Ternyata Cinta

Cinta adalah anugerah Tuhan yang sangat istimewa, semua yang ada di dunia ini penuh dengan nuansa cinta. Cinta itu membawa kedamaian, mengajarkan ketulusan dan curahan kasih sayang yang tak akan pernah sirna hingga ujung waktu seperti cintaku pada Arjun, kekasih yang berada di seberang pulau nan jauh di sana berjarak ratusan kilometer dari tanah kelahiranku. Aku tak pernah menjumpainya secara nyata dan tak pernah melihatnya secara kasat mata, namun ternyata cinta membuat kami percaya bahwa semua akan indah pada waktunya. Kata itu terngiang-ngiang dalam hati meski aku tahu perjalanan yang kami jejaki tak akan mudah namun itu tak menyurutkan keyakinan kami untuk meraih secuil rasa yang bernama bahagia.

Aku mengenal Arjun dari Rani teman kantorku yang juga masih punya hubungan keluarga dengan Arjun. Naluri sahabatnya mungkin terusik oleh kesendirianku yang terlalu setia. Aku memang tak pernah tampak bersama seseorang yang spesial saat berkumpul dengan para sahabat, ketika menghadiri acara seremonial rekan kerja aku selalu datang sendiri, hal itu membuat orang-orang disekitarku bertanya-tanya padahal diusia yang kepala tiga saat dimana sebagian wanita menganggap masa itu adalah masa yang krusial dan sudah sangat pantas untuk berumah tangga, terlebih jabatanku disalah satu instansi pemerintah kian cemerlang membuat aku kelimpungan menjawab pertanyaan teman-teman kantor dan sanak keluarga, “Kapan nikah?”

Bukannya aku tak ingin segera membina rumah tangga, aku merasa setiap pria memandangku sebelah mata. Ya, secara fisik aku bukanlah tipe wanita ideal, badanku tambun, wajah berhias jerawat dan penampilahku yang sangat jauh dari kriteria wanita idaman membuat aku minder untuk mendekati lelaki yang aku suka. Hingga suatu ketika berawal dari obrolan ringan, Rani merekomendasikan Arjun padaku. Awal perkenalan aku dan Arjun bermuara di jejaring sosial Facebook dengan saling berkomentar status, berkirim pesan inbox hingga suatu hari dia meminta nomor handphone-ku. Hubungan kami pun semakin akrab dan dekat, kata-kata penyemangat serta perhatian yang dia kucurkan ibarat oase di padang pasir bagi hatiku yang gersang tak bertuan. Kami menjalin pertemanan dengan tulus, dia menerimaku apa adanya dengan segala kekurangan yang aku miliki.

Setahun berlalu, dia kemudian menyatakan perasaan cintanya. Aku tak punya alasan untuk menolak meski jarak jelas selalu menggoyahkan keputusan hatiku, dia berada di pulau Jawa sedangkan aku di pulau Sulawesi. Tapi aku tak peduli dan bersedia menjalani hubungan yang tak lazim bagi sebagian orang. Saat sepasang kekasih mengobati rindu dengan bertemu, kami hanya bisa berbagi suara di ujung telepon. Saat hati galau dan membutuhkan sandaran bahu, kami hanya bisa saling bertatap sayu di layar semu, aku menikmatinya meski jauh di lubuk hati ada kerikil beban mendera. Sungguh perjalan cinta yang berat terlebih aku sering menerima komplain dari teman dekat yang menganggap hubunganku hanya pengisi waktu luang, pembunuh jenuh dari rutinitas kantor dan akan berakhir sia-sia. Namun ternyata cinta selalu menguatkan hatiku, hati kami telah menyatu dalam dimensi ruang dan waktu.

***
Hubungan kami terpisah oleh semudera yang mengungkung rindu segunung, rindu yang tak mampu menembus jarak yang begitu jauh. Dua tahun sudah kami lalui dengan beragam kisah dan kenangan, pertengkaran dan perselisihan menyapa bergantian, hingga rasa bosan menggelayut di hatiku. Kadang bertanya dalam hati sampai kapan aku jalani hubungan seperti ini? Mungkin benar apa yang dikatakan sahabat dan teman-teman dekat jika rasa bosan akan menyadarkanku, rasa jenuh akan membangunkanku dari mimpi. Hingga suatu malam saat aku terlelap, suara Arjun menggugahku dari ujung telepon, “Aira, mas akan dipindah tugaskan ke Makassar,” Sontak mataku tegang, jantungku berdegup kencang. “Apa aku bermimpi? Tidak, suaranya nyata,” ujarku dalam hati.
Detik-detik perjumpaan kini di depan mata, aku menjemputnya di bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Tak perlu menunggu lama, tatapanku kini tertuju pada sosok lelaki tegap, kulitnya putih, rambutnya tertata rapi, namun ada yang janggal dengan lelaki itu. Cara jalannya, ya jalannya pincang nampak kakinya timpang, “Benarkan dia, mas Arjun?” Lirihku dalam hati. Lelaki itu makin mendekat dan kini berjarak tiga jengkal dariku. “Airin?” Katanya dengan dialek khas orang Solo yang ramah dan lembut, aku sangat mengenal suara itu, suara yang saban hari aku dengar dari ujung telepon. “Iya, mas Arjun?” Jawabku gugup, bibirku bergemuruh seperti hendak meluapkan keluh.
Sinar mentari pagi menyusuri sekat bambu di kedai kopi yang nampak sepi, hanya beberapa pengunjung termasuk aku dan Arjun yang duduk berhadapan di kursi rotan yang antik. “Maaf jika aku menyembunyikan cacat kakiku,” Katanya sambil menyeduh kopi hitam yang mengepulkan asap, “Kecelakaan motor saat SMA membuat kaki kiriku retak permanen,” Diseruputnya kopi hangat itu. Aku hanya diam tertunduk dalam hati merasa didustai, mungkin selama ini aku terbuai dengan fotonya yang gagah sempurna hingga berat batinku menerima kenyataan ini. Namun ternyata cinta meluluhkan egoku, betapa besar pengorbanannya hingga akhirnya dia nyata duduk di depanku, dia rela berhenti dari tempat kerjanya di Solo bukan dipindah tugaskan seperti yang dia katakan melalui telepon, dia ingin mencari pekerjaan di kota ini sekaligus mengenal keluargaku lebih dekat. Aku ingin dia menerimaku apa adanya tapi kenapa aku tak bisa menerima kekurangannya, ternyata cinta mampu menjawab semua itu.

Kedatangan Arjun justru membuat hubungan kami renggang, pertengkaran demi pertengkaran menghiasi pertemuan kami. Sifat aslinya mulai terkuak, dia sangat egois dan over posesif membuatku merasa terkekang dan tak nyaman, namun aku tetap sabar dan bertahan ternyata cinta telah merabunkan alam bawah sadarku. Teman dan sahabatku banyak yang tak setuju dengan hubungan kami, termasuk Ayahku yang menentang habis-habisan dan memintaku untuk berpisah dengan Arjun. Pertimbangan Ayah apalagi kalau bukan cacat kakinya dan Arjun belum memiliki kerjaan tetap. “Ayah tak akan merestui hubungan kalian!” Hatiku luka tersayat bentakan Ayah, aku tak pernah melihat Ayah semarah itu, Aku tak ingin menyakiti hati Ayah tapi rasa sayangku pada Arjun tak bisa aku abaikan.

Kami dihinggapi rasa putus asa, berbagai cara telah kami tempuh untuk meyakinkan Ayah namun selalu berujung pertengkaran. Sejak Ibu meninggal setahun yang lalu, Ayah jadi lebih banyak diam, menyendiri dalam kamar dan mudah marah. Puncaknya ketika Arjun datang ke rumah dengan maksud untuk membicarakan hubungan kami kearah yang lebih serius, hati Ayah tak juga melunak dan memilih mengunci diri dalam kamar. Air mataku mengalir deras, hatiku teremas-remas oleh ketidakpastian yang selama ini menyiksa raga dan batinku. Bahagia yang ingin kurengkuh bersama Arjun seperti jauh panggang dari api, meratapi takdir yang seolah tak berpihak pada cinta kami.

Ayah pun jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Aku tak ingin masalah ini membebani pikiran Ayah dan membuat penyakit jantungnya semakin parah. Aku putuskan untuk meninggalkan Arjun demi kebaikan bersama, Arjun tak terima dan ingin membuktikan pada Ayah jika dia bukanlah lelaki lemah hanya karena kakinya yang tak normal, Arjun berusaha keras meyakinkanku, tapi aku tetap pada pendirianku, ingin berpisah.

Keadaan Ayah makin memburuk, sudah dua hari Ayah koma. Dokter memvonis Ayah mengalami gagal jantung. Badanku lemas tak bertenaga, rasa sesal yang sangat dalam menular ke seluruh tubuhku, air mata seakan tak lelah mengalir. “Maafkan aku Ayah, aku tak ingin menjadi anak durhaka,” lirihku di telinga Ayah yang entah terdengar atau tidak olehnya. Aku tertunduk di samping pembaringan Ayah, dan tiba-tiba jemari Ayah bergerak, “Aira,” Suara serak Ayah mengagetkanku. “Syukurlah Ayah sudah siuman,” Batinku. Mata Ayah terbuka perlahan, “Maafkan Ayah, Aira.” Kini air matanya menetes, aku hanya diam sambil menggenggam erat tangan Ayah.

“Ayah terlalu egois hingga memasung kebahagiaanmu, nak. Sudah saatnya kau menentukan jalan hidupmu sendiri, meraih kebahagiaan yang kau impikan.” Air mata Ayah tumpah ruah, bibirnya pucat dan suaranya parau. “Ayah selalu teringat pesan mendiang Ibumu, dia berkata agar kelak kau harus bersanding dengan lelaki yang pantas, yang bisa menjagamu dan melindungimu.” Aku tak kuat melihat tangis Ayah, tatapannya membuat hatiku tersayat haru. Aku memeluk Ayah erat agar ia sedikit tenang namun hatiku bergetar saat beliau mengatakan, “Ayah merestui hubungan kalian.”

Aku dan Arjun akhirnya menikah dalam kesederhanaan. Aku tak henti-hentinya berucap syukur pada Allah meski dihari yang bahagia itu aku berselimut duka yang dalam. Aku kehilangan sosok Ayah yang tegas, seorang pemimpin rumah tangga yang aku banggakan, Aku rindu Ayah dan Ibu. Namun kini ada Arjun di sampingku, lelaki yang telah mengusap air mataku, lelaki yang menemaniku dalam kesendirian. Ternyata cinta mengguratkan senyum di setiap langkah yang kami jejaki, meresapi bahagia yang kini berbinar indah dalam sorot mata buah hati kami, Alhamdulillah ya Allah.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE