Perjalanan Singkat Ke Sinjai

Salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan ini sudah akrab di telinga saya, namun baru kemarin saya sempat berkunjung ke sana.

Mungkin kota Sinjai tak sepopuler Bulukumba dengan Tanjung Biranya, atau Pantai Seruni di Bantaeng. Namun kota kabupaten berpenduduk kurang lebih 229.000 jiwa ini menurut saya cukup menarik untuk dikunjungi, selain tata kotanya yang rapi juga memiliki destinasi wisata yang beragam.

Namun kali ini saya tak akan mengulas tempat wisata atau hal-hal menarik dari kota Sinjai. Saya hanya akan berbagi pengalaman perjalanan dari kota Makassar menuju Sinjai.

Bagi orang yang belum pernah ke kota Sinjai tentu memilih rute perjalanan tersingkat adalah hal pertama yang jadi perhatian. Jarak Makassar-Sinjai kurang lebih 220 km jika ditempuh via jalur umum atau melewati kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan Bulukumba. Namun jika ditempuh via jalur poros Maros-Bone maka jarak yang dilalui hanya kurang lebih 163 km.

Saya yang sudah pernah menelusuri jalur Gowa hingga Jeneponto memilih jalur poros Maros-Bone untuk sampai ke kota Sinjai.

Akses jalan Makassar hingga Camba sudah tak asing bagi saya, setiap lebaran saya selalu sempatkan diri dan keluarga berkunjung ke sana. Di sanalah kampung istri saya yang kini sudah cukup maju khususnya akses jalan yang lebih luas dan beraspal.

Namun kenyamanan menikmati jalan mulus dan beraspal hanya bisa saya nikmati sepanjang rute poros Maros-Bone. Saat berbelok ke jalan poros Maros-Sinjai dijamin penumpang kendaraan tak akan bisa tidur nyenyak.

Aspal kasar dan berlubang menemani perjalanan saya, memang sebagian jalan sudah ada yang dibeton namun jalan aspal yang belubang lebih sering ditemui dibanding jalan aspal mulus atau jalan beton. Saya kurang memerhatikan desa-desa mana saja yang akses jalannya masih rusak namun yang pasti disaat daerah-daerah lain berlomba-lomba memperbaiki infrastruktur jalan untuk kenyamanan warga dan menarik wisatawan, ternyata masih banyak daerah-daerah pelosok yang belum menikmati akses jalan yang layak.

Memasuki perbatasan kota Sinjai, saya pun kembali merasakan aspal mulus dan jalan yang lebih luas. Akses kendaraan tak terlalu padat, saya membayangkan Makassar yang tiap ruas jalannya tak bisa lepas dari macet.

Pusat kota Sinjai tertata rapi dan saya pun tak melihat angkutan kota lalu-lalang di jalan protokol mungkin angkutan darat umum tersebut punya jalur khusus seperti di Pare-pare, sehingga tak menimbulkan kepadatan khususnya di pusat kota.

Saya lalu bergerak menuju Sinjai Selatan tepatnya di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Wadi Mubarak Jl. Mawar, Gareccing, Sinjai Selatan. Akses menuju pendok pesantren tersebut sudah beraspal namun masih ada beberapa jalan di daerah tersebut yang terbuat dari tanah, sehingga saat hujan tiba maka akan sulit dilalui.

salah satu jalan di Sinjai Selatan

*****

Tugas dari pemerintah daerah setempat untuk memerhatikan kondisi infrastruktur di wilayah mereka, salah satunya memberi akses jalan yang nyaman bagi warganya. Selain untuk meningkatkan perekonomian juga sebagai daya tarik wisatawan. Di daerah lain mungkin masih banyak akses jalan yang jauh lebih buruk dan itu merupakan PR bagi pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk meningkatkan kesejahteraan warganya.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE