Seruni dan Mawar

Namanya cantik secantik parasnya, suaranya lembut selembut kapas, perangainya indah seindah pelangi saat menghiasi awan kala hujan. Sungguh ciptaan Tuhan yang kuasa dengan segala kesempurnaanNya. Hati Seruni yang suci tanpa celah noda membuatnya tegar menghadapi segala realita kehidupan. Seruni hanya hidup dengan senyum demi seutas masa depan. Simbol kekuatan wanita ada pada dirinya, semangat mengarungi kerasnya hidup ada pada jiwanya, pemberontakan oleh penindasan kaun Hawa selalu bersemayam dalam hatinya. Cinta sejatinya hanya pada seorang lelaki yang penuh kharisma jati diri, sosok pria yang hanya ada dalam imajinasi dan mimpinya.

Lelaki itu harusnya bangga dengan kasih sayang Seruni, namun egoisme pribadinya lebih dominan dibanding sifat sabar. Melindungi dan menyayangi yang sejatinya adalah kewajiban kaum Adam, terabaikan dan terkikis oleh peradaban modern. Namun itu bukan alasan untuk mengurangi takaran cintanya pada lelaki itu, kegigihan dan keteguhan hati membawanya ke haribaan sejati. Dengan mengerahkan semua kekuatan untuk mempertahankan cintanya agar tak lekang oleh perihnya sakit hati. Namun lelaki itu sungguh tak mengerti, masih bahagia dalam kepura-puraan, mengelabui suara hatinya yang sangat merindukan Seruni. Batu sekeras apapun akan terkikis oleh air yang jatuh terus-menerus, sekeras apapun hati sang lelaki itu akhirnya luluh juga.

Malam itu penantian Seruni tak sia-sia, keteguhan cintanya yang tulus dan suci berbuah manis. Sinar bulan berpadu dengan gemerlap bintang, seakan mengukuhkan kebahagiaannya. Senyum indah merekah bak delima memancarkan aura gadis yang sempurna, hanya lelaki bodoh yang tak bisa meraih hatinya. Namun lelaki yang dinanti bukan lelaki bodoh. Lelaki itu akan datang menemui Seruni, cinta yang telah lama disia-siakan, cinta yang penuh pengorbanan demi sebuah kata sejati, cinta yang akan membawa mereka ke ujung penantian panjang.

Dingin mulai menusuk raga, bulan mulai meredup sinarnya, bintang mulai berlari terkejar awan mendung. Malam semakin gelap dan teriakan binatang malam mulai bersahutan, Seruni tetap berdiri di samping jendela yang masih terbuka. Kekuatan cinta masih setia menemaninya, namun jauh dalam lubuk hatinya tersirat keresahan, kegundahan, dan kegelisahan andai lelaki itu tak datang. Seruni pun duduk dan menutup sebagian jendela kamar, detik jam begitu terasa, namun bayangan lelaki itu belum juga nampak. Air mata Seruni menetes dengan perasaan pilu, dinginnya malam membekukan kebahagiaan jiwanya, kecewa yang sangat menguras batih. Akhirnya Seruni merebakan diri di tempat peristirahatan, mencoba melepas penat dan berharap detik-detik terakhir memejamkan mata, lelaki itu akan datang. Antara khayalan dan mimpi tak punya sekat, Sampai mata itu pun terpejam karena kelelahan, jiwa itu pun sesaat berhenti berdetak karena keletihan, dan bersiap mengarungi mimpi yang benar-benar nyata.

Mentari pagi menyapa bumi dengan sinar cerahnya. tetesan embun menyejukkan hawa alam dengan kejernihan airnya. Suara kicau burung memangil-manggil Sang Pencipta alam, lambaian nyiur seakan tak pernah lelah dengan cuaca alam. Seruni membuka mata, menghela nafas panjang dan sejenak sadarkan raga. Tiba-tiba dalam dekapannya terlihat setangkai mawar, mawar merah yang harum semerbak daun kasturi, mawar yang masih segar setelah tumbuh dari tamannya, mawar yang mengisyaratkan sesuatu. “Semalam dia datang.” suara hati Seruni tak henti-hentinya tersenyum. Kesedihan sepanjang hidupnya sekarang sirna tak berjejak, dan berganti dengan kebahagiaan yang akan abadi hingga akhir hayat.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE