Siapkah Teknologi 4G Unjuk Gigi?

Indonesia baru saja melahirkan smartphone 4G asli buatan dalam negeri, dipelopori oleh PT. Sat Nusa Persada (PTSN) dan PT.  Tata Sarana Mandiri (TSM). Meski komponen yang digunakan 30% buatan lokal dan 70% masih harus diimpor dari Tiongkok dan Malaysia, hal tersebut tidak menyurutkan semangat vendor lokal untuk memenuhi kebutuhan ponsel di tanah air dengan memproduksi smartphone 4G yang diberi nama Ivo. Yang menjadi pertanyaan, sudah siapkah Indonesia menggelar akses data selevel 4G (fourth generation) yang katanya mampu menembus kecepatan akses internet hingga 150 Mbps, bandingkan dengan kecepatan jaringan generasi ketiga 3G yang hanya menyentuh angka 14 Mbps (HSPA) atau 2G yang kecepatan akses datanya hanya 256 Kbps (EDGE).

Kecepatan akses data yang ditawarkan 4G menjadi daya tarik bagi pengguna internet namun kita harus bercermin dari kualitas layanan 3G dan 2G yang sekarang masih belum optimal, teknologi 4G berbasis Long Term Evolution (LTE) memang menjanjikan akses internet super cepat dibanding 3G dan 2G jadi tidak mengherankan jika setiap negara berlomba-lomba menggunakan teknologi tersebut. China dan Korea Selatan kabarnya sudah mengkomersilkan teknologi 4G dan bisa dinikmati oleh warganya, bahkan mereka kini bersiap memasuki era 5G yang diklaim sepuluh kali lipat lebih cepat dari 4G. Sejatinya Indonesia sudah memberi lampu hijau untuk menggelar jaringan 4G, namun pemerintah masih menunggu kesiapan operator sebagai penyedia layanan jasa telekomunikasi untuk mengimplemetasikan teknologi 4G di industri seluler tanah air.

Perubahan perangkat pendukung mutlak dilakukan oleh operator dan tentunya membutuhkan nilai investasi yang tidak sedikit. Operator Smartfren misalnya, harus menggelontorkan USD 200 juta atau sekitar Rp 2,4 triliun sebagai investasi awal untuk mengaplikasikan teknologi 4G itupun hanya bisa meng-cover wilayah-wilayah tertentu. Sedangkan operator terbesar tanah air, Telkomsel bahkan sudah melakukan uji coba jaringan 4G berbasis LTE ketika penyelenggaraan APEC di Bali, operator Merah itu menyatakan siap menggelar jaringan 4G tinggal menunggu regulasi dari pemerintah. Menkominfo, Tifatul Sembiring telah memberi sinyal bahwa teknologi 4G berbasis LTE akan digelar serentak pada akhir tahun 2014 yang sebelumnya direncanakan meluncur pada akhir tahun 2013.

Pemerintah telah menyiapkan regulasi dan itu sedang dikaji, frekuensi LTE di Indonesia besar kemungkinan akan berjalan di 1.800 MHz dan 2,3 GHz. Implementasi teknologi 4G berbasis LTE diharapkan tidak mempengaruhi kualitas jaringan 3G dan 2G yang memang belum sepenuhnya maksimal, sudah menjadi rahasia umum jika penerapan jaringan 3G belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Jangankan menikmati akses internet setingkat 3G dan 2G, banyak daerah-daerah di pelosok tanah air bahkan belum tersentuh jaringan seluler sehingga penduduk yang tinggal di area tersebut tidak merasakan kemudahan berbagi informasi dan memperoleh manfaat dari perkembangan teknologi. Hal itu menjadi PR bagi pemerintah pusat, daerah dan operator sebagai penyedia layanan jasa telekomunikasi.

Apapun kebijakan pemerintah patut kita apresiasi termasuk penyelenggaraan teknologi 4G berbasis LTE, namun pemerintah sebaiknya fokus pada pemerataan jaringan 3G dan membenahi kualitas layanan jasa telekomunikasi yang masih banyak menyisakan masalah bagi pengguna di tanah air. Pada tanggal 28 Mei, pelanggan Telkomsel mengalami gangguan jaringan seluler akibat migrasi sistem database yang menyebabkan pelanggan sulit membeli paket internet, gangguan layanan ini memakan waktu hampir 24 jam. Indosat pun sempat mengalami gangguan layanan jaringan, laporan pada awal April lalu mencatat jika border gateway protocol Indosat untuk koneksi internasional dilaporkan telah ‘membajak’ 415.652 prefix internet (sumber: Tabloid Pulsa edisi 288).

Kualitas layanan operator sebagai penyelenggara telekomunikasi masih banyak menimbulkan keluhan bagi pelanggan, alih-alih pemerintah ingin menggeber teknologi tinggi berbasis 4G sementara jaringan generasi ketiga 3G bahkan 2G belum sepenuhnya bisa dinikmati oleh pengguna internet di tanah air. Operator boleh saja mengklaim jika mereka telah memberikan layanan yang terbaik namun berbagai macam gangguan jaringan di lapangan membuktikan jika pelanggan kerap dirugikan dan tetap mengeluarkan biaya meski layanan tidak prima. Konsumen berhak mendapat perlindungan dari pemerintah sesuai yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 52 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi pasal 5 ayat (1): Penyelenggara jasa telekomunikasi wajib menyediakan fasilitas telekomunikasi untuk menjamin kualitas pelayanan jasa telekomunikasi yang baik.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE