Pilih Samsung A30 atau A30s?

Akhir-akhir ini Samsung lagi onfire, beberapa tipe di lini smartphonenya dirilis dengan rentang waktu yang hampir berdekatan. Tentu saja semua itu dilakukan Samsung untuk memenuhi kebutuhan pengguna ponsel tanah air dan yang pasti demi menjaga eksistensinya sebagai brand besar di tengah terjangan produk-produk kompetitor yang semakin ofensif.

Samsung sepertinya paham betul bagaimana bertahan di industri smartphone tanah air, jika tak ingin nasibnya seperti Nokia atau BlackBerry yang sekarang sudah almarhum tentu vendor asal Korea Selatan itu harus punya strategi jitu agar tetap eksis dan tak kehilangan peminat. Mengeluarkan banyak varian smartphone di rentang waktu yang berdekatan jadi salah satu cara Samsung agar tetap bisa bernapas, khusus di segmen menengah atau di level mid range persaingan smartphone memang begitu sengit. Maka tak heran jika Samsung terlihat jor-joran mengeluarkan produk yang menyaras segemen tersebut.

Baru-baru ini Samsung memperkenalkan Samsung Galaxy A30s dan A20s sebagai penerus Galaxy A30 dan A20 mengikuti saudara tuanya yang lebih dulu hadir yakni Samsung Galaxy A50s yang bakal menggantikan A50. Sebagai pengguna Samsung A30 yang baru dua bulan mencoba perangkat A series di tahun 2019 ini cukup membuat saya terkejut, Samsung A30 yang saya gunakan sehari-sehari sudah sesuai dengan kebutuhan. Lalu apakah kehadiran penerusnya yakni Samsung A30s sudah pentas menggantikan A30?

Layar Rasa Downgrade

Saya sebenarnya bertanya-tanya ke Samsung, apa urgensinya mereka merilis Samsung A30s. Toh di Samsung A30 saya sudah cukup puas dengan fitur dan teknologi yang dimilikinya, kebutuhan saya pada sebuah smartphone dengan layar jernih dan tajam di Samsung A30 dengan layar Super AMOLED beresolusi full HD+ 1080×2340 sudah sangat memanjakan mata. Menikmati konten foto dan video di A30 dijamin puas berkat kualitas layarnya. Sedangkan di Samsung A30s panel layarnya memang masih menggunakan Super AMOLED tapi resolusi layarnya turun menjadi HD+ atau 720×1560 piksel.

Tak terlalu terasa memang, sekilas perbedaan kedua layar tersebut tak terlalu siknifikan apalagi sama-sama berukuran 6.4 inch dengan screen to body ratio juga sama yakni mencapai 84.9%, namun bagi pengguna smartphone yang terbiasa menatap layar beresolusi full HD dan khususnya yang berpanel Super AMOLED pasti akan terasa perbedaan reproduksi warna dan ketajaman gambar yang dihasilkan kedua layar tersebut.

Dari sisi teknologi memang Samsung A30s lebih kekinian berkat sensor sidik jari yang ada di dalam layar, tapi buat saya yang lebih mengutamakan kecepatan dan keakuratan maka sensor sidik jari konvensional seperti yang ada di Samsung A30 sudah sangat membantu ketika ingin membuka kunci smartphone dengan cepat dan aman. Jika ingin menikmati teknologi in display finger print tentu lebih baik saya memilih A50 yang kini harganya sudah turun menjadi 3,1 jutaan dibanding A30s ini yang harga resminya 3,3 juta.

Tiga Kamera, Desain Lebih Meriah

Perubahan mencolok dari Samsung A30s terletak di kamera utamanya yang kini ada tiga masing-masing kamera terdiri dari lensa PDAF beresolusi 25MP beraperture f/1.7, lalu lensa ultrawide 8MP aperture f/2.2, dan lensa adept sensor 5MP aperture f/2.2. Dibandingkan Samsung A30 secara teori memang kualitas kamera A30s lebih baik namun buat saya hasil kamera A30 masih mampu bersaing untuk kelas harga smartphone dua jutaan. Cukup oke di kondisi cahaya berlimpah dan masih lumayan saat diajak berfoto pada kondisi low light. Sedangkan untuk perekaman video tak ada yang berubah di Samsung A30s, masih dengan resolusi maksimal 1080p di 30 fps dan tanpa kehadiran OIS atau EIS.

Oh ya, set up kamera Samsung A30s sama persis dengan kamera Samsung A50 tapi kelebihan kamera A50 ada pada kualitas videonya yang sudah dilengkapi OIS sehingga hasil rekaman videonya lebih stabil.

Beralih ke sisi belakang, desain back cover Samsung A30s sekarang lebih segar dan meriah berkat efek cahaya dan motif gradasi yang lebih agresif jika dibandingkan A30 yang punya desain belakang lebih soft dan sederhana. Tapi buat saya sekeren apapun desain back cover sebuah smartphone ujung-ujungnya tetap tertutupi oleh softcase.

Senjata Pamungkas Bernama NFC

Samsung Galaxy A30s jadi smartphone termurah yang punya NFC, tentu saja itu jadi senjata pemungkas Samsung buat melawan para kompetitor. Sebuah teknologi yang memungkinkan penggunanya bertransaksi secara digital hanya dengan sebuah smartphone. Mengecek dan mengisi saldo e-money atau kelak bertransaksi secara cashless akan menjadi lebih mudah dilakukan pada perangkat yang dilengkapi dengan fitur NFC.

Tapi buat saya saat ini masih belum membutuhkan teknologi tersebut, metode pembayaran pun kini lebih mudah meski tanpa menggunakan smartphone ber-NFC. Namun kembali lagi kekebutuhan pengguna, jika fitur NFC penting pada sebuah smartphone. Samsung A30s ini bisa jadi salah satu pilihan.

Fitur Lain

Di luar fitur NFC, set up triple camera, finger print in display, dan desain back cover yang lebih segar dengan pola bergaris selebihnya tak ada fitur lain yang di bawa oleh Samsung A30s. Kapasitas baterainya masih sama dengan Samsung A30 yakni 4000 mAh dengan teknologi fast charging 15W, user interface masih setia dengan One UI berbasis Android 9 yang user frendly, dan beberapa aplikasi bawaan Samsung.

Sedangkan di sektor jeroan Samsung A30s dan A30 masih dengan prosesor yang sama yakni Exynos 7904 (14nm), GPU Mali G71 MP2, dan didukung RAM 4GB serta memory internal 64GB. Untuk penggunaan harian dan bermain game kekinia sudah cukup memadai meski bukan yang terbaik di harga sekelas.


Kesimpulan

Jika dibandingkan dengan pendahulunya tak ada alasan kuat yang membuat saya untuk move on dari Samsung A30 ke A30s ini. Justru saya menyayangkan keputusan Samsung yang menurunkan resolusi layar A30s yang kini cuma HD+ meski tetap mempertahankan panel super AMOLED, tapi menurut saya kualitas layar jadi poin penting saat memutuskan membeli sebuah smartphone dan Samsung dengan super AMOLED-nya masih yang terbaik saat ini.

fitu always on display jadi fitur mahal di Samsung A30

Dan yang paling krusial tak ada fitur always on display di Samsung A30s meski panel layarnya menggunakan super AMOLED, ya andai Samsung menggantinya dengan lampu LED buat tanda notifikasi mungkin tanpa kehadiran fitur AOD pun Samsung A30s tetap punya nilai plus.

Kalaupun harus memilih untuk pindah ke hape dengan fitur NFC, kualitas kamera yang lebih baik, dan prosesor yang lebih bertenaga tentu saya akan meminang Samsung A50s meski banderol harganya memang masih lebih mahal dibanding A30s. Tapi jika berkaca pada banderol Samsung A30s yang resmi dirilis yakni 3,3 juta tentu lebih menarik jika melirik Samsung A50 yang kini di toko online dijual kisaran harga 3,1 jutaan. Meski tanpa NFC, Samsung A50 menurut saya jadi ponsel terbaik Samsung di harga tiga jutaan.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE