Sisi Lain Anjungan Pantai Losari

Anjungan Pantai Losari sudah menjadi landmark kota Makassar. Di kawasan itu warga dan wisatawan bisa menghabiskan waktu menikmati suasana pantai dan hamparan pulau-pulau sembari bercengkerama bersama keluarga, teman dan kerabat. Anjungan pantai Losari merupakan salah satu destinasi wisata favorit warga kota Makassar, selain karena letaknya yang berada di tengah kota kawasan tersebut sering dijadikan tempat penyelenggaraan event-event yang berskala nasional hingga internasional. Saya adalah salah satu warga Makassar yang menjadikan anjungan pantai Losari sebagai tempat berkumpul favorit bersama teman-teman dikala senggang, tapi itu dulu sebelum pantai Losari direvitalisasi seperti sekarang ini. Anjungan pantai Losari sekarang lebih indah dan tertata rapih namun ketika saya ke sana untuk sekadar melepas rindu pada keindahan sinar sunset, saya belum sepenuhnya merasakan kenyamanan berkunjung di anjungan pantai Losari.

Belum hilang dari ingatan saya ketika beberapa bulan yang lalu bersama seorang sahabat, saya menghabiskan malam minggu di anjungan pantai Losari. Saat sedang asyik menikmati suasa kota Makassar di kala malam tiba-tiba saja kenyamanan saya terusik oleh beberapa orang pengamen yang memaksa meminta bayaran padahal saya sudah berusaha menolak secara baik-baik. Di postingan Anjungan Losari Kini Nggak Asyik saya ceritakan bagaimana aksi pengamen-pengamen itu sangat meresahkan pengunjung, bahkan ada pengamen yang masih berusia di bawah umur. Sudah menjadi rahasia umum jika di kawasan anjungan pantai Losari didominasi oleh oknum-oknum yang mengusik kenyamanan pengunjung, selain pemalak yang berkedok pengamen, juru parkir liar pun turut andil dengan menetapkan tarif yang lebih mahal dibanding tarif resmi yang ditetapkan pemkot Makassar.

Anjungan pantai Losari seolah menjadi lahan basah bagi preman-preman untuk mengeruk keuntungan hal itu tentu saja sangat merugikan pengunjung dan meninggalkan kesan buruk bagi wisatawan yang berkunjung ke sana. Keluhan warga atas maraknya aksi premanisme yang terjadi di anjungan pantai Losari sudah sering disampaikan kepada pihak-pihak berwenang agar menertibkan pengamen dan juru parkir liar yang dinilai sangat meresahkan, namun pihak pengelola mengklaim jika anjungan pantai Losari bebas dari segala bentuk aksi premanisme dan juru parkir sudah memberlakukan tarif resmi bagi pengunjung yang memasuki area anjungan. Pernyataan pengelola yang bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan tentu mengundang banyak protes, sebaiknya pihak-pihak terkait dalam hal ini dinas pariwisata terjun langsung ke lapangan dan segera melakukan pembenahan agar kenyamanan pengunjung bisa ditingkatkan.

Suasana Anjungan Losari pada hari Minggu

Suasana anjungan pantai Losari saat malam tentu tidak seramai ketika pagi atau siang hari, namun hal itu tidak berlaku di hari minggu. Pada hari minggu kawasan sepanjang jalan di anjungan pantai losari bebas dari kendaraan atau lebih dikenal dengan istilah car free day, kawasan itu bisa digunakan oleh warga untuk berolah raga, senam, bersepeda dan jogging. Namun ada hal unik yang bisa ditemui di kawasan anjungan ketika hari minggu, yaitu hadirnya lapak-lapak yang menjual beragam jenis barang dagangan. Hari minggu kemarin saya sempat berkunjung ke anjungan pantai Losari pada pukul sembilan pagi, itu menjadi kunjungan pertama saya dan melihat langsung keramaian pedagang menjajakan barang dagangannya. Sepanjang jalan di sekitaran anjungan berjejer pedagang mulai dari penjual pakaian, makanan, mainan, aksesoris dan masih banyak lagi.

Saya melihat anjungan pantai losari berubah fungsi menjadi pasar dadakan yang kurang enak dipandang, sampah berserakan di mana-mana, lapak pedagang yang memenuhi bahu jalan tentu mengganggu pengguna jalan yang ingin menikmati pagi bersama keluarga dan kerabat. Kehadiran para pedagang itu memang sangat dinanti bagi sebagian pengunjung yang memanfaatkan liburan di anjungan pantai Losari sembari melihat-lihat beragam barang yang dijajakan namun menggunakan ruang publik sebagai tempat berjualan tentu mengganggu kenyamanan dan keindahan, belum lagi jika aktifitas pedagang itu selesai dan meninggalkan tumpukan sampah di mana-mana. Pihak pengelola tentu mendapat pemasukan dari setiap pedagang yang berjualan di anjungan pantai Losari, namun mengorbankan keindahan dan kenyamanan pengunjung sepertinya itu terlalu berlebihan.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply to Triadi C Laksono Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE