Senyum Ibu

Pagi yang cerah, sinar mentari memancarkan cahaya kemilau penuh hangat. Hari ini adalah hari yang sangat istimewa buat ibu, ibu yang kini berada jauh di pulau seberang, ibu yang selalu menjadi tempat pelarianku disaat keluh kesah merajalela. Ini kali pertama aku mengucapkan selamat ulang tahun dari ujung telepon, aku tak bisa menjabat tangannya, memeluknya dan mengecup keningnya, rindu seakan meledak ketika aku mendengar suara ibu yang serak namun tetap lembut mungkin ibu kelelahan setelah melaksanakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga.

Aku menanyakan kabar, Alhamdulillah ibu baik-baik saja dan di hari bahagianya tak banyak yang ibu inginkan, hanya berdoa semoga Allah selalu memberi kesehatan dan keselamatan pada semua orang-orang yang ibu sayangi. Aku terharu, tak terasa derai air mata berjejak di pipi ingin rasanya memeluk ibu dan menumpahkan kerinduan yang sudah menggunung. Aku sebagai anak menyadari kalau selama ini belum mampu membahagiakan ibu, sekadar mewujudkan harapannya untuk melihatku duduk di pelaminan pun belum sempat aku penuhi.

Ibu hanya berpesan agar aku segera memikirkan masa depan dengan menemukan seorang pendamping hidup, ibu sudah beranjak senja dan tentu sebuah kebahagiaan jika melihat anak bungsunya telah menjadi orang dewasa yang sesungguhnya dengan menikah, kata ibu. Aku hanya diam meresapi setiap kata yang ibu lontarkan, aku menjawab Insya Allah aku akan segera wujudkan harapan ibu meski aku sendiri belum tahu kapan. Suasana hening sejenak, aku masih berkompromi dengan rasa rindu yang semakin menggebu hingga diakhir percakapan ibu melantunkan doa penyemangat untuk anaknya yang manja ini. Selamat ulang tahun Ibu.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE