Sunset Losari

Saat terjaga dari tidur, aku berujar dalam hati agar hari ini pulang kantor lebih awal, pekerjaan penting sudah aku selesaikan dengan lembur hingga jam 12 malam selama empat hari berturut-turut. Efeknya masih sangat terasa pagi ini, mata sembab karena kurang terlelap, kepala berat untuk ditegakkan, badan lemas hingga melangkah pun butuh tenaga ekstra. Entah sudah berapa cangkir kopi aku habiskan untuk melawan kantuk saat lembur, berbagai macam suplemen penambah tenaga pun aku tenggak tanpa anjuran resep dokter, aku tak peduli dengan diriku, aku tak peduli dengan orang-orang yang selalu meremehkanku. Aku hanya peduli dengan orang yang mencintai aku dengan sepenuh hati, tak memandang aku siapa, aku memiliki apa hingga mereka selalu menganggapku egois dan mudah tersulut emosi. Sudahlah,

Aku hanya melakonkan kisahku sendiri meski alur ceritanya harus aku mulai dari awal lagi. Mataku masih menerawang di langit-langit kamar, rasanya masih ingin memejam namun tanggung jawab tak bisa aku abaikan begitu saja. Aku pun bergegas melangkah ke kamar mandi, selesai itu aku menyiapkan sarapan roti isi selai kacang dan secangkir kopi cappucino. Pagi ini seperti ada yang hilang, sejenak aku menatap handphone yang tergeletak di atas meja makan. 

“Jam segini biasanya dia nelfon untuk sekadar memastikan kalau aku bangunnya tak kesiangan.” Batinku. Tapi sekarang sudah berbeda, aku harus lebih akrab dengan alarm jam.”

Masih terngiang suara merdunya yang setiap pagi menggugah lelapku, mengobarkan semangatku untuk memulai hari dengan senyuman penuh percaya diri, harapan dan impian sudah tertaut jauh dalam lubuk hati. Dia selalu bisa mengusir keraguan dalam hatiku jika bahagia itu tinggal menunggu waktu untuk menyapa kami berdua. Kini semua tinggal kenangan yang harus aku buang jauh-jauh sejauh mimpi yang tak mungkin nyata, meski ada kerinduan yang menyengat saat teringat masa-masa itu, namun di sisi lain ada hati yang terkoyak penuh luka karenanya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.15 Wita, aku pun menyambar kunci mobil dan bergegas pergi.

Tiba di kantor aku hanya tersenyum seadanya pada pak Tohir, kepala sekuriti yang sudah mengabdi selama 10 tahun di perusahaan ini, sesekali menyapa rekan-rekan kerja yang kebetulan berpapasan denganku meski ucapan –Selamat pagi – yang aku lontarkan terdengar tak bersemangat. Sudah hampir sebulan ini aku lebih banyak menyendiri di ruang kerja, sejak pagi aku hanya sibuk menyelesaikan laporan-laporan dan sesekali ke ruangan atasan untuk mengambil berkas lalu duduk kembali menatap layar monitor, bercanda-tawa dengan teman-teman saat jam kerja untuk mengusir jenuh kini tak lagi aku lakukan. Saat jam istirahat aku lebih memilih makan siang di kantin dan mengabaikan ajakan Dion, partner kerja sekaligus sahabatku. 
“Ayolah, di restoran itu ada menu ikan gurame bakar kesukaan kamu.” Sambil merapikan kertas-kertas yang berserakan di mejanya, Dion berusaha membujuk.
“Kamu pergi saja sendiri.”
Dion lalu berjalan ke arah meja kerjaku, mendekatkan wajahnya ke wajahku, mengkerutkan dahi dan menatap mataku nanar seperti ada yang dia cari di kelopak mataku.
“Kamu ngapain? Nanti ada yang lihat dikiranya kita homo.” Aku dorong bahunya sedikit menjauh.
“Kamu habis nangis? Matamu bengkak.”
“Aku cuma kurang tidur, sudah empat hari aku disuruh lembur si Bos.”
“Akhir-akhir ini kamu berubah, pasti karena wanita itu kan? Semua orang di kantor ini juga tahu bagaimana kisah cintamu yang sangat dramatis itu.”
“Dion, cukup..!! kamu jangan ungkit-ungkit kejadian itu lagi, kamu senang melihat orang-orang di kantor ini mentertawakan aku? Kamu tak tahu bagaimana sakitnya hatiku.” Aku pun pergi meninggalkan Dion dengan amarah yang membuncah.
“Arya, tunggu..!!” Dion memanggilku tapi aku tak peduli. Aku terus melangkah menuju kantin. Sepertinya orang-orang di kantor ini memang  memperhatikanku, sesekali aku melirik dan mendapati mereka saling berbisik dan menatapku penuh iba, entah apa yang mereka fikirkan aku pun tak mau tahu apa yang mereka fikirkan tentangku, tentang kisahku atau tentang nasibku yang malang ini, sudahlah.

Menjelang sore, seperti yang sudah aku niatkan untuk pulang kantor sebelum langit berubah gelap, agar bisa menikmati indahnya sinar sunset di tempat favoritku, segera aku merapikan berkas-berkas yang bertumpuk di meja, memasukkan alat tulis ke dalam laci dan menguncinya rapat-rapat. Aku pun bersiap menembus kemacetan kota yang semakin akut, hidup di kota memang butuh perjuangan dan perjuangan terbesar ada di jalanan saat berjibaku dengan kendaraan yang semakin padat dan tak keruan. Aku memacu mobil dengan perasaan gundah, dadaku tiba-tiba sesak, ingin rasanya meluapkan emosi jiwa dengan berteriak sekeras-kerasnya, ingin mengumpat sejahat-jahatnya bila mengingat sosok wanita yang telah pergi meninggalkan luka dan meluluh-lantakan mahligai mimpi yang dulu terajut indah.

Aku semakin memacu laju mobil memasuki jalur tol dalam kota yang akan membawaku ke tempat itu lebih cepat. Tempat yang indah dan menyimpan banyak kenangan, tempat yang digunakan sebagian orang untuk menyendiri dan merenung tentang riuh kehidupan. Tempat itu adalah pantai Losari yang menghadirkan sinar sunset yang memesona, tempat pelarianku saat bahagia ataupun saat sedang gundah. Tempat yang sangat eksotik dengan hamparan laut biru yang kemilau, hilir-mudik perahu-perahu nelayan dan gugusan pulau-pulau kecil yang sangat memanjakan mata. Sungguh ciptaan Tuhan yang menyiratkan kebesaran-Nya.

Akhirnya aku sampai di anjungan pantai Losari, tempat ini sudah ramai dengan penjaja makanan dan minuman ringan, para juru foto yang siap mengabadikan kenangan para pengunjung ketika sunset tiba, pedagang balon dan mainan anak-anak serta beberapa orang pengamen yang tak ingin ketinggalan mengais rejeki di tempat ini. Aku lalu berjalan ke tepi anjungan, mencari tempat yang nyaman untuk melihat sunset. Cuaca hari ini cukup cerah sehingga mentari yang perlahan mulai tenggelam memancarkan sinar jingga yang sangat indah. Aku duduk mematung dan seakan terpaku dengan keindahan sinar sunset pantai Losari, pancaran cahaya yang meneduhkan dan menenangkan hati dari kegelisahan karena tersakiti oleh janji yang tak pasti.

“Arya…!!” Tiba-tiba suara itu memecah keheningan, suara yang terdengar tak asing bagiku.

Aku menoleh dan melihat seorang wanita berdiri tepat di belakangku, wajahnya cerah tersorot sinar sunset yang kemilau, rambutnya yang panjang terhempas oleh angin pantai yang berhembus sepoi-sepoi. Aku menahan nafas sejenak, seakan tak percaya dengan apa yang aku lihat. Sosok wanita terindah yang dulu mengisi ruang di hatiku, wanita yang mengukir kenangan manis dalam kisah hidupku, wanita yang telah menyia-nyiakan cinta dan kasih sayangku.

“Rinda?” Aku bangkit dari duduk dan berjalan menghampirinya.
“Maafkan aku.” Suaranya parau, tangannya mengepal seperti sedang mengoyak kertas usang. “Aku tahu ini salahku, aku juga tahu kalau kamu tak akan bisa memaafkanku.” Air mata mengalir deras membasahi pipinya.

Seketika ingatanku menerawang ke masa lalu, tepatnya sebulan yang lalu. Di tempat ini dia memutuskan jalinan cinta, tiga tahun kebersamaan kami pun terasa sia-sia, janji dan mimpi kini tinggal puing hingga menyisakan luka di hati. Dia pergi disaat pernikahan kami tinggal menghitung hari, saat itu aku hanya bisa meratapi kepergiannya dengan tanda tanya yang menggelayut di fikiran. Kini dia datang kembali, entah untuk apa, aku pun bertanya-tanya dalam hati.

“Aku ke sini hanya ingin memberimu sesuatu.” Diapun mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas selempangnya, kemudian pergi. Aku penasaran dengan isi amplop coklat berukuran kertas folio itu, segera aku buka dan mendapati secarik kertas yang berisi hasil pemeriksaan dokter yang menyatakan bahwa dia terkena kanker serviks.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE