Ponsel Lokal Ingin Total (Bagian 2-Habis)

Para vendor ponsel lokal masih berusaha mengimbangi kedigdayaan ponsel-ponsel branded yang sampai sekarang mendominasi pengguna ponsel tanah air. Beragam strategi bisnis dilakukan demi meningkatkan volume penjualan, usaha vendor lokal sempat membuahkan hasil di tahun 2012. Menurut data IDC Indonesia, dua vendor ponsel merek lokal Cross (sekarang bernama Evercross) dan Mito bersaing dengan Nokia, Samsung dan Blackberry di peringkat lima besar vendor terbesar di Indonesia. Selain harga yang lebih murah, fitur dual SIM card dan TV analog menjadi daya tarik ponsel lokal yang belum dimiliki oleh ponsel branded, strategi tersebut cukup ampuh menarik perhatian konsumen.

Merasa pangsa pasarnya mulai tergerus oleh ponsel merek lokal, produsen ponsel branded pun menyiapkan strategi tandingan dengan melahirkan ponsel murah dan berfitur dual SIM card. Konsumen tentu lebih memilih ponsel branded murah semisal Nokia, Samsung atau Sony yang terjamin kualitas dan layanan after sales-nya. Vendor ponsel lokal tak kehabisan ide, mereka menciptakan desain-desain ponsel unik yang tak pernah dibayangkan orang sebelumnya meski strategi tersebut pernah dilakukan oleh Nokia ketika masih merajai industri ponsel tanah air pada tahun 2000 hingga tahun 2007 sebelum dikudeta oleh Blackberry di tahun 2008.

Desain unik ponsel Mito

Tak hanya sampai di situ, vendor ponsel lokal pun mencoba peruntungan dengan merilis desain ponsel dengan tampilan fisik yang menyerupai ponsel-ponsel merek branded yang laris di pasaran. Ketika ponsel Nokia booming dan berada di puncak kejayaan, beberapa tipe handset yang saat itu menjadi primadona, seperti Nokia 7610, 6600 hingga tipe high end E90 Communicator merupakan model-model handset yang dikloning oleh vendor ponsel lokal. Apple dengan jajaran iPhone-nya dan Blackberry dengan smartphone qwerty keyboard yang menjadi penguasa baru kala itu pun tak luput dari kloningan vendor lokal dengan menciptakan desain “copy paste” dari ponsel-ponsel merek branded terlaris.

Tentu ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kualitas yang benar-benar mendekati sempurna. Konsumen bisa memiliki ponsel kelas atas yang desainnya sama dengan ponsel-ponsel merek ternama namun fitur dan kualitas yang ada di ponsel tersebut tentu jauh berbeda. Pengguna ponsel semakin paham bahwa kualitas produk menjadi hal yang utama sehingga mereka tak mempermasalahkan berapa harga yang harus ditebus demi sebuah ponsel. Jadi tak heran jika fenomena membludaknya ponsel-ponsel merek lokal beberapa tahun yang lalu kini perlahan mulai tenggelam, vendor ponsel lokal hanya fokus pada penjualan dan mengabaikan kualitas produk. Imbasnya, citra ponsel lokal dikenal sebagai ponsel Cina yang ringkih dan hanya jadi pilihan kedua.

Ponsel lokal iCherry C5 yang mirip iPhone

Seiring berjalannya waktu, vendor ponsel lokal mulai berbenah. Mereka terjun di dalam persaingan industri ponsel dunia bukan hanya sebagai penggembira atau menjadi pilihan kesekian, meski tak dipungkiri ada beberapa ponsel merek lokal yang hadir meraikan pasar tapi sekarang tak terdengar lagi gaungnya membuat kepercayaan konsumen surut. Namun masih ada beberapa vendor ponsel lokal yang masih tetap eksis bertahan dipersaingan industri ponsel yang semakin sengit, seperti, Acer, Asus, Evercross, Advan, Mito, Axioo. Bahkan empat ponsel merek lokal yang disebutkan terakhir berencana memproduksi ponsel mereka di Indonesia guna memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap handset murah dan berkualitas. Mereka tak sekadar merakit ponsel di dalam negeri tapi melakukan proses produksi meski tak 100% karena masih ada beberapa komponen yang harus diimpor.

Pemerintah sangat mendukung perkembangan industri ponsel di dalam negeri, berbagai usaha dilakukan pemerintah untuk menjaring para investor. Direktur Elektronika dan Telematika Ditjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) C Triharso menyebutkan, lima perusahaan yang sudah siap untuk memulai uji pasar di Indonesia adalah Polytron, Advan, Evercross, Mito dan Axioo. Menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi sebuah ponsel patut diapresiasi, itulah bentuk perwujudan vendor ponsel lokal untuk lebih fokus berkompetisi di industri ponsel. Ponsel merek lokal harus total berbenah melahirkan produk yang mampu bersaing secara global, bukan saja dari desain, spesifikasi dan fitur yang up to date namun yang terpenting adalah kualitas produk dan jaminan after sales service harus lebih diutamakan.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply to Triadi C Laksono Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE