Ujian Akhir Semester, Optimalkah?

Sejatinya ujian akhir semester dijadikan bahan evaluasi bagi dosen untuk mengetahui sampai sejauh mana pemahan mahasiswa terhadap materi ajar yang diberikan. Ujian akhir semester juga menjadi tolak ukur kompetensi seorang dosen dalam melakukan interaksi belajar mengajar, berhasil atau tidaknya dosen dalam melakukan transfer ilmu dengan mahasiswa tergambar pada hasil ujian akhir semester. Materi ajar yang diberikan dosen selama enam bulan harus mampu dikuasai oleh mahasiswa dalam seminggu sesuai waktu pelaksanaan ujian akhir semester, itupun tergantung dari banyaknya mata kuliah yang diprogram. Optimalkah? Atau itu hanya menjadi bentuk pelaksanaan kewajiban pihak kampus untuk mengadakan ujian disetiap akhir semester.

Pelaksanaan ujian akhir semester yang menjadi agenda rutin pihak universitas tidak bisa dijadikan indikator penilaian kemampuan mahasiswa dalam menerima dan menguasai seluruh materi pelajaran. Bayangkan saja, mahasiswa dituntut menguasai delapan mata kuliah jika setiap mata kuliah berbobot tiga SKS sehingga dalam satu semester mahasiswa itu memprogramkan 24 satuan kredit semster. Wawasan, pemahaman dan daya tanggap setiap mahasiswa dalam menerima materi kuliah tentu berbeda-beda sehingga dosen dituntut harus memberikan metode belajar mengajar yang bervariasi untuk menjangkau mahasiswa yang punya pengetahuan dan pemahaman yang pas-pas.

Peran dosen sebagai tenaga pendidik dihadapkan pada realita di lapangan bahwa motivasi belajar mahasiswa sekarang sangat jauh menurun. Tugas dosen bukan hanya memberi arahan dan menjelaskan materi perkuliahan tapi lebih dari itu dosen dituntut untuk bisa menjadi seorang motivator buat mahasiswa, bisa menjadi penyemangat agar motivasi belajar mahasiswa meningkat. Tanggung jawab seorang dosen adalah menciptakan mahasiswa-mahasiswa intelek yang mampu bersaing dalam dunia kerja serta menjadi generasi penerus bangsa yang berwawasan luas dan bermartabat. Hal tersebut akan menjadi sia-sia jika tidak dukung oleh keinginan dari mahasiswa itu sendiri untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuannya secara sadar.

Foto : Ilustrasi diperankan model

Ujian akhir semester selama ini hanya menjadi agenda rutin kampus tanpa pernah menghasilkan solusi terhadap motivasi belajar mahasiswa yang terus menurun. Mahasiswa terjebak pada persepsi jika ujian akhir semester adalah penilaian utama seorang dosen dalam mengukur kemampuan seorang mahasiswa. Tak heran jika ujian akhir semester tiba maka ruang-ruang kelas akan terisi penuh, mahasiswa yang tak pernah kelihatan batang hidungnya ketika proses belajar mengajar tiba-tiba saja muncul dan duduk manis mengerjakan soal ujian, jawaban yang ditulisnya pun hasil dari nyontek, ironis. Banyak fakta-fakta yang menggambarkan jika ujian akhir semester tidak efektif dijadikan indikator penilaian kemampuan dan kualitas mahasiswa.

Setiap dosen sudah tahu mahasiswa-mahasiswa mana saja yang layak mendapat nilai bagus, penilaian itu akan tampak dari interaksi dosen dan mahasiswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Pertemuan selama kurang lebih enam bulan atau kira-kira 16 kali tatap muka tentu akan nampak siapa-siapa mahasiswa yang memang rajin, yang kadang-kadang rajin dan yang luar biasa malas. Nah, dari penilaian setiap pertemuan itu sudah bisa mewakili hasil yang akan diperoleh oleh seorang mahasiswa di akhir semester. Jadi tak perlu membuang-buang waktu, tenaga, dan materi hanya untuk melaksanakan ujian akhir semester yang tak berdampak apapun pada mahasiswa.

Suasana UAS (Foto : Diperankan Model)

Semua kembali pada sistem yang diberlakukan oleh pihak universitas, jika ingin kukuh untuk menerapkan ujian akhir semester sebagai salah satu indikator penilaian seorang mahasiswa maka persiapan harus matang, mulai dari komposisi panitia ujian, kualitas soal, kompetensi pengawas dan tata tertib ujian harus ter-cover dengan baik. Jangan sampain tujuan ujian akhir semester yang sebenarnya untuk mengetahui sampai sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap materi kuliah tersamarkan oleh persepsi yang menganggap bahwa ujian akhir semester merupakan penilaian utama dan satu-satunya yang diberikan oleh dosen sehingga mengabaikan kehadiran dan keaktivan mahasiswa pada proses belajar mengajar yang berlangsung dalam kelas.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE