Sok Tahu Bikin Malu

Suatu siang di kampus hijau (sebutan untuk kampusku tercinta) sudah ramai oleh mahasiswa yang hilir-mudik kesana-kemari mencari dosen pembimbing demi segores tanda tangan, aku termasuk dalam golongan itu. Menunggu 2 hingga 3 jam adalah hal yang biasa dan merupakan sebuah pengorbanan yang wajar, toh karena kita yang butuh mereka dan demi lancarnya urusan berkas-berkas dibagian administrasi. Siang itu memang tak seperti siang-siang dihari biasa, maklum batas akhir pendaftaran wisuda tinggal 10 hari lagi, jadi semua mahasiswa berlomba-lomba untuk ujian akhir agar bisa ikut wisuda gelombang pertama di tahun ini, aku pun termasuk dalam golongan itu.

Ketika aku membasuh peluh menunggu dosen di pelataran kampus, tiba-tiba pandanganku tertuju pada ruang kelas ber-AC yang terlihat nganggur alias belum digunakan mahasiswa untuk kuliah. Saat tiba di kelas itu, ternyata sudah ada beberapa mahasiswa yang mungkin bernasib sama dengan aku, numpang ngadem sambil nungguin dosen yang lagi mengajar, lagi rapat atau lagi menguji mahasiswa calon sarjana dalam sebuah ujian bertajuk sidang skripsi atau tesis. Pertukaran udara dari panas menjadi dingin secara drastis, membuat kepala sedikit cenat-cenut, maklum aku tak terbiasa dengan semburan AC hingga membuat organ tubuh memerlukan waktu beradaptasi lebih lama.

Saat sedang asyik menikmati udara dingin buatan, tiba-tiba aku melihat sosok yang tak asing. Paijo, teman semasa sekolah dulu. Dia nampak tergesa-gesa, namun langkahnya terhenti saat aku manyapanya.
“Paijo….!!”
“Dimas? ngapain kamu disini?”
“Lagi nungguin undangan buat seminar besok. Kalau kamu? Ada kuliah ya?”
“Nggak ada kok, aku cuma mau kumpul tugas makalah.”
“Ayo kita ngobrol di dalam kelas aja biar adem.” ujarku dengan semangat.
“Ada yang pake nggak nih kelas?”
“Tenang aja, kelasnya kosong kok.”
Kami pun terlibat obrolan serius dalam kelas, maklum teman lama tentu banyak kisah yang perlu dibagi agar tak ketinggalan informasi.
“Permisi, apa anda juga punya jam kuliah di kelas ini?”
Tiba-tiba ada seorang lelaki muncul di samping aku dan Paijo. Tanpa berfikir panjang aku dan Paijo segera kabur dari kelas itu. Ternyata lelaki itu dosen (lebih tepatnya asisten dosen) dan sejak tadi asisten dosen itu menunggu mahasiswanya sambil mendengarkan obrolan aku dan Paijo, aku tak curiga sedikit pun karena penampilan asisten dosen itu lebih mirip dengan mahasiswa.

Syukurlah, mahasiswa di dalam kelas itu tak ada yang mengenali aku dan Paijo, mungkin mereka mahasiswa baru yang lagi ngikutin kegiatan pra kuliah jadi yang ngajarin mereka masih asisten dosen. Akhirnya aku dan Paijo kembali melanjutkan obrolan di pelataran kampus dengan raut wajah sendu karena malu.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE