Sebelum Bulan Madu

Setelah menyelesaikan hajatan besar dan beristirahat sejenak untuk mengembalikan kebugaran fisik, kini saya kembali pada rutinitas sehari-hari. Kurang lebih sebulan yang lalu disibukkan dengan persiapan pernikahan hingga tiba puncak acara yang tentu saja menguras tenaga dan pikiran, saya pun melewatkan banyak waktu untuk menulis padahal tak sedikit kejadian-kejadian menarik yang saya alami selama menikmati liburan. Saya coba menulis kembali beberapa kejadian yang masih tersimpan dalam ingatan, mungkin ini salah satu cara untuk menggugah kembali semangat menulis yang perlahan mulai tertidur pulas.

Layaknya pasangan pengantin baru pada umumnya yang merindukan bulan madu sebagai kado pernikahan yang istimewa, saya dan istri pun berencana menghabiskan sisa cuti dengan berlibur. Namun padatnya acara keluarga yang antre untuk dihadiri memaksa saya dan istri agar sejenak memendam hasrat pergi bulan madu. Seminggu setelah akad nikah, bersama istri dan beberapa keluarga saya dari Malang berangkat ke Camba, kampung istri saya yang berjarak sekitar 85 KM dari kota Makassar. Ini merupakan kunjungan pertama saya ke Camba sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga-keluarga dari istri yang saat itu sedang mengadakan acara pernikahan. Jalan yang sempit dan berkelok-kelok dengan hamparan tebing yang berdiri kokoh di kedua sisi jalan membuat nyali sedikit ciut, orang yang baru pertama kali ke Camba harus ekstra waspada dalam berkendara dan sebaiknya menyiapkan obat anti mabuk bagi yang suka mabuk ketika menempuh perjalanan darat.

jalan menuju Camba

Seminggu kemudian, saya dan istri kembali menghadiri acara pernikahan keluarga yang dilaksanakan pada akhir pekan. Prosesi akad nikah yang jatuh pada hari sabtu dan acara resepsi yang berlangsung pada minggu malam membuat saya dan istri kembali sibuk dengan beragam persiapan mulai dari kostum hingga menghadiri pesta di dua tempat yang berbeda. Sebelum pergi ke resepsi pernikahan keluarga, saya dan istri menemani orangtua ke acara pernikahan anak temannya yang kebetulan waktunya bersamaan dengan acara resepsi pernikahan keluarga dari istri. Jadi tak heran ketika kami tiba di Hotel Sahid tempat pesta pernikahan keluarga, sudah banyak tamu yang pulang. Namun untunglah makanan masih banyak, kami tak sempat menyantap makanan di pesta pernikahan sebelumnya (sengaja tak makan untuk mempersingkat waktu) agar tak terlambat mengingat waktu tempuh jadi lama karena macet. Kami pun menikmati sajian menu makanan diiringi hiburan musik yang merdu.

Minggu berikutnya, saya dan istri mendapat kado istimewa dari sahabat (tepatnya sahabat istri saya) berupa voucher menginap semalam di hotel Swiss-BelHotel International atau biasa disebut Swiss-Belinn. Hotel yang terletak di Jalan Boulevard Raya No. 55, Panakukang merupakan hotel bintang tiga bertaraf internasional. Lokasinya yang stategis berada di salah satu pusat perdagangan yang ramai di Makassar membuat akses menuju hotel tersebut sangat mudah. Hotel Swiss-Belinn juga bersebelahan langsung dengan Panakukang Mall, salah satu pusat perbelanjaan yang megah dan komplit yang ada di Makassar jadi kalau ingin jalan-jalan ke Mall tinggal menyeberang saja di jalur khusus yang ada di lantai dua hotel tersebut. Menginap satu malam di hotel Swiss-Belinn menjadi pelepas lelah buat saya dan istri setelah beberapa minggu sebelumnya disibukkan dengan beragam acara pernikahan keluarga, berlibur di hotel juga bisa menjadi agenda bulan madu singkat sembari mencari waktu yang tepat untuk benar-benar menikmati bulan madu yang sesungguhnya.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE