See U…

Sekian tahun berlalu, tak terasa waktu mempertemukan lelaki dengan sang ‘White Rose’. Seperti penjelajah gurun pasir yang menemukan mata air yang bening dan segar, seperti para petani yang merindukan hujan setelah sekian lama bergelut dengan kemarau yang panjang. Sungguh fatamorgana yang menjadi nyata dan khayalan yang menjelma jadi sebuah kenyataan indah. Langkah kaki seakan ragu saat ingin menuju singgasana sang mawar putih, terbesit rasa tak yakin karena masih tak percaya dengan adanya keajaiban. “Melangkahlah, tujuanmu hanya untuknya. Melihat sejenak sang mawar berbunga dan mekar indah.”

Seketika kekuatan bergejolak dengan sekuat hati, berharap langkah itu adalah keputusan hati. Melihatlah dengan mata batin jauh ke dalam lubuk hati, bahwa secerca impianmu ada di sana. “Kabahagiaan ini tak bisa tersembunyikan dalam senyum, ingin berteriak dalam kesunyian kata.” Entah yang terasa itu angkuh atau rendah diri, namun memang hal yang sangat sulit untuk sekedar dilukiskan dengan pena kahidupan. Moment bukan sekedar moment, karena dalam jejak peristiwa ada ungkapan perasaan yang telah lama terbelenggu oleh takdir Tuhan. Hanya tangan yang tak lelah untuk menengadah memohon ampun dan magfirah.

Saatnya untuk pergi, tak terasa waktu berlalu sangat cepat. Kata yang terucap hanya se-bait namun berjuta makna yang terlontar dan tersirat. Cerita ringan dan menyejukkan serta tawa yang menyelingi suapan dari hidangan istimewa, tak ingin rasanya beranjak dari singgasana itu. Namun tempat ini hanya untuk sang mawar putih, tempatnya berbunga dan mekar bersama peri-peri kecil yang lucu. Sungguh iri hati ini melihat kebahagiaan itu, ingin merasakah tertawa dan tersenyum lepas merupakan impian yang masih menjadi impian. Saatnya pergi, moga suatu saat nanti bisa kembali melihat senyum dan tawa itu.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE