Pikiran-pikiran “Jahil”

Tidak terasa waktu menyisakan beberapa minggu lagi menjelang hari di mana pertautan janji sakral itu akan terucap dengan lantang. Segala sesuatunya telah dipersiapkan dengan matang, hanya beberapa detail saja yang masih perlu diselesaikan sembari menyiapkan diri dan mengusir keraguan yang kadang meresahkan hati. Semakin mendekati hari bahagia itu tidak jarang pikiran-pikiran “jahil” selalu ingin berusaha menggoyahkan keyakinan hati, berbagai alasan pun terpampang dengan jelas untuk mempertegas jika pikiran-pikiran itu benar. Ah, mungkin ini hanya sindrom keresahan biasa yang kadang terjadi pada setiap orang menjelang hari pernikahan. Saya coba mengabaikannya tapi tidak bisa melenyapkannya, bahkan pikiran-pikiran “jahil” itu semakin deras menjejali kepala.

Membina rumah tangga itu tidak sesederhana kisah film romantis atau cerita fiksi yang bisa di-setting sedemikian rupa agar selalu berjalan mulus dan berakhir bahagia, semua butuh proses dan pembelajaran agar diri ini tidak mudah menyerah. Banyak rintangan dan cobaan yang harus dilalui hingga nanti bisa merasakan akhir yang bahagia seperti kisah-kisah khayalan tersebut. Raga ini harus ditempa, jiwa ini harus dilatih dan harus terbiasa dengan kesusahan. Saya pun masih perlu belajar tentang banyak hal, terutama menjadi seorang pemimpin dalam keluarga, menjadi panutan bagi isteri dan anak-anak kelak. Sungguh tanggung jawab yang tidak ringan untuk orang yang terlahir sebagai anak bungsu dengan limpahan perhatian dan kasih sayang.

Saatnya mengencangkan doa, memaksimalkan usaha dan menyerahkan segalanya pada yang Maha Kuasa. Selalu berpikiran positif meski kadang suasana hati kurang kondusif, jangan mudah goyah oleh pikiran-pikiran “jahil” yang mengusik langkah kaki, Tetap berjalan dengan penuh rasa optimis, rintangan dan halangan bukanlah sebuah penghalang bagi orang-orang yang berniat tulus untuk beribadah. Pernikahan tidak seseram yang dibayangkan, itu kata sebagian orang. Iya juga sih, mungkin kehidupan setelah acara pernikahan itu yang menjadi momok menyeramkan bagi sebagian orang, ketika beragam tanggung jawab mulai wajib dipikul, bermacam-macam problematika rumah tangga menghampiri, dan ketika persoalan keluarga sudah menjadi sajian runtin yang tidak bisa dihindari. Itulah kehidupan yang selalu penuh dengan cerita yang kita tulis sendiri dalam sejarah hidup kita.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE