Si ABG

Mei 2013, sudah lima bulan aku berada di kota ini, tentu bukan waku yang singkat tapi bukan pula waktu yang lama untuk bisa dikatakan sebagai warga pendatang baru. Ya, aku masih merasa seperti ABG (Anak Baru Gorontalo) yang lahir dan besar di kota Makassar, kota yang jauh di seberang, kota dengan hingar bingar suasan metropolitan, kota yang tak pernah terlelap, kota yang disesaki oleh orang-orang yang tak kenal lelah mengejar mimpi, itulah kotaku.

Aku rela meninggalkan kotaku yang megah dan serba ada menuju kota Gorontalo, kota yang masih berkembang dan segera ingin menjelma menjadi kota metropolitan seperti kotaku. Aku ingin mengukir mimpi di kota ini meski harus berjibaku dengan realita yang jauh dari apa yang aku harapkan.

Gorontalo, tak banyak yang aku ketahui tentang kota ini. Seingatku dulu kota ini adalah bagian dari provinsi Sulawesi Utara (Manado) namun akhirnya memisahkan diri menjadi provinsi Gorontalo. Kota yang dikenal sebagai penghasil jagung ini segera berbenah agar sejajar dengan provinsi lain yang ada di pulau Sulawesi, seperti kota Makassar yang telah menjadi kota metropolitan dengan kemajuan industri dan perekonomian yang begitu pesat.

Tentu bukan hal yang mudah namun bukan pula hal yang mustahil dilakukan, semua itu butuh proses yang panjang serta dukungan dari seluruh warga Gorontalo agar kota ini bisa menjadi ikon di pulau Sulawesi.

Aku masih ingat saat pertama kali tiba di kota Gorontalo, tak seperti provinsi lain yang ada di pulau Jawa atau Sulawesi. Kota ini masih kental dengan nuansa desa, hamparan sawah yang luas, jalan protokol yang tak kenal macet, bangunan-bagunan serba minimalis dan tak ada gedung pencakar langit, semua bertolak seratus delapan puluh derajat dengan apa yang aku bayangkan tentang kota metropolitan yang megah dan serba lengkap.

Tak jarang kenangan indah kotaku bergelayut manja dalam benak, ada rindu yang memanggil-manggil untuk segera pulang dan menikmati gemerlap lampu kotaku yang selalu terjaga. Bayangan teman-teman sejawat, sahabat-sahabat yang begitu dekat, lingkungan rumah yang memikat dan keluarga yang selalu menjadi penyemangat semakin membuat aku lemah dan nyaris menyerah. Seketika aku tersadar jika cita-citaku sudah ada di depan mata dan hanya butuh selangkah lagi untuk mewujudkannya menjadi nyata.

Waktu terus berlalu meninggalkan kenangan masa lalu, aku merasa bukan lagi si ABG yang lugu dan mudah terpedaya oleh mimpi semu. Kini aku sudah menjadi manusia tangguh dan tak mengenal keluh, pengalaman yang membuatku kuat dan tak mudah rapuh meski ada harapan lain yang tak sempat aku raih hingga menyisakan separuh luka. Sakit itu masih terasa terlebih jika mengingatmu dan kenangan kita di kota seberang. Aku merindukan kotaku namun aku tak ingin menguak kembali luka itu jika nanti aku pulang, biarlah aku tetap di kota ini dengan kedamaian hati, mungkin suatu saat nanti ada hati lain yang bisa menyulam luka itu menjadi senyum penuh bahagia.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE