawah 15 tahun. Banyak orangtua khawatir vaksin yang belum memiliki sertifikat halal itu akan berdampak buruk bagi buah hati mereka, tak terkecuali saya sabagai ayah dari anak yang saat ini berusia hampir tiga tahun tentu merasa was-was.

Sejak pemerintah mencanangkan vaksin MR sebagai program imunisasi nasional yang berlangsung sejak Agustus – September 2018, tak sedikit orangtua yang menolak anaknya divaksin karena belum mengantongi sertifikat halal dari LPPOM MUI pusat.

Belum lagi beredar foto dan video anak di media sosial yang mengalami beragam kelainan sesaat setelah diberi vaksin MR membuat para orangtua semakin anti dengan vaksin tersebut, meski info yang tersebar di dunia maya itu belum bisa dipastikan kebenarannya.

Pihak LPPOM MUI pun sudah memeriksa vaksin MR dan hasilnya memang ditemukan ada unsur babi dan organ manusia yang membuat vaksin yang didatangkan dari India itu belum bisa dilabeli sertifikat halal. (sumber: Tribunnews.com 21 Agustus 2018)

Dalam hal ini pemerintah seolah bimbang apakah ingin tetap melanjutkan program imunisasi tersebut atau menggantinya dengan program lain, belum ada ketegasan dari pemerintah untuk mengatasi kegusaran para orangtua sehingga sikap menolak vaksinasi pada anak mereka pun terjadi di mana-mana.

Pentingnya Vaksin MR

Measles Rubella (MR) atau lebih dikenal dengan campak dan rubella merupakan infeksi menular melalui saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini bisa menyebabkan penderitanya cacat hingga meninggal dunia, jadi tak heran jika pemerintah kini berada pada posisi dilematik.

Di satu sisi pemerintah harus segera menyediakan penangkal untuk penyakit tersebut, di sisi lain penangkal tersebut harus halal mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

Menghentikan program vaksin MR berarti memberi peluang besar bagi anak-anak terjangkit virus tersebut, sedangkan menggantinya dengan vaksin lain untuk saat ini belum ditemukan vaksi pengganti yang halal dan bisa menangkal penyebaran campak dan rubella.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melansir jumlah kasus campak di Eropa, hasilnya sangat mengkhawatirkan yakni melonjak tajam dalam enam bulan pertama tahun 2018 dengan 37 korban jiwa. WHO pun menghimbau agar semua negara segera mengimplementasikan langkah-langkah tepat untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut, salah satunya dengan imunisasi. (sumber: www.metrotvnews.com 21 Agustus 2018)

Fatwa MUI: Vaksin MR Mubah

Mengingat dampak yang ditimbulkan jika seorang anak tidak divaksin MR maka Komisi Fatwa MUI melalui rapat pleno memutuskan bahwa vaksin MR yang diproduksi oleh Serum Institute of India (SII) diperbolehkan untuk digunakan.

Di laman resmi MUI disebutkan bahwa ada tiga hal yang melatarbelakangi vaksin MR boleh digunakan untuk imunisasi. Pertama, kondisi keterpaksaan (dlarurat syar’iiyah). Dalam Islam hal-hal yang dilarang dalam syariat boleh dilakukan jika berada dalam kondisi mendesak.

Keterpaksaan atau kondisi darurat terhadap suatu keadaan memang dibolehkan, apalagi bertujuan untuk mempertahankan hidup namun tentu saja dengan syarat dan batasan khusus.

Kedua, belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci. Dan ketiga, ada keterangan ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan jika seorang anak tidak diimunisasi. Fatwa MUI selengkapnya bisa dibaca di sini.


Sebagai orangtua tentu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, sejak awal saya selalu mendukung program-program yang dicanangkan pemerintah termasuk program pemberian vaksin MR ini.

Keputusan pemerintah menjalankan program vaksi MR sebagai langkah antisipatif terhadap penyakit campak dan rubella yang hingga kini penyebarannya sudah sangat mengkhawatirkan. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE