Peran Pos Indonesia dan Media Sosial Di Era Global

(Foto: Wikipedia)

Suatu hari saya ke kantor Pos untuk mengirim berkas-berkas keperluan kantor, suasana pagi itu cukup lengang hanya beberapa orang terlihat sedang melakukan transaksi pembayaran, saya yang ingin melakukan pengiriman barang dilayani oleh petugas lain jadi tak perlu mengantre lama. Sambil menunggu bukti kiriman paket tercetak, ingatan saya menerawang puluhan tahun yang lalu ketika kantor Pos menjadi pilihan utama bagi orang-orang yang ingin selalu terhubung dengan teman, kerabat, keluarga atau siapa saja yang keberadaannya terpisah oleh jarak dan waktu. Kantor Pos selalu dipenuhi oleh masyarakat dengan beragam keperluan mulai dari mengirim surat, dokumen-dokumen, dan paket barang mengingat saat itu belum banyak penyedia jasa pengiriman yang menawarkan biaya terjangkau dan pelayanan sampai ke pelosok-pelosok sehingga orang tak ragu untuk menggunakan jasa kantor Pos.

Bahkan saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar sekitar tahun 90-an sudah diajarkan cara menulis surat dan mengirimkannya lewat kantor Pos. Ketika menjelang lebaran, kantor Pos sudah disesaki oleh orang-orang yang ingin mengirim kartu ucapan lebaran ke teman, saudara, dan kerabat yang berada jauh dari tempat asal, saya masih ingat saat itu harus ikut mengantre di kantor Pos ketika ingin mengirim kartu ucapan lebaran untuk saudara yang ada di pulau Jawa. Kantor Pos memberi pelayanan jasa yang terbaik agar orang-orang saling terhubung menjalin silaturrahmi dan keakraban meski berada di kota, pulau bahkan negara yang berbeda.

Namun kini popularitas kantor Pos mulai tergerus oleh para pesaing yang menawarkan beragam kelebihan, dan seiring perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat membuat kantor Pos tertatih-tatih mempertahankan eksistensinya agar orang-orang yang selama ini menjadi pelanggan setianya tidak berpaling ke penyedia jasa pengiriman lain. Perkembangan teknologi berbasis internet turut mengubah gaya hidup manusia dalam menjalin komunikasi agar tetap saling terhubung, kita tidak perlu ke luar rumah untuk tahu kabar teman atau saudara yang berada di pulau seberang atau menghabiskan waktu berhari-hari dengan menunggu balasan kabar dari saudara, cukup menekan nomor telepon atau melakukan video call kita sudah dapat saling berinteraksi tanpa harus dibatasi oleh jarak dan waktu.

Menjamurnya layanan social media di era internet generasi ke tiga turut memanjakan orang-orang untuk lebih intens dalam menjalin pertemanan, layanan social media semisal Facebook, Twitter, Instagram, Blog dan masih banyak lagi situs jejaring sosial lainnya yang bertebaran di jagat maya membuat orang-orang tak punya alasan untuk tak saling terhubung antara satu dengan yang lain. Hal ini membuat PT Pos Indonesia selalu melakukan inovasi untuk menyesuaikan kebutuhan pasar agar tetap bisa bersaing dalam melayani masyarakat, namun derasnya kemajuan teknologi dan informasi menjadikan kantor Pos hanya sebagai alternative dari sekian banyak perusahaan penyedia jasa pengiriman yang menawarkan lebih banyak kemudahan serta efisiensi. Coba anda hitung dalam seminggu atau sebulan, berapa kali anda mengunjungi kantor Pos?

Di era globalisasi sekarang ini, Pos Indonesia dan social media hanyalah sedikit dari sekian banyak wadah yang digunakan orang-orang untuk menjalin interaksi sosial di dunia digital yang semakin fenomenal. Saya pun merasakan kemudahan menjalin pertemanan dan merekatkan tali silaturrahmi dengan saudara yang terpisah jarak dan waktu, teknologi diciptakan untuk memudahkan segala aktivitas dan hadirkan manfaat dalam kehidupan manusia. Jika di dunia maya orang terhubung dengan beragam media sosial untuk saling berbagi kisah, cerita, dan informasi maka di dunia nyata khususnya di Makassar ada Trans Studio Mall yang bisa menjadi tempat untuk bertemu dengan orang-orang terkasih, lebih mengenal kerabat atau bersua dengan orang di masa lalu.

Trans Studio Makassar (foto : koleksi pribadi)

Beberapa bulan yang lalu tepatnya bulan Mei 2014, saya mendampingi ponakan ikut lomba amazing battle marching band and percussion yang diselenggarakan oleh Trans Studio Makassar. Sekolah ponakan saya mendapat undangan sebagai salah satu peserta, diharapakan dengan event seperti itu bisa membina kearaban antara guru dan orangtua siswa. Saya sempat kaget ketika melihat seorang guru yang sudah cukup berumur sedang berdiri dan memberi arahan pada ponakan saya dan teman-temannya. Guru itu seperti tak asing buat saya, ternyata beliau adalah ibu Ruth guru yang pernah mengajar saya waktu di taman kanak-kanak dan sekarang beliau mendidik ponakan saya di sekolah yang sama pula. Sekejap saja ingatan membayang ketika saya masih berusia enam tahun, mengenang masa-masa sekolah, dan jasa-jasa beliau merupakan moment yang langka. Saya lalu memanfaatkan kesempatan itu untuk bercerita tentang banyak hal.

Dapat juara I (foto: koleksi pribadi)

Setelah lomba selesai, ponakan saya dan teman-temannya menjelajahi beragam wahana permainan yang ada di Trans Studio Makassar dengan penuh keceriaan. Lomba marching band and percussion merupakan salah satu event yang diadakan oleh Trans Studio Makassar untuk memfasilitasi generasi muda dalam menyalurkan kreativitas dalam bidang seni, event tersebut juga menjadi hiburan bagi pengunjung Trans Studio Mall sehingga tercipta kebahagiaan dan kenyamanan dalam menjalin hubungan sosial antar sesama pengunjung. Semoga Trans Studio Makassar selalu menyelenggarakan event-event yang melibatkan keluarga, agar terbina keakraban dan terjalin rasa kasih sayang dengan orang-orang tercinta di sekeliling kita yang kini rasa itu perlahan mulai tergerus oleh media social yang semakin personal, sehingga mengabaikan perhatian dan kepedulian di dalam keluarga.

(Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Blog “Connected” Trans Studio Makassar)

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE