Rindu Adly

Aku duduk sendiri di sebuah ruangan yang lengang, aku menatap potret sosok anak kecil berumur lima tahun di layar laptop-ku yang lapang. Berbagai macam pose serta senyum yang merekah dengan lucunya membuatku sangat rindu padanya, sudah hampir sebulan aku tak melihatnya atau sekadar mendengar suaranya di telepon pun tak pernah. Air mata ini tak kuasa terbendung, menetes menyisakan jejak kenangan di pipi. Masih teringat jelas seminggu sebelum keberangkatanku ke Gorontalo, dia demam dan harus di rawat di rumah sakit “ibu dan anak” Luramay. Aku mendampinginya, mengajaknya bermain agar dia tak merasa jenuh. Hampir seminggu dia dirawat di rumah sakit, dan sehari sebelum aku berangkat, dokter pun mengijinkannya pulang.

Saat aku melihat file-file foto di laptop, aku membuka folder khusus yang berisi fotonya sejak dia berumur satu tahun hingga sekarang menginjak umur lima tahun. Mataku berkaca-kaca seakan memberi isyarat jika rindu ini terlau berat dan harus dihempaskan segera, namun saya cukup bahagia bila mendengar suaranya meski hanya sesaat dari ujung telepon yang terputus-putus. Kedekatan batin antara kau dan ponakanku tercinta sengatlah dalam, ia seperti adik kandungku sendiri, sejak lahir aku selalu bersamanya, mengikuti perkembangannya hingga ia tumbuh menjadi anak yang pintar dan lucu. Aku menulis cerita ini sambil menahan air mata, jangan sampai jatuh hingga orang lain tahu dan bertanya-tanya, kenapa aku menangis.

Beberapa hari yang lalu, kakak perempuanku memberi kabar melalui sms, ia memberitahukan jika Adly ponakanku masuk rumah sakit karena menderita sakit tifus. Aku segera menelponnya untuk tahu keadaannya bagaimana, syukurlah di sana ia ditemani eyangti dan eyangkungnya. Aku hanya mendoakan semoga ponakanku tersayang cepat sembuh dan kembali bersekolah serta bermain bersama teman temannya. Aku merindukan lengkingan suaranya yang menggema, teriakannya yang memekakan telinga tapi aku suka. Aku rindu saat dia memanggilku “Om di,” aku rindu katika dia bertanya “kapan om di pulang?” hatiku seketika hening menahan haru, air mata ini seakan menunggu waktu untuk mengucur dengan deras. Aku pun menyerah dan membiarkan rindu ini lepas bersama derai air mata.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE