Prospek Transportasi Online di Kota Daeng

Bisnis transportasi online sebenarnya cukup menjanjikan, namun dengan syarat berada di waktu dan tempat yang tepat.

Di kota-kota besar kebutuhan akan transportasi online memang sangat tinggi, tak sedikit masyarakat yang mobile lebih memilih transportasi online dibandingkan konvensional. Untuk area Makassar, pemain lama seperti Gojek dan Grab masih mendominasi. Namun pendatang baru seperti Uber juga punya peluang untuk berkembang.

Seperti apa peluang perusahaan-perusahaan transportasi berbasis aplikasi tersebut untuk bisa bertahan dan terus eksis khususnya di kota yang masih berkembang seperti Makassar?

Gojek

Beroperasi resmi sejak tanggal 7/8/2015, Gojek menjadi pemain pertama yang memberi layanan transportasi berbasis aplikasi di kota Daeng. Gojek terkenal dengan beragam layanan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang juga bermacam-macam, saat itu Gojek cukup diminati, baik oleh konsumen maupun mitra yang bekerja sama dengan perusahaan milik Nadiem Makarim itu.

Bagi mitra yang ingin bergabung, pihak Gojek menawarkan pendapatan dan bonus yang cukup menggiurkan. Jadi tak heran jika awal perekrutan driver Gojek langsung dibanjiri peminat. Namun perjalanan Gojek di kota Anging Mammiri tak selalu mulus, disaat perusahaan berwarna hijau itu naik daun muncul pula aksi penolakan dari tukang ojek pengkolan dan driver taksi konvensional yang merasa lahannya diserobot Gojek.

Mereka menuding perusahaan transportasi online tersebut belum memiliki izin untuk beroperasi di kota Makassar dan mengurangi pendapatan mereka karena konsumen lebih memilih transportasi online. Meski penolakan tersebut tak sampai berakhir ricuh seperti di kota-kota lain, hingga sekarang Gojek masih eksis dan bahkan semakin banyak peminatnya.

Jika Gojek banyak peminat, apakah driver atau mitra yang tergabung di dalamnya juga sejahtera? Gojek menerapkan skema jumlah poin tertentu yang harus diraih oleh mitra atau driver. Untuk driver baru Go-Car misalnya, pencapaian 14 poin dalam sehari akan mendapat bonus Rp 325.000 dengan performa minimum 60%. Itu syarat yang harus dipenuhi oleh mitra atau driver.

Sekarang ini beberapa driver Go-Car banyak yang mengeluhkan sepinya order untuk area Makassar, salah satu penyebabnya karena jumlah driver tak sebanding dengan permintaan konsumen yang meng-order. Di pusat-pusat keramaian jadi tempat favorit para driver online untuk mangkal daripada harus memutar-mutar kadang tanpa hasil dan buang-buang bahan bakar. Namun tak sedikit pula driver-driver yang mangkal di tempat tersebut harus pulang dengan tangan hampa karena tak kebagian order.

Grab

Di waktu yang hampir bersamaan, Grab juga meresmikan layanan transportasi berbasis aplikasi di kota Makassar. Meski variasi layanannya tak sebanyak Gojek namun dengan iming-iming diskon bagi konsumen yang menggunakaan layanan Grab, perusahaan asal Malaysia itu sukses mencuri perhatian masyarakat.

Di awal-awal beroperasi, Grab memberikan banyak tarif promo bagi konsumen baru. Hal itu membuat Grab langsung populer dan jadi alternatif konsumen yang belum pernah merasakan kemudahan layanan transportasi online berharga murah, bahkan gratis. Di masa-masa perkenalan itu pihak Grab memang jor-joran, selain memanjakan konsumen dengan tarif promo. Mitra yang bergabung pun dijanjikan banyak bonus.

Skema bonus yang diterapkan Grab mengacu pada jam-jam tertentu seperti jam sibuk pagi dan jam sibuk sore. Driver atau mitra harus menyelesaikan 15 trip pagi dan 2 trip sore. Jumlah driver Grab di Makassar memang belum sebanyak Gojek jadi peluang mendapatkan order tentu lebih besar, namun itu pun tergantung lokasi atau area operasional sang driver.

Hingga sekarang kantor Grab masih dibanjiri calon driver  atau mitra yang ingin bergabung, mungkin karena daya tarik bonus yang terlihat lebih realistis dibanding Gojek namun hal itu masih bisa diperdebatkan. Sebenarnya besar kecilnya pendapatan driver online tergantung dari keuletan dan juga keberuntungan.

Uber

Perusahaan asal Amerika ini jadi pemain baru di ranah transportasi online di kota Makassar, memang gaungnya kurang terdengar bahkan perekrutan driver-nya pun tak seheboh Gojek dan Grab. Uber lebih populer di Jakarta yang merupakan pemain senior di layanan transportasi berbasis aplikasi, bahkan sebelum Gojek dan Grab booming. Masyarakat yang melek teknologi sudah jauh-jauh hari mengenal Uber sebagai layanan transportasi online yang kontroversi.

Di Makassar, konsumen yang menggunakan jasa Uber bisa dihitung jari. Selain dari system aplikasinya yang tak sefamiliar dua pesaingnya itu, metode pembayaran yang dulu harus menggunakan kartu kredit membuat konsumen enggan memanfaatkan Uber sebagai sarana transportasi. Meski sekarang Uber menerima pembayaran tunai.

Driver Uber di Makassar juga minim, selain karena konsumen yang memakai Uber sedikit yang tentu saja sepaket dengan order yang minim. Skema bonus yang dimiliki Uber pun dianggap terlalu berat bagi para driver. Bagaimana caranya mencapai jumlah perjalanan atau trip tertentu kalau order yang masuk sedikit, yang ada malah driver-nya yang tekor. Mungkin itulah yang membuat Uber di Makassar tak sepopuler dua pesaingnya itu.

*****

Makassar masih menjadi kota potensial untuk mengeruk keuntungan di bisnis transportasi online, pembangunan infrastruktur yang terus berjalan serta pertumbuhan penduduk yang terus meningkat membuat kebutuhan layanan berbasis aplikasi akan selalu diminati. Untuk menjaga konsistensi dan kelangsungan hidup perusahaan, penyedia jasa transportasi online tentu harus meningkatkan kualitas pelayanan bagi konsumen dan juga meningkatkan kesejahteraan mitra-mitra yang bergabung di dalamnya. Salam satu aspal.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE