Saat Cinta itu Hilang

Aku teringat saat-saat indah meraih cintanya, melalui waktu yang begitu cepat berlalu. Melenyapkan kegundahan dan kesedihan yang telah lama bergelayut dalam hati, tak ada tangis, tak ada air mata. Senyum yang terkembang begitu merekah bak bunga mawar putih yang berbinar, mengisyaratkan bahwa kami saling mencintai. Kenangan itu masih terekam dalam ingatan, bahkan ketika cinta itu mulai tergerus waktu dan tak lagi indah seperti dulu.

Entah apa yang aku rasakan saat ini, rasa sayang itu perlahan sirna namun aku tak ingin melihatnya kecewa.” Aku lalui hari dengan bayangan kegundahan, tak merasakan ketenangan hati karena yang ada hanya kegetiran dan kegelisahan tak berujung. Setiap aku langkahkan kaki merajut masa depan, pikiran terasa berat oleh perasaan yang tak tersingkap “Aku harus berani melawan kata hati, yang benar-benar aku inginkan adalah ketenangan hati.

Aku jalani hari demi hari dengan apa adanya, berusaha ikhlas adalah kata lain dari keterpaksaan jiwa. Raga ibarat mumi yang berusia ribuan tahun, terperangkap dalam selimut kepalsuan yang menyakitkan. Tak kuat aku hidup dalam sandiwara kolosal yang selalu menuntut aksi peran yang lebih, karena aku tahu semua itu hanya dusta. “Percuma kau menutupi semuanya, karena aku sudah tahu bahwa perasaanmu sekarang hanyalah bayangan. Cintamu telah hilang.” Katanya menyayat hati dan menggoreskan luka yang dalam, air mata menapaki lesung pipinya yang halus.

Kau telah berubah dan cintamu tak seperti dulu, aku sadar kalau aku bukan wanita yang pantas untuk kau cinta. Tapi tolong, jangan sakiti aku dengan perasaanmu yang palsu.” Nampak jelas raut wajahnya yang sendu, tak ada lagi senyum merekah, tak ada lagi tawa terkembang, kini semua itu hanya sebatas kenangan yang memang untuk dikenang dan tak mungkin terulang lagi.

Tak ada yang sempurna, pun begitu dengan aku. “Ku akui cinta itu sekarang hilang entah karena apa? akupun tak begitu mengerti.” Mungkin kata-kataku jahat hingga membuat dia menangis sejadi-jadinya, tak peduli air matanya telah mengalir sebanyak harapan dan impiannya. “Cinta tak harus saling memiliki.” kataku singkat. “Omong kosong dengan cintamu, persetan dengan alasan dan bualanmu, toh hatiku tak akan bisa menerima semua ini. Aku terlanjur sakit, sakit hati yang teramat akut dan tak mudah untuk menyembuhkannya.”

Diapun pergi, dengan meninggalkan bekas jejak tangan di pipi kiriku. Aku tak merasa sakit, mungkin kulitku sudah kebal karena mati rasa. Rasa cinta padanya yang telah berubah jadi cinta sebatas mimpi. “Goodbye..” ujarku dalam hati.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE