Sahabat

Sahabat adalah segalanya dalam hidup, ibarat jantung sebagai pusat kegiatan dalam tubuh atau ibarat dinamo yang menggerakkan mesin yang bertenaga besar. Sahabat tentu lebih berharga dari jantung atau dinamo tersebut, karena mereka tak bisa diandaikan dengan apapun berkat kasih sayang dan perhatiannya. Hidup akan lebih indah dengan kehadiran seorang sahabat, segala macam masalah dan tantangan hidup akan lebih mudah dilalui bersama seorang sahabat. Tanpa sahabat hidup akan terasa hampa, merasa sepi dengan dilema yang tersimpan sendiri dalam hati dan memikul sendiri beban masalah adalah sesuatu yang tak menyenangkan. Tanpa sahabat ibarat separuh jiwa yang hilang dan raga tak akan mampu merasakan indahnya dunia. Sahabat adalah tempat berbagi suka dan duka, meluapkan emosi dan mengurai derai air mata hanya pada seorang sahabat adalah kepuasan tersendiri, dan tak bisa dilukiskan dengan apapun.

Semasa kuliah dulu, aku mempunyai tiga sahabat, dari awal kuliah sampai kita sama-sama wisuda selalu bersama. Dari mereka aku mengenal arti seorang sahabat, yang kasih sayangnya akan selalu ada. Sahabatku yang pertama bernama (foto dari ujung sebelah kiri), dia biasa dipanggil Andi atau Panjul. Dia sahabatku yang paling kocak karena pandai melawak, lihat saja wajahnya yang imut kayak bayi (bayi kuda maksudnya..hehehe), dan bibirnya yang imut (kayak bibir bayi kuda maksudnya,,hihihi), dan karena bodynya yang paling kecil diantara kita berempat, makanya dia sering dijadikan bahan becandaan. Orangnya cuek dan apa adanya, hidupnya gak neko-neko dan dia biarkan nasibnya mengalir seperti air. Kenangan paling berkesan saat dia lagi pe-de-kate dengan cewek, dia merasa sudah menemukan cinta sejatinya, tapi takdir memang kejam akhirnya cintanya ditolak (untung dia gak bunuh diri,,).

Sahabatku selanjutnya bernama Ryan (foto kedua dari kiri), dia dipanggil Ryan (memang namanya pendek) tapi jangan salah, dia kayak tukang pukul karena badannya yang paling panjang alias gede diantara kita berempat. Namun dibalik badannya yang gede tersembunyi kelembutan hati seorang pria. Dia orangnya lumayan sabar dan sedikit plin-plan, masalahnya kadang diumpetin (klo ntut diumpetin sih gak apa-apa). Kita bertiga kadang memaksanya ngaku kalau dia lagi ada masalah, kadang pake strom listrik kayak di film-film perang,,hehehe. Kenangan paling berkesan, waktu itu kita berempat lagi makan di restoran lagi acara ultah gitu, mungkin saking laparnya dia makan pake dua sendok (yang lainnya pake sendok dan garpu). pas selesai makan, baru dia sadar kalau tadi dia makan dengan dua sendok (pantas saja dia paling cepat habis makannya). Uh..,, dasar Ryan.

Sahabatku yang terakhir bernama Bustam (foto ketiga dari kiri) dia dipanggil Bucek (bukan bucek Depp ya..) Mungkin diantara kita berempat dia yang paling lugu (bukan lucu dan guriting). maksudnya dia yang paling polos. Mengingat dia berasal dari desa yang sangat jauh dari kota, apa lagi dari ibukota? jauh banget. Kadang kita bertiga ngerjain dia dengan kepolosannya, tapi dia gak pernah marah malah minta tambah. Dia paling dituakan diantara kita bertiga (karena memang dia paling tua.) maksudnya dia duluan lahir dibanding kita bertiga dan dia kadang menasehati kita agar kembali kejalan yang benar dan bertobat (wah cita-citanya jadi ustad). Kenangan yang paling berkesan. Dia pertama kali merasakan pacaran dengan cewek (mahasiswa baru), mungkin karena dia merasa sudah gak cocok, dia minta putus sama tuh cewek. Tapi cewek itu gak mau putus, alasannya karena cewek itu sayang banget sama dia. Dia mulai menjaga jarak dan menjauh dari tuh cewek, tapi si cewek terus mengejar bahkan sampai datang kerumahnya (pernah pingsan gara-gara gak mau diputusin). akhirnya mereka putus juga, dan kejadian itu bikin dia trauma dengan cewek (katanya gak maulagi rasain yang namanya pacaran). hahaha,, Bucek, Bucek, pengalaman adalah guru yang berharga.

Foto yang paling kanan adalah si penulis sendiri. Mungkin gak usah diuraikan panjang lebar karena keterbatasan tempat dan waktu. Itulah para Sahabat-sahabatku yang setia, mereka saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing. Aku berharap persahabatan ini tak akan berakhir dengan toga wisuda dan acara syukuran, tapi terus berlanjut hingga akhir hayat.
“Kambo Team”

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE