Tangis Gli Azzurri

Italia gagal pentas di gelaran Piala Dunia 2018 Rusia, mengulang sejarah 59 tahun lalu yang saat itu Gli Azzurri juga hanya jadi penonton pesta sepakbola sejagat.

Pagi ini saya dikejutkan dengan berita tentang Italia yang gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 2018, setelah dini hari tadi ditahan imbang 0-0 oleh Swedia di leg kedua play-off Zona Eropa di Stadion Giuseppe Meazza. Tim besutan Giampiero Ventura yang di leg pertama kalah 1-0 tentu bertekad untuk membalasnya di kandang sendiri sekaligus memastikan diri lolos ke putaran final Piala Dunia 2018.

Namun sayang, tim bertabur bintang Italia tak mampu menembus lini pertahanan Swedia yang tampil solid meski sepanjang pertandingan digempur habis-habisan oleh Ciro Immobile dan kawan-kawan. Menurut statistik, Italia mampu melepaskan 20 tembakan yang enam diantaranya mengarah ke gawang. Dengan penguasaan bola sebesar 75 persen wajar saja jika tim Biru Langit mampu mengepung pertahanan Swedia hampir sepanjang laga.

Italia memang bukan satu-satunya negara sepakbola yang gagal tampil di Piala Dunia 2018, ada Belanda, Chile, dan Wales yang sudah resmi jadi penonton event empat tahunan itu. Deretan nama negara itu bisa bertambah mengingat masih ada pertandingan yang melibatkan Denmark dan Kroasia di babak play-off zona Eropa.

Magnet Piala Dunia

Negara mana yang tak ingin tampil di Piala Dunia, indikator kesuksesan sebuah negara khususnya dalam hal tata kelola sepakbola salah satunya berasal dari prestasi di ajang bergengsi seperti Piala Dunia. Memang ada Amerika Serikat yang tak butuh tampil di Piala Dunia agar diakui sebagai negara besar, namun negara yang punya prestasi sepakbola yang mengilap dianggap memiliki nilai lebih dibanding negara besar yang hanya mengandalkan power di bidang lain agar diakui oleh negara lain.

Piala Dunia seolah menjadi magnet bagi negara-negara yang concern dengan tujuan akhir sepakbola yang mereka kelola, mulai dari pembinaan usia dini, gelaran kompetisi lokal, hingga berpartisipasi di ajang internasional merupakan beberapa proses yang harus dilalui agar sebuah negara dianggap layak ikut serta di ajang besar seperti Piala Dunia.

Tak hanya negara, pemain pun menjadikan Piala Dunia sebagai ukuran kesuksesan karier pesepakbola. Meskipun tak berjaya di klub yang ia bela namun dengan prestasi mentereng di Piala Dunia pemain tersebut bahkan bisa sejajar dengan pemain lain yang sukses bersama klubnya, lihat saja Diego Maradona. Jadi tak heran jika pemain sekelas Gianluigi Buffon yang kini berusia 39 tahun dan bergelimang gelar bersama Juventus masih penasaran dengan Piala Dunia padahal sang kiper sudah memenanginya tahun 2006 silam.

Indonesia Kapan ke Piala Dunia

Setelah kegagalan Italia pentas di Piala Dunia 2018 banyak warganet khususnya di Indonesia menyamakan nasib tim peraih empat edisi Piala dunia itu dengan timnas Indonesia yang juga tak lolos (dicoret dari kualifikasi) Piala Dunia 2018. Mungkin itu hanya candaan semata karena sejatinya secara peringkat posisi Italia jauh di atas Indonesia.

Pendukung timnas Indonesia tak pernah lelah bermimpi untuk menyaksikan tim kebanggaan mereka berlaga di ajang sekaliber Piala Dunia, meski harus menempus cara “jenius” yakni menawarkan diri sebagai tuan rumah yang secara otomatis meloloskan Indonesia sebagai peserta Piala Dunia tanpa harus melewati babak kualifikasi. Terdengar lucu memang, tapi apa pun itu jika mengacu pada keyakinan tak ada yang tak mungkin selama Tuhan menghendaki.

Namung alangkah baiknya jika Indonesia belajar pada negara-negara tetangga seperti Jepang, Cina, dan Korea Selatan yang membangun tata kelola sepakbolanya selama bertahun-tahun agar bisa bersaing dengan negara-negara kiblat sepakbola. Terlepas dari status sebagai tuan rumah Piala Dunia 2002 bersama Jepang, Korea Selatan mampu menembus babak semifinal sebelum dihentikan Jerman dengan skor tipis 0-1.

Proses yang dilalui  Jepang dan Korea Selatan pasti panjang dan berliku untuk bisa berada di level seperti sekarang ini. Jadi jika Indonesia ingin ke Piala Dunia benahi dulu sistem sepakbola dalam negeri jangan maunya enak sendiri, jadi tuan rumah dan otomatis ikut Piala Dunia. Main di Piala Dunia tak semudah mainan anak zaman now yang tren saat ini. Bravo sepakbola Indonesia.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE