Tujuh Tujuh Satu BW

“Ka’, nyalain Ac-nya aku gerah banget nih.” kata Astrid, sambil mengipas-ngipas buku ditangan.
“Iya, sekalian kita jalan ya? ke parkiran Fakultas Hukum nyari es buah.”
“Wah asyik dong ka’, dengan rujak buah sekalian ya?, yuk buruan ke sana.”
Segera aku menginjak pedal gas mobil, dan secepat itu pula mobil Taruna hijau dengan nomer polisi 771 BW berpindah tempat.

Kutipan percakapan itu masih terngiang jelas. Suara itu masih bening untuk selalu terdengar ditelingaku, walau sudah sekian lama berlalu dan menjadi sebuah kenangan. Andai ia tahu apa yang aku rasakan, parasaan yang telah lama terpendam. Perasaan yang masih sama seperti dulu dan cinta yang masih sama seperti dulu, tak ada yang berubah. Walau pun waktu terus berganti dan masa akan terus berlari tanpa jeda sedikit pun, semua tetap sama. Aku tak punya daya untuk menghapus kenangan itu, meski kenangan yang lain silih ganti bersemayam di relung hatiku. Karena hanya dengan dia aku merasakan cinta sejati, hanya dengan dia aku merasakan kasih sayang yang tak akan pernah tergantikan, dengan apa pun dan dengan siapa pun. Ciptaan Tuhan penuh dengan misteri dan tugas manusia memecahkan misteri itu untuk meraih bahagia. Kita akan merasakan kekecewaan bersama orang lain sebelum merasakan kebahagiaan bersama orang yang kita cintai. Sedih itu awal dari senyuman yang tertunda, sakit hati itu awal dari ketegaran jiwa. Jangan pernah merasa takdir Tuhan tak adil, karena takdir Tuhan akan indah saat kita ikhlas menerimanya dengan ketulusan raga.

Raga tak akan selamanya bersatu, perpisahan adalah ujian bagi jiwa yang ingin sempurna. Meraih impian dengan melalui cobaan adalah langkah tepat untuk meraih bahagia, dan mengorbankan apa yang paling berharga adalah tumbal. Aku tak tahu apa yang dia rasakan saat ini, setelah sekian lama waktu memaksa kita untuk berpisah. Percuma berontak. percuma teriak, toh semua itu tak akan mengembalikan waktu seperti sedia kala dan merubah segalanya menjadi lebih baik. Apa yang kita jalani dimasa lalu adalah kenangan, dan apa yang kita alami sekarang adalah impian. Raihlah impian dengan perjuangan yang tak kenal lelah, tetesan darah dan keringat adalah setitik pengorbanan dan tak sebanding dengan kebahagiaan yang dirasakan. Jangan takut untuk bermimpi karena apapun yang menjadi impian, itu adalah gambaran masa depan dan menjadikan kita manusia yang lebih baik.. Bye-bye

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE