Seperti Kekasihku

Pagi yang cerah, semilir angin berhembus menyegarkan raga. Sinar mentari menyeruak disela-sela jendela menerpa wajahku yang masih terlelap pulas di peraduan. Hari ini aku ingin memanjakan diri bergumul dengan rasa malas, hari libur yang membuat aku bebas melepas penat dan menghempas lelah sejauh mungkin, namun tetap tak bisa melenyapkan rindu yang menari-nari dalam hati. Seketika ingatanku menerawang pada sosok lelaki bermata bulat, berkulit coklat terang mengkilat. Namanya Adit, dia adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki setidaknya hingga saat ini sebelum esok dia berangkat ke Australia melanjutkan studi S2-nya.

Sejak awal kuliah kami sudah berteman dekat seakan tak bersekat, seperti tumpukan buku yang setiap hati kami lahap dengan sigap. Ya, kami punya hobi yang sama yaitu, membaca. Adit suka buku sosial politik yang membuat vocal-nya makin garang saat berorasi dan menyerukan suara ketidakadilan yang dirasakan rakyat, sedangkan aku tergila-gila dengan buku sastra yang setiap bait syairnya punya sejuta makna hingga aku terbuai lunglai tak berdaya. Perpustakaan menjadi tampat favorit kami kala senggang, tempat kami saling berbagi bercerita tentang koleksi buku masing-masing, tentang perjalanan cintanya yang mulus tanpa celah. Adit yang smart, ramah dan humoris membuatnya tak sulit merengkuh hati wanita yang dia suka, dan julukan playboy pun melekat pada dirinya. Namun itu tak mengusik persahabatan kami hingga kami bisa menyelesaikan kuliah dan meraih gelar sarjana.

Aku masih enggan beranjak dari peraduan, perang batin memaksaku untuk meyakinkan hati jika perasaan ini hanya khayalan bukan kenyataan. Aku akan kehilangan senyumnya, kehilangan tatapan indahnya, kehilangan sosok pendengar setiap keluh kesahku, batinku bergejolak ada rasa yang tak seharusnya bersemayam. Aku tak ingin menodai persahabatan ini dengan rasa rindu yang menggebu, rindu seorang wanita pada lelaki idaman, namun aku sungguh tak kuasa menahan keberadaannya dan membiarkan rindu ini menjelma jadi rasa cinta yang nyata.

Kekagumanku pada sosok Adit membuat hatiku luluh, bebas dan lepas setelah sekian lama terpasung oleh luka yang tak kunjung sembuh, sakit hati akibat kesetiaan yang tersiakan oleh Raka kini sirna tak berbekas, ia memilih bersanding dengan wanita sepuh yang lebih pantas dia panggil Ibu, apalagi kalau bukan karena harta yang menggelapkan matanya. Sejak saat itu aku mengunci rapat-rapat pintu hatiku, mengumpat sejahat-jahatnya pada semua lelaki hingga akhirnya aku mengenal Adit, Adit lah yang mengajarkanku arti hidup dengan membuka lembaran baru tanpa harus meratapi kisah masa lalu yang karam diterjang ombak kemunafikan.

Malam kian larut langit pun hampa tanpa bintang yang benderang, aku diam terpaku menahan lidah yang kelu entah ucapan perpisahan seperti apa yang akan aku katakan pada Adit. Kami saling memandang di tengah keramaian bandara, berpayung sorot lampu yang tak pernah lelah berpijar. Adit berdiri gagah di hadapanku berjaket parasut biru dipadu jeans hitam dan tas ransel besar di punggungnya. Cukup lama kami saling menatap dan terdiam seakan meresapi detik-detik perpisahan yang akan membawa sejuta kenangan, ada rasa takut kehilangan hingga air mata yang menggantung tak kuasa aku bendung dan akhirnya jatuh menyisakan jejak di pipi. “Kamu jangan nangis, makin jelek tau,” Katanya sambil mengusap rambutku. Dia berusaha menghibur hatiku yang terisak. “Siapa yang nangis?” Jawabku lirih. Aku seka air mata dengan lengan baju, menyembunyikan kerikil rindu yang menghujam dada.

Langkah Adit perlahan menjauh dari pandangan, aku tak kuasa menahan haru bercampur deru rindu yang melaju bersama cinta yang tak mampu aku bendung. “Adit..!!” Teriakku, aku lalu berlari ke arahnya sebelum dia benar-benar menghilang.“Adit, aku sayang kamu,” Ucapku lirih. Seketika batinku berkecamuk hebat. Dari sekian banyak sorot mata yang ditujukan pada kami, ada perasaan lega setelah aku tahu ternyata Adit juga memendam rasa padaku. Rasa yang sama meski selama ini kami berusaha menutupinya dengan malu dan ragu. Aku pun merelakan dia pergi dengan perasaan berbunga-bunga, dengan senyum yang merekah dan bersama untaian doa semoga dia baik-baik saja di sana.

***

Kami menjalani hubungan jarak jauh. Meski berat,tapi kami berusaha kuat dan saling berbagi kabar lewat dunia maya, meski hal itu tak benar-benar melepas rindu kami yang menggunung. Kepercayaan menjadi satu hal yang sering kami perdebatkan, terlebih jika aku melihat komentar-komentar di Facebook-nya, saling berbalas mention Twitter yang kebanyakan cewek, tak heran memang karena sejak dulu Adit dikenal mudah bergaul dengan wanita manapun. Kesabaranku sebagai wanita dan kekasih pun diuji, aku jadi lebih sensitif bahkan cenderung over posesif mungkin aku takut kehilangan Adit, entahlah. Aku bahkan bingung dengan perasaan aku sendiri.

Puncaknya ketika kami bertengkar hebat dalam obrolan chatting Yahoo Messenger. Adit memintaku untuk tak terlalu ikut campur dengan kehidupan sosialnya di dunia maya, dia merasa terkekang seakan tak menemukan kenyamanan dalam menjalin pertemanan yang kini membuatnya makin eksis sejak dia kuliah di luar negeri. Aku tak terima jika dikatakan terlalu mengawasi semua gerak-geriknya di alam maya, aku hanya tak ingin perhatiannya berkurang bahkan perlahan hilang gara-gara hobinya itu. Dia bahkan mengatakan jika perhatianku lah yang tak ada buatnya, aku terlalu sibuk dengan kerjaan, pergi pagi pulang malam. Hanya mengejar karir dan jabatan hingga lupa jika aku punya kekasih yang butuh perhatian, begitu katanya. Aku lebih memilih tak melanjutkan obrolan itu, belum hilang lelah fisik setelah pulang kantor kini pikiranku pun harus dipaksa bekerja tanpa jeda. Empat hari sudah kami lost contact, YM-ku pun sunyi tanpa nada pesan dari Adit. Akun Facebook dan Twitter-nya pun tak bisa aku akses.

Hari libur ini aku manfaatkan untuk refreshing ke toko buku. Sejak dulu Aku dan Adit sering menghabiskan liburan akhir pekan dengan mengunjungi toko buku, entah untuk membeli buku terbaru atau sekadar melihat dan membaca-baca buku favorit masing-masing. Saat aku berdiri di depan rak buku sastra sambil memegang buku “Bekisar Merah” karya Ahmad Tohari, pandanganku sedikit terusik oleh lelaki yang berdiri tak jauh dariku, di depan rak yang berisi buku-buku motivasi dan kepemimpinan. Penampilan lelaki itu tampak elegan dengan balutan kemeja lengan panjang, celana kain mengkilat dan potongan rambut rapi. Tiba-tiba ingatanku menerawang pada sosok Adit, ya wajah dan gaya lelaki itu mirip dengan Adit. Aku pernah melihat Adit berpakaian seperti itu, ketika kami menghadiri acara ramah-tamah fakultas. Adit tampak gagah waktu itu, mirip sekali dengan lelaki yang sekarang aku lihat. Jika aku tak benar-benar sadar mungkin aku akan menyangka dia Adit.

“Heloo, heloo. Ada yang salah dengan penampilanku, mbak?” Aku terhenyak, ternyata sejak tadi aku menatap lelaki itu sambil menghayal dan lelaki itu melambaikan tangannya di depan wajahku hingga aku pun tersadar. “Oh, maaf mas. Nggak ada yang salah kok,” Jawabku gugup. “Panggil aku Ricky, Suka buku sastra?” Ujarnya. “Aku Vigga. Lebih tepatnya hobi baca buku sastra.” Dari perkenalan singkat itu aku tahu kalau Ricky adalah manager di sebuah bank ternama di kota ini. Sebagai seorang pimpinan yang baru menjabat dua bulan yang lalu, dia membutuhkan referensi dari buku-buku yang membahas tentang kepemimpinan dan motivasi untuk diaplikasikan pada bawahannya. Kami terlibat obrolan ringan disela-sela waktu kami membaca buku hingga akhirnya kami saling berbagi nomor pin sesaat sebelum pulang.

Dalam kegalauan hatiku pada Adit yang tak juga ada kabar berita. Ricky hadir mengisi hari-hariku dengan kata-kata penyemangat serta sikap humornya yang membuatku kembali tersenyum. Sosoknya yang ramah, santun dan pemikirannya yang dewasa menjadikan aku tak sungkan meminta saran jika aku punya masalah dan butuh pendapat orang lain. Di akhir pekan kami kadang janjian bertemu di toko buku, ngobrol-ngobrol di kafe atau makan siang bareng disela-sela kesibukan kerja. Aku merasa nyaman berada di dekatnya, aku selalu membayangkan sosok Adit hadir dalam diri Ricky dan itu membuatku merasa lebih dekat dan bahagia. Kadang aku merenung dan merasa bersalah karena selama ini aku hanya memanfaatkan kebaikan Ricky untuk mencurahkan rinduku pada Adit, aku merasa Ricky itu seolah nyata adalah Adit.

Di suatu siang, aku dikejutkan suara panggilan handphone dan nama Adit terpampang di layar. Saat itu aku sedang makan siang bersama Ricky, tempatnya berada di pusat mal yang cukup ramai. “Vigga, kamu di mana?” Suara Adit terdengar samar. “Aku lagi makan siang,” Jawabku sedikit teriak menyeimbangkan suaraku dengan suasana sekitar yang riuh. Sambungan telepon terputus, namun rasa kagetku masih terasa karena seingatku Adit hanya menelfonku saat pertama dia tiba di Australia, selebihnya dia hanya memberi kabar via email, YM atau BBM. Sempat terlintas niatku untuk menelfon balik tapi tiba-tiba niat itu lenyap bersama canda tawaku bersama Ricky.

Keterkejutanku ternyata berlanjut hingga depan kantor, saat aku turun dari mobil Ricky, aku melihat Adit dengan tas ransel besar dan koper travel berdiri di pos sekuriti kantorku. Aku shock, jantungku berdegup kencang. Aku tak ingin dia salah paham, segera aku menghampirinya namun sesegera itupula dia memanggil taksi lalu pergi tanpa sempat mendengar penjelasanku. Hari ini aku benar-benar lunglai, hatiku tercabik oleh perbuatan aku sendiri, rasa sesal yang menyeruak pun terasa sia-sia. Handphone-nya non aktif, satu-satunya cara aku harus ke rumahnya setelah pulang kantor.

***

“Aku ingin memberimu kejutan, tapi ternyata kamu yang membuatku lebih terkejut,” Kata Adit dengan raut muka muram dan penuh amarah. Suasana sore yang sejuk, semilir angin yang berhembus lembut di teras rumahnya seakan membakarku dalam penyesalan. “Mungkin sebaiknya aku menghabiskan liburan kuliah di Australia saja, daripada di kota ini hanya untuk melihatmu bersama lelaki lain,” Sambungnya dengan nada suara berat. Aku hanya tertunduk lesu, tak mampu berucap meski sebenarnya banyak yang ingin aku jalaskan. “Aku hanya berteman dengan Ricky, tak lebih,” Ujarku lirih. “BOHONG…!!” Bentak Adit. Membuat air mataku terhampas deras, hatiku luka tersayat oleh kata-katanya yang tak sepenuhnya benar. “Aku akui aku salah, aku terobsesi dengan sosokmu yang mirip dengannya dan hubunganku kami hanya sebatas teman, tak lebih dari itu. Aku sayang kamu, Dit.” Suaraku terisak, dadaku terasa sesak.

Tiba-tiba obrolan kami terhenti oleh suara klakson mobil, “Ricky?” kataku dalam hati. Sosok Ricky kini sudah berada di tengah-tengah kami. Adit sempat ingin memukul Ricky tapi aku mencegahnya, “Jangan bodoh Dit, kamu jauh-jauh kuliah di Australia tapi kelakuanmu kayak preman,” kataku geram melihat emosi Adit yang tak terbendung. Ricky bisa sampai ke rumah Adit setelah mengikutiku pulang kantor tadi. Ricky mengungkapkan permohonan maaf  pada Adit jika pertemanannya denganku membuat Adit cemburu. “Hubungan kami murni hanya teman biasa, meski Vigga tak pernah cerita kalau dia punya kekasih. Tapi aku bisa menangkap dari setiap curhatnya tentang pria yang selau dia rindukan jauh di sana, pasti itu kamu,” Kata Ricky dengan sikapnya yang tenang dan tutur katanya santun. “Bulan depan aku mengundang kalian di acara pernikahanku, aku sangat ingin melihat kalian hadir,” Sambil menyodorkan  kartu undangan berwarna putih. Suasan tegang akhirnya mencair setelah bunda Rika, mamanya Adit datang membawa teh dan pisang goreng menemani sore yang beranjak petang.

Adit pun tersenyum dan meminta maaf karena telah berperasangka buruk padaku juga pada Ricky. Kami bertiga larut dalam obrolan penuh canda tawa dan melupakan semua kejadian pahit yang mengusik rindu dan sayang. Suatu hubungan bukan saja dibangun dengan saling percaya, namun butuh kejujuran dan rasa saling memiliki hati agar mampu menghadapi segala macam rintangan yang mendera. “Dia memang seperti kekasihku, tapi dia tak akan pernah bisa menggantikan hadirmu dalam hidupku.”

*Semarang 12-12-12

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE