Roberto Mancini, Nasibmu Kini

pelatih-inter-milan-roberto-mancini1

Roberto Mancini

Nasib Roberto Mancini tak sebaik musim 2005/06.

Berakhir sudah masa bakti Roberto Mancini di klub raksasa Seria A Inter Milan, setelah beberapa pekan diterpa isu tak sedap perihal kebijakan manajemen Inter di bursa transfer pemain yang tak sejalan dengannya dan ketidakcocokan visi pria asal Italia itu dengan pemilik baru Nerazzurri, akhirnya kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri kerja sama.

Mancio didatangkan Inter pada November 2014 menggantikan Walter Mazzarri dengan ekspektasi tinggi, mengembalikan aura kejayaan Inter yang sudah cukup lama meredup dan tenggelam. Periode emas pasukan Biru Hitam di musim 2009/2010 dengan raihan treble winners menjadi musim terakhir Inter merasakan gelar juara, selepas itu klub yang kini dimiliki Suning Group konsorsium asal China seakan jauh dari prestasi apalagi trofi.

Hasil-hasil buruk kerap dialami Il Biscione dalam kurun waktu hampir enam musim terakhir, kursi pelatih pun sudah berganti sebanyak delapan kali sejak musim 2009/10 yang kala itu diarsiteki Jose Mourinho sebagai aktor di balik suksesnya Inter meraih treble winners hingga sekarang era Roberto Mancini. Untuk pemain, beberapa bintang pun didatangkan petinggi klub untuk mengembalikan reputasi Inter sebagai tim besar dengan segudang koleksi gelar juara.

CV Mentereng Jadi Modal Mancini

Mancini didapuk sebagai pelatih kepala Inter dengan rekam jejak yang cukup mentereng bersama Manchester City, selama 3,5 tahun menakhodai Kun Aguero cs Don Mancio mempersembahkan satu trofi liga Inggris, Piala FA, dan Community Shield. Meski di musim ketiganya ia tak mampu memberi satu gelar juara pun buat The Citizens dan menjadi penyebab ia didepak, namun pencapain tersebut cukup meyakinkan pihak Inter untuk mempekerjakannya kembali.

Ya, Roberto Mancini bukan kali pertama menukangi Si Ulang Besar. Musim 2005/06 hingga musim 2007/08 Inter cukup sukses di tangan pria yang kini berusia 51 tahun, tiga gelar scudetto, dua trofi Coppa Italia, dan dua kali juara Supercoppa Italia menjadi bukti sahih keandalan racikan taktik dan strategi Mancini. Namun sayang pada periode itu Mancini selalu gagal di level kompetisi Eropa, dan itu menjadi salah satu penyebab sehingga ia diberhentikan sebagai pelatih utama.

Di periode keduanya sebagai allenatore anyar Nerazzurri, sentuhan taktik dan strategi Mancini berjalan cukup mulus. Dengan permainan rapat dan sesekali melakukan serangan balik cepat, Inter mencatatkan lima kemenangan beruntun di awal musim 2015/16. Puncak klasemen pun dalam genggaman dan Rodrigo Palacio dkk digadang-gadang sebagai calon kuat peraih scudetto, namun penampilan inkonsisten yang kerap ditunjukkan para pemain Inter membuat target juara perlahan menjauh. Bahkan untuk meraih tiket Liga Champions anak asuh Mancini sangat kepayahan.

Dan musim 2015/16 pun ditutup Inter dengan menempati peringkat empat, pencapaian yang sebenarnya cukup baik jika bercermin pada lima musim terakhir. Jatah tiket Liga Champions yang menjadi target tim pun pupus dan Nerazzurri harus puas berlaga di Europa League untuk musim depan.

Polemik Mancini

Awalnya manajemen klub bersedia mempertahankan Mancio setidaknya hingga kontraknya berakhir pada 2017, namun perbedaan visi dengan pemilik baru Inter yakni Suning Group serta kebijakan transfer pemain yang dianggap tak mendukung keinginan sang pelatih membuat Mancini gusar. Kabar ketidakcocokan pelatih dengan petinggi klub pun merebak cepat, ditambah lagi dengan rentetan hasil buruk yang diraih Inter kala melakoni laga tur pramusim 2016/17 membuat masa depan Mancini di ujung tanduk.

160808184519-tendang-mancini-inter-milan-dekati-frank-de-boer

Frank de Boer kandidat kuat suksesor Mancini (foto: galamedianews.com)

Melalui laman resmi klub, Inter mengumumkan pemberhentian Roberto Mancini sebagai pelatih. Publik dan fans tak terkejut dengan keputusan Inter ‘menceraikan’ Mancini dan menganggap hal tersebut sebagai langkah yang tepat demi kebaikan tim di masa depan. Inter kabarnya tak perlu menunggu lama untuk mencari pengganti Roberto Mancini, Frank de Boer digadang-gadang sebagai kandidat terkuat untuk duduk di kursi panas Nerazzurri.

Rekam jejak kepelatihan pria asal Belanda tersebut memang belum sementereng Roberto Mancini, namun filosofi sepakbola menyerang dan kemampuannya memotivasi semangat serta mental bertanding para pemain membuatnya dianggap cocok dengan kondisi Inter saat ini. Legenda timnas Belanda itupun dikabarkan selangkah lagi bergabung dengan Inter, akan seperti apa performa Inter di tangan taktikan pria berusia 46 tahun tersebut? Kita nantikan saja.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE