Pucak Teaching Farm, Tempat Wisata Di Perkampungan

Menikmati wisata alam yang berbeda? Pucak Teaching Farm bisa jadi salah satu tujuan yang saya rekomendasikan.

Sudah sering saya mendengar tempat wisata yang satu ini, tapi itu sudah sangat lama dan saat itu cerita tentang Pucak hanya melintas saja tanpa pernah terbesit niat untuk berkunjung ke sana. Hingga akhirnya, hari sabtu lalu saya dan keluarga berkesempatan mengunjungi tempat wisata yang katanya cukup menarik itu.

Tak banyak informasi yang saya dapat tentang Pucak mungkin karena teman-teman dekat yang pernah ke sana bisa dihitung jari, meski demikian rasa penasaran tetap bergelayut dalam benak dan saya tetap mempersiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat.

Zaman sekarang tak perlu khawatir kesasar saat berkunjung ke suatu tempat yang belum pernah didatangi, cukup gunakan Google Maps atau aplikasi Waze saya sendiri lebih suka pakai Waze. Cari tempat yang ingin dikunjungi lalu ikuti pentujuk jalan yang di tampilkan. Jika di tempuh dari kota Makassar hanya butuh waktu 45 menit untuk sampai ke Pucak jika lewat jalan alternatif Moncongloe, tapi kalau lewat jalan poros Makassar-Maros waktu tempuhnya sedikit lebih lama.

Pucak merupakan salah satu nama desa di kecamatan Tompobulu, kabupaten Maros yang dulu menjadi kawasan konservasi baragam tanaman oleh mantan Gubernur Sulawesi Selatan periode 1993-2003 HZB. Palaguna. Awalnya tempat ini digunakan pak mantan Gubernur sebagai kebun percobaan dan peternakan untuk menguji beberapa varietas tanaman.

Seperti budi daya jeruk siam, ikan nila, ikan mas, penangkaran rusa Timor, kambing Boerawa, dan produksi jeruk siam. Selain itu terdapat kolam renang, penginapan, warung makan, dan juga danau yang bisa digunakan untuk memancing. Sekarang pengelolaan Pucak Teaching Farm berada di bawah naungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Maros sehingga lebih tertata dan rapi.

Saat pertama kali memasuki kawasan wisata Pucak saya sempat berpikir apa benar di tengah perkampungan ini ada hotel, kolam renang, dan beragam kebun serta peternakan. Lokasinya memang cukup jauh dari keramaian namun itu tak membuat Pucak sepi peminat, syukurlah akses jalan menuju ke sana sudah berlapis aspal dan beton. Hanya beberapa yang sedikit berlubang.

Hotel yang lebih mirip rumah tinggal

pondok-pondok yang bisa disewa

Saya menginap semalam di hotel yang berada di dalam area Pucak Teaching Farm, saya kurang tahu nama hotelnya apa namun dari desainnya bangunnya tersebut lebih mirip rumah tinggal berlantai dua dan di dalamnya terdapat kamar-kamar. Selain hotel terdapat pondok-pondok sederhana yang juga bisa digunakan pengunjung untuk menginap, biaya sewanya 400 ribu untuk hotel dan 350 ribu untuk pondok yang berjumlah sekitar sepuluh unit. Aula yang luas dan warung makan pun tersedia di tempat ini jadi pengunjung bisa mengadakan agenda rapat atau pertemuan.

 

Paginya saya berenang di kolam yang cukup luas, airnya jernih dan bersih. Terdapat kolam untuk orang dewasa dan anak-anak dengan tempat yang terpisah serta dilengkapi dengan perosotan. Pagi itu kolam renangnya cukup ramai, banyak pengunjung yang baru datang. Untuk menikmati fasilitas kolam renangnya saja pengunjung cukup membayar 10 ribu rupiah, cukup murah untuk sekadar menghabiskan hari libur bersama keluarga.

Sayangnya saya belum sempat meng-explorer seluruh tempat yang ada di kawasan Pucak ini yang katanya juga terdapat kolam buaya, kijang, hingga kolam pemancingan, mungkin lain kesempatan saya bisa berkunjung ke tempat ini lagi. Jadi bagi anda yang ingin berwisata sekaligus menikmati suasana pedesaan yang sejuk dan alami serta dengan biaya yang terjangkau. Pucak Teaching Farm bisa menjadi salah satu tujuan.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE