Sekolah Baru

Tak lama lagi usianya genap empat tahun, masa di mana anak seusianya penuh dengan keingintahuan. Masa di mana seorang anak selalu mencari hal-hal baru dan menantang.

Evan kini tumbuh jadi anak yang aktif. Kegemarannya bermain mobil-mobilan dan naik sepeda roda tiga membuatnya betah berlama-lama bermain sampai lupa waktu, bahkan adiknya yang ingin ikut bermain pun ia larang. Ia kadang terlalu asyik dengan dunianya, dunia khayalan tentang mobil balap, mobil truk, mobil polisi, dan mobil pemadam kebakaran. Tempat tidur jadi lahan bermain favoritnya, tiap sisi kasur penuh dengan mobil-mobilan yang berjejer rapi dan tak jarang ia tertidur dengan sebuah mobil-mobilan di tangan.

Anak seusianya memang sudah ada yang sekolah PAUD dan sejak usia 2,5 tahun Evan sudah beberapa kali diajak berkenalan dengan sekolah PAUD yang ada di dekat rumah, tapi saat itu ia belum berani dan tak mau ikut sekolah PAUD. Sebagai orangtua tentu tak ingin memaksa anak agar mau sekolah, tentu saja dengan pertimbangan akan berdampak dengan kondisi psikologinya kelak. Tapi syukurlah sekarang Evan sudah mau sekolah PAUD, ia pun senang dengan aktivitas barunya di sekolah bersama ustazah dan teman-teman seusianya.

Kesiapan anak

Mengetahui kesiapan seorang anak saat masuk ke dunia pendidikan memang sangat penting, jangan sampai keinginan orangtua agar anaknya segera sekolah dan berharap bisa cepat membaca dan menulis justru akan berdampak buruk pada mental dan psikisnya.

Jenjang pendidikan anak usia dini seperti Evan memang ada di sekolah PAUD sebelum masuk ke sekolah TK, namun memulai pendidikan anak di sekolah PAUD bukanlah sebuah kewajiban karena pada dasarnya sekolah PAUD dan TK adalah sama-sama sekolah pendidikan anak usia dini. Tapi sekarang ada kecenderungan sekolah PAUD dijadikan sebagai sekolah pemanasan dan mematangkan kesiapan anak sebelum masuk ke sekolah TK.

Evan secara usia memang belum bisa masuk sekolah TK namun dari cara ia berkomunikasi, bersosialisasi, berimajinasi, serta pertumbuhan motoriknya yang termasuk cepat dibanding anak lain seusianya membuat ia sebenarnya sudah layak sekolah di TK. Seperti disela-sela keasyikannya bermain kadang ia sambi dengan menghafal surah Al-Fatihah, bercerita tentang kisah kancil dan buaya sesaat sebelum tidur, dan menyanyikan beberapa lagu anak dengan fasih.

Namun mengenalkan anak pada dunia pendidikan tak hanya melihat dari faktor kesiapan anak saja tapi ada juga syarat usia minimal yang harus diperhatikan oleh orangtua. Kondisi tumbuh kembang anak pasti berbeda-beda, Evan memang saya anggap sudah layak dan siap masuk TK jika berkaca pada perkembangan mental dan psikisnya. Namun dari sisi usia, Evan masih anak usia dini yang butuh wadah untuk menyalurkan aktivitasnya agar lebih terarah sambil menunggu usianya ideal saat masuk TK.

Peran Orangtua

Orangtua punya peran penting dalam mengenalkan pendidikan pada anak, khususnya pada anak usia dini sebagai pondasi untuk mengenal beragam pengetahuan yang kelak ia pelajari. Anak usia dua hingga tiga tahun adalah usia emas dengan intensitas bermain dan keingintahuannya terhadap hal-hal baru hampir sama banyaknya. Jadi sebaiknya disela-sela aktivitasnya bermain bisa diselipkan pengetahuan tentang angka atau huruf dan pelajaran dasar lainnya.

Tantangannya tentu saja tak mudah, anak di usia tersebut sudah mengerti apa-apa yang ia suka dan tidak suka. Jadi bisa saja di awal-awal perkenalan atau saat pertama kali diajarkan sesuatu, ia akan acuh tak acuh dan lebih memilih bermain. Orangtua dituntut untuk ekstra sabar, apalagi pada anak yang super aktif. Butuh proses sedikit demi sedikit agar anak mau belajar dan sebaiknya lakukan mulai dari hal yang sederhana dulu, seperti menghafal doa makan, doa tidur, mengucap salam, dan lain sebagainya.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE