Ujian Kesabaran

Libur puasa dan lebaran telah usai, kini aku kembali bergelut dengan rutinitas kerjaan yang telah lama aku terlantarkan. Sudah dua hari ini kesabaranku benar-benar diuji oleh beragam permasalahan yang dikeluhkan oleh mahasiswa, sebagai pendidik tentu aku harus mengutamakan wawasan, etika dan kebijaksanaan dalam memberikan solusi bagi permasalahan yang mereka hadapi. Namun kadang perhatian dan kebaikan yang tercurah tak selamanya berbanding lurus dengan harapan yang ingin dicapai.

Katanya, sabar itu tak mempunyai batas, namun kadang manusia tak menyadari jika pikiran itu memiliki ukuran ambang batas untuk menampung persoalan dan permasalahan yang dihadapi. Pikiran yang melebihi kapasitas tentu akan berdampak pada kinerja otak secara keseluruhan hingga akhirnya kesabaran pun akan berada pada level terbawah, akibatnya konsentrasi bisa menurun dan kerjaan pun akan terbentur oleh tembok kokoh yang bernama ‘stres’.

Jika stres sudah menguasai hati, jiwa dan pikiran tentu lahirlah rasa frustasi, merasa tak bersemangat, merasa jenuh hingga memberi peluang munculnya penyakit-penyakit hati lainnya untuk tumbuh subur dalam diri. Kesabaran menjadi barang langka dan amarah pun semakin mudah dicerna, itulah dampak dari kelebihan kerja otak. Tak mudah memang menjaga kinerja otak agar tetap stabil dan tak melebihi batas, namun dengan bersikap sabar dan menahan emosi yang meluap-luap niscaya ketenangan hati akan selalu dirasakan.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE