Uang Panai Bikin Laki-Laki Panik

(Foto: http://mudahmenikah.files.wordpress.com)

Pernikahan adat Bugis-Makassar mempunyai persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon mempelai laki-laki jika ingin mempersunting wanita asal Bugis-Makassar yaitu uang panai atau uang naik. Saya tertarik dengan tulisan seorang sahabat yang berjudul “Menggugat Uang Panai” yang menggambarkan bagaimana fenomena uang panai yang maknanya perlahan mulai bergeser dari nilai-nilai budaya yang sesungguhnya.

Tradisi uang panai mempunyai posisi strategis dalam penentuan tahapan pernikahan selanjutnya, jika kedua keluarga segera menemui kata sepakat atas nominal uang panai maka bisa diibaratkan itu sebagai lampu hijau bagi kedua mempelai untuk menggelar acara pernikahan. Namun sebaliknya, jika kedua keluarga membutuhkan waktu yang lama untuk berunding menentukan jumlah uang panai maka bisa diandaikan itu seperti lampu kuning bahkan bisa menjadi lampu merah jika kedua keluarga tak juga menemui kata sepakat.

Sebegitu krusial kah tradisi uang panai dalam pernikahan adat Bugis-Makassar? Dari beberapa tulisan yang saya baca, tradisi uang panai merupakan salah satu prasyarat pernikahan dalam budaya Bugis-Makassar yang berbeda dengan mahar, kedudukannya sebagai uang adat yang wajib disediakan oleh calon mempelai laki-laki dengan jumlah yang telah disepakati oleh kedua keluarga.

Penentuan nomimal uang panai bagi wanita Bugis-Makassar beragam tergantung dari silsilah keluarga, status sosial, pendidikan, perkerjaan dan lain-lain. Bisa ditebak jika si wanita tersebut keturunan ningrat atau berasal dari keluarga berada maka uang panai yang harus disiapkan calon mempelai laki-laki harus tinggi. Begitupun dengan pendidikan dan pekerjaan, apakah si wanita lulusan sarjana, magister, berprofesi dokter atau pegawai negeri semua punya nominal sendiri-sendiri.

Uang panai menjadi seperti buah simalakama bagi laki-laki dewasa yang ingin menikahi wanita asal Bugis-Makassar, tak sedikit rencana pernikahan yang gagal terlaksana karena calon mempelai laki-laki keburu panik ketika mengetahui nominal uang panai yang diinginkan oleh keluarga pihak perempuan.

Namun yang menjadi fenomena sekarang ini ketika uang panai dijadikan tameng oleh keluarga perempuan yang tak setuju dengan calon suami pilihan anaknya, entah karena beda status sosial atau karena calon suami anaknya itu jauh dari kriteria idaman menurut orangtua sang perempuan. Namun itulah tradisi uang panai yang merupakan adat istiadat yang mau tidak mau harus dilaksanakan sebagai proses yang tak terpisahkan dari pernikahan adat Bugis-Makassar.

Pernikahan tak melulu soal cinta dan kesiapan dua manusia untuk hidup bersama dalam membina rumah tangga, selain itu harus ada nominal uang yang menjadi bahan bakar agar kehidupan setelah akad nikah dapat terus berjalan. Sekilas uang panai sangat memberatkan kaum laki-laki, bagaimana tidak berat jika acara pesta untuk perempuan beserta alat-alat kelengkapan pernikahan lainnya ditanggung oleh pihak laki-laki.

Mungkin tak jadi masalah jika sang laki-laki adalah orang sukses dengan kekayaan yang melimpah, namun bagaimana dengan laki-laki biasa dengan kemampuan pas-pasan namun punya keinginan tulus ikhlas ingin membina rumah tangga dengan wanita Bugis-Makassar? Apakah cinta mereka harus kandas karena uang panai? Bisa-bisa jomblo akan merajalela di tanah Sul-Sel.

Okelah, jangan menggeneralisasi bahwa semua wanita Bugis-Makassar punya uang panai tinggi. Itu tergantung dari kelihaian dari pihak laki-laki melakukan pandekatan pada calon mempelai perempuan karena tidak semua keluarga dari pihak perempuan menentukan uang panai tinggi tanpa melihat kemampuan si laki-laki.

Hal ini sesuai dengan Sabda Rasulullah SAW “Sesungguhnya di antara tanda-tanda berkah perempuan adalah mudah dilamar, murah maharnya, dan murah rahimnya.” (HR. Ahmad). Tradisi uang panai merupakan budaya yang melekat pada pernikahan adat Bugis-Makassar, makna yang terkandung dalam tradisi uang panai pun sarat akan pembelajaran tentang hidup dan cara laki-laki menghargai seorang perempuan. Seorang laki-laki yang ingin menikah dengan wanita Bugis-Makassar bukan saja harus siap secara mental namun juga secara financial karena begitulah adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE