Surprise

Bayu duduk terpaku di teras rumah, menikmati sore sambil melihat anak-anak yang sedang bermain dengan riang. Hatinya tak seriang senyumnya yang terkembang, ada gundah yang besemayam dalam benak dan seakan tak ingin beranjak. Pikirannya menerawang ke masa lalu tepatnya setahun yang lalu, suasananya pun  sama seperti bulan Ramadhan yang penuh berkah seperti sekarang ini. Ketika itu rindunya terabaikan, cintanya tersia-siakan, perhatiannya dihempaskan oleh wanita yang sangat dia sayangi, waktu setahun belum cukup ampuh untuk membuat Bayu tegar, ada kecewa yang menyayat batih hingga luka hati setia menghujam hari-harinya.

Sesaat lagi sore berganti senja pertanda waktu berbuka puasa tak lama lagi akan tiba, keceriaan anak-anak yang saling berkejaran, bermain tali hingga bersepeda membuat suasana sore semakin meriah. Mereka tak mengenal lelah bahkan semakin bersemangat ketika petang datang menyapa. Masa kecil adalah masa paling indah, bermain dengan teman sebaya adalah rutinitas yang tak boleh terlewatkan, tak perlu memikirkan perasaan, tak perlu pula merasakan hati yang tercabik karena cinta. Itulah masa kecil.

Bayu beranjak dari duduknya, berdiri sejenak sambil merentangkan kedua tangan ke samping, ditariknya nafas panjang lalu dihembuskan dengan kencang berharap hatinya yang gundah perlahan mulai tenang dan nyaman. Ketika Bayu hendak melangkah masuk ke dalam rumah, tiba-tiba ia dikagetkan suara gadis dari luar pagar.

“Assalamu alaikum.” Suara gadis itu lembut nyaris tak terdengar. Kulitnya putih serasi dengan warna jilbab yang menghias wajahnya. “Siapa ya?” Bayu berjalan mendekat pagar. “Aku, Diah anaknya bu Laksmi. Mau ngantarin kue buat buka puasa.” Sambil menyerahkan kotak segi empat yang atasnya transparan jadi nampak kue brownis cokelat di dalamnya.

“Aku permisi pulang dulu, Assalamu alaikum.” Gadis itu langsung pergi.”Waalaikum salam, terima kasih, ya.” Ucap Bayu dalam hati. Belum reda keterkejutan Bayu pada sosok gadis yang baru dilihatnya itu, kini gadis itu telah pergi tanpa tahu di mana rumah gadis yang ternyata selama ini menjadi tokoh sentral dalam diskusi keluarganya. Mamanya Bayu sering bercerita tantang Diah, gadis yang baik, rajin dan cantik, saat itu Bayu hanya menganggap cerita mamanya sebagai angin lalu, Bayu masih setia pada Silvi wanita yang membuatnya jatuh dan rapuh.
Namun setelah semuanya berlalu, Bayu mulai sadar jika pilihan orang tua tak selamanya salah di mata anaknya. Bayu pun sudah lelah bergumul dengan sejuta cinta indah yang ternyata semu, Diah gadis yang baru dilihatnya memancarkan pesona yang tak biasa. Pijar cinta semakin benderang ketika orang tua Diah pun merestui hubungan mereka, dan mereka pun melalui kehidupan baru yang penuh senyum dan tawa bahagia.
Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE