Senja pun Setia

Menikmati senja di kota seberang yang jauh dari kenangan dan angan, berharap suatu saat cinta itu akan terkembang meski penantian tak kunjung datang. Belajarlah dari senja yang selalu setia kala sore menjelang petang, sinarnya makin menawan saat warna jingga mengukir langit dengan indahnya. Mata tak akan lelah menatap dan raga tak akan pernah lelah berpijak kala menanti senja yang selalu setia, seperti rindu yang menghujam pilu tak pernah ada yang tahu jika ada cinta yang bersemayam dalam qalbu.

Aku menyukai senja seperti aku menyukai engkau yang penuh imaji dan obsesi, terbesit khayal jika suatu saat nanti kita bisa bersanding dalam mahligai suci dan marajut janji sehidup hingga mati. Tak ada yang meragukan kesetiaan senja pada sore menjelang petang, seperti itulah kesetiaan cinta yang aku ibaratkan padamu. Kata-kata khiasan yang terlalu tinggi memang, namun itulah rasa yang sebenarnya dan telah mengakar kuat dalam jiwa.

Aku berada di suatu kota yang jauh dari tempatmu berpijak, hanya berteman sunyi, sepi dan sendiri. Bukannya aku takut dengan mimpi yang berselimut ragu, entah nanti pada siapa aku mengadu ketika rindu ini menggebu hingga membuatku jatuh dan rapuh. Engkau yang aku anggap belahan jiwa malah tak pernah manganggapku ada, rasa yang aku pendam pun terendap dalam lara yang menyiksa raga. Sesal pun hadir diantara resah dan amarah.

Aku masih setia menanti senja seperti aku setia menanti hadirmu, meski aku harus bertarung dengan waktu dan mengorbankan mimpi yang telah terajut rapi. Aku masih menyukai senja seperti aku menyukai engkau meski senyum tak lagi tergurat dari lesung pipimu yang merona. Aku tak takut dengan sesal karena aku yakin menantimu bukanlah hal yang sia-sia, kelak takdir akan mempertemukan kita meski entah itu di mana? Aku pun tak tahu.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply to YusTin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE