Sepakbola Indonesia Butuh VAR

Bigmatch antara Persija dan Persib berakhir antiklimaks, pertanding berakhir di menit 84. Aksi walk out pemain Persib menjadikan laga tersebut terhenti dan membuat banyak pihak kecewa.

Duel dua tim besar tanah air antara Persija kontra Persib dalam lanjutan Liga 1 memang selalu menyita perhatian pencinta sepakbola tanah air, bahkan tak kadang para suporter kedua tim berakhir ricuh demi mempertahankan gengsi klub kebanggaan mereka. Mungkin mereka menganggap harga diri klub adalah segala-galanya dan sudah sepatutnya dibela mati-matian, meski harus menepikan logika.

Saya bukan pencinta klub sepakbola Indonesia kecuali saat timnas yang bertanding, saya selalu antusias untuk menyaksikan pertandingannya sampai selesai. Tapi kalau untuk klub, saya hanyalah penonton biasa yang lebih sering melewatkan laga-laga yang digelar dalam sebuah format kompetisi yang entah kenapa selalu berubah setiap musimnya.

Kembali ke laga yang berjuluk “Derby Indonesia” yang beberapa hari ini ramai diberitakan dan diperbincangkan, apalagi kalau bukan gol Ezechiel N’Douassel yang dianulir padahal sudulan pemain asal Chad tersebut sejatinya sudah melewati mistar gawang namun wasit tak meniup peluit tanda terjadinya gol.

Tentu saja pemain Persib protes, namun wasit tetap pada pendiriannya menganggap itu bukan gol. Kejadian tersebut membuat pemain Persib enggan melanjutkan pertadingan sesaat setelah jeda babak pertama, namun akhirnya Persib mau melanjutkan pertandingan setelah sebelumnya diperingati oleh wasit.

Puncak kekecewaan kubu Persib terhadap kepemimpinan wasit pecah ketika Vladimir Vujovic dikartu merah di menit 84, kalimat kurang pantas yang dilontarkan Vlado setelah menerima kartu kuning membuat wasit tak segan mengganjarnya dengan kartu merah. Insiden tersebut justru memicu official Persib untuk menarik pemainnya ke luar lapangan dan memilih untuk tidak melanjutkan laga meski sudah diperingati oleh wasit.

Sepakbola Indonesia Butuh VAR

Teknologi Video Assistant Referee atau VAR kini sudah digunakan di liga-liga top Eropa, meski menuai pro dan kontra teknologi berformat video tayangan ulang tersebut sukses diterapkan pada Piala Konfederasi 2017 di Rusia. Liga Italia merupakan salah satu kompetisi yang musim ini menggunakan teknologi VAR, ketika terjadi insiden krusial di dalam kotak pinalti, proses terjadinya gol, atau keputusan pemberian kartu yang luput dari pandangan wasit. Sang pengadil lapangan bisa melihat tayangan ulang sebelum mengambil keputusan.

Memang penerapan teknologi VAR di sepakbola masih menyisakan banyak kekurangan, seperti butuh waktu satu hingga dua menit bagi wasit dan operator untuk menganalisa hasil tangkapan VAR yang membuat tempo permainan jadi terhambat. Selain itu nilai emosional pemain ketika melakukan selebrasi setelah mencetak gol jadi berkurang karena bisa jadi wasit menilai pemain tersebut sebelumnya terperangkap offside atau pelanggaran melalui tayangan VAR.

Namun di luar itu semua, penggunaan VAR pada laga-laga sepakbola internasional sejatinya sangat membatu wasit dalam mengambil keputusan, terutama saat proses terjadinya gol.

Andai Indonesia sudah memanfaatkan teknologi VAR mungkin hasil akhir pertandingan antara Persija dan Persib bisa berbeda, dan perdebatan setelah pertandingan pun bisa diredam. Publik tanah air tak perlu menyalahkan pemain lawan yang dianggap tidak sportif karena tidak ikut memprotes keputusan wasit yang dinilai keliru.

Mungkin benar apa yang dikatakan Bambang Pamungkas dalam tulisannya “I’am Still Human” bahwa sudut pandang pelaku sepakbola dan penikmat sepakbola itu selalu berbeda, jika pelaku sepakbola melihat sepakbola berdasarkan pemahaman, sedangkan penikmat berdasarkan fanatisme.

Setelah gol Ezechiel yang tak dianggap wasit, bola tersebut dikuasai oleh Bepe. Karena tidak ada peluit tanda terjadinya gol maka Bepe terus menggiring bola meski ada sedikit keraguan terhadap keputusan wasit yang tak mengesahkan gol Ezechiel. Setelah pertandingan, banyak komentar khususnya dari pendukung Persib yang menilai sikap Bepe seharusnya ikut memprotes keputusan wasit dan meminta wasit untuk mengesahkan gol tersebut.

Suporter yang Dewasa

Fanatisme pendukung tim sepakbola sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari permainan kulit bundar tersebut, namun kadang fanatisme yang berlebihan tanpa diimbangi dengan sikap kedewasaan tentu akan berdampak kurang baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Saya kadang iri melihat kedewasaan suporter-suporter tim Eropa yang selalu mendukung timnya bahkan disaat kondisi sulit sekali pun.

Saat tim kesayangannya menang mereka tentu bersorak-sorai merayakan, namun saat timnya kalah dukungan yang mereka berikan pun tak kalah hebatnya. Itulah arti dari suporter yang sesungguhnya. Saya teringat apa yang dikatakan legenda hidup Inter Milan, Javier Zanetti saat timnya berada dalam masa-masa sulit yang ditujukan kepada pendukung setianya. “Jika kalian tak ingin mendukung kami disaat kalah, maka jangan bersorak ketika kami menang”

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE