Sakit Inter Kumat Lagi

Ivan Perisic (inter.it)

Seperti beberapa musim sebelumnya, selepas pergantian tahun performa Inter bak roller coaster. Kekalahan dari Torino dengan skor tipis 1-0 dini hari tadi seolah menegaskan jika Nerazzurri seperti kehabisan pertamax di sisa kompetisi yang sudah setengah jalan. Berkaca pada musim lalu saat di awal kompetisi, skuad Biru Hitam tampil impresif bahkan tak tersentuh kekalahan hingga pekan ke-15. Namun penyakit inkonsistensi masih kerap melanda Mauro Icardi dkk sehingga butuh perjuangan ekstra keras agar bisa finish di posisi empat kala itu.

Musim ini sejatinya bayang-bayang penyakit inkonsistensi Inter mulai terlihat. Di mulai saat laga terakhir penyisihan grup Liga Champions awal Desember lalu, Inter hanya butuh satu kemenangan saat menjamu PSV Endhoven agar lolos kebabak 16 besar namun sayang hasil imbang 1-1 memaksa Inter turun ke posisi tiga dan merelakan peringkat dua pada Tottenham Hotspur. La Beneamata pun harus pasrah terlempar ke Liga Europa musim ini.

Di Serie A pun awal musim ini Inter tampil cukup menjanjikan, mampu bertahan di papan atas meski belum mampu menggoyah dominasi Juventus yang hingga saat ini masih jadi penguasa liga tertinggi di Italia tersebut dengan koleksi 59 poin, selisih 11 poin dari Napoli yang ada di bawahnya. Performa Inter musim ini sebenarnya biasa saja namun peringkat tiga yang kini diraihnya sedikit banyak tertolong oleh penampilan tim-tim di bawahnya yang juga tak konsisten.

Kini tim-tim di bawah Inter seperti AC Milan, AS Roma, dan Lazio mulai bangkit membuat posisi Inter di peringkat tiga kini tak lagi nyaman. Apalagi dalam dua laga terakhir Serie A si Ular Raksasa tak kunjung menang, imbang 0-0 saat menjamu Sassuolo dan kalah 1-0 ketika bertamu ke markas Torino. Tapi syukurlah di laga lain AC Milan di peringkat empat gagal memangkas jarak poin setelah hanya bermain imbang dengan Napoli. Begitupun dengan AS Roma yang bermain seri 3-3 dengan Atalanta dan Lazio yang kalah 1-2 dari Juventus.

Faktor Perisic

Luciano Spalletti tentu tahu keadaan Inter sekarang sedang sakit, sakit inkonsistensi yang tiap musim melanda dan harus segera dicari obat penawarnya jika Inter ingin tetap bertahan di papan atas atau setidaknya lolos ke Liga Champions musim depan. Memang selain persoalan mental dan performa yang masih labil, kisruh transfer pemain juga jadi salah satu faktor penampilan Inter yang melempem awal tahun ini.

Sudah bukan rahasia lagi jika pemain andalannya Ivan Perisic minta untuk dimasukkan ke list transfer klub musim ini, jika musim lalu Inter barhasil menghalau godaan MU yang sangat ngebet mendatangkan pemain asal Kroasia itu. Sepertinya musim ini peluang pemain berusia 29 tahun itu angkat kaki dari ruang ganti Inter terbuka sangat lebar, asal klub peminat menyanggupi banderol harga sang pemain.

Dan bukan rahasia juga kalau selama tiga musim sejak bergabung dari Vfl Wolfsburg tahun 2015 lalu ia kerap menjadi andalan di sektor sayap permainan Inter, jadi tak heran jika sebagian fans tak rela kehilangan pemain sekelas Ivan Perisic. Namun keinginan pemain sendiri yang ingin hengkang membuat klub tak bisa berbuat banyak, selain MU kini ada Arsenal yang kabarnya santer diberitakan ingin secepatnya mendaratkan pemain yang juga punggawa timnas Kroasia di Piala Dunia 2018 itu.

Gonjang-ganjing masa depan Ivan Perisic berdampak pada performanya di lapangan. Setelah penampilannya yang biasa saja bahkan disebut ogah-ogahan saat Inter ditahan imbang 0-0 oleh Sassuolo, di laga selanjutnya allenatore Luciano Spalletti benar-benar mencoretnya saat Inter bartandang ke markas Torino. Kehilangan Perisic memaksa Spalletti yang terbiasa dengan skema formasi 4-2-3-1 atau 4-3-3 dengan mengandalan sayap kiri yang biasa ditempati Perisic kini harus berganti formasi menjadi 3-5-2. Tentu penerapan formasi yang tak biasa itu berdampak pada permainan tim di lapangan.

Memang di laga dini hari tadi, Inter menguasai permainan hingga 64 persen namun untuk peluang terciptanya gol Inter hanya mampu membuat dua shots on goal dari 11 percobaan. Statistik tersebut memperlihatkan bahwa Nerazzurri masih ketergantungan pada seorang Ivan Perisic untuk mengacak-acak sisi kanan pertahanan lawan, selain dari skema permainan yang tak biasa yang diterapkan pelatih yang juga bisa menjadi penyebab kekalahan Inter tadi malam.

Sebagai fans layar kaca memang tak bijak mengambinghitamkan seorang pemain saat tim kebanggaannya menderita kekalahan, namun hal itu muncul karena harapan fans tersebut yang tak sejalan dengan kenyataan di lapangan. Pemain andalan pergi dan tim kesayangan kalah dengan permainan yang memang buruk. Semoga hasil minor tersebut bisa menjadi pelajaran dan membawa Inter meraih hasil lebih baik lagi di laga-laga selanjutnya. Forza Inter

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE