Pengantar Jenazah yang Bikin Resah

Beberapa hari lalu ramai diberitakan pengguna jalan yang menjadi korban arogansi iring-iringan pengantar jenazah. Khusus di kota Makassar hal tersebut sudah menjadi pemandangan biasa dan pihak kepolisian pun tak bisa berbuat banyak mengatasinya.

Pengendara roda empat yang belakangan diketahui seorang dokter perempuan muda yang saat itu berpapasan dengan iring-iringan pengantar jenazah hanya bisa pasrah, kaca spion mobil sebelah kanannya rusak parah akibar terjangan kaki pengendara sepeda motor pengantar jenazah. Keluhannya pun ia posting di media sosial yang dalam sekejap mejadi viral dan dimuat oleh beberapa portal berita online tanah air.

Kejadian tersebut bukanlah yang pertama khususnya di kota Makassar yang memang sejak dulu iring-iringan pengantar jenazah dikenal tidak sopan dan arogan serta merugikan pengguna jalan lain. Dalam postingan dokter muda tersebut, saat kejadian bukan hanya mobilnya yang menjadi korban ugal-ugalan konvoi tersebut, mobil yang berada di depannya pun tak luput dari sepakan pengantar jenazah.

Saya pribadi sangat was-was bila bertemu konvoi pengantar jenazah di jalan, terlebih saat lalu lintas padat dan membuat ruas jalan tersendat. Iring-iringan pengantar jenazah seolah tak peduli dan memaksa kendaraan yang ada di depannya untuk menyingkir, bagaimana mau minggir kalau lalu lintas sedang macet. Ketidaksabaran dan arogansi pengantar jenazahlah yang selama ini jadi penyebab masalah hingga berakhir ricuh dengan pengguna jalan lain.

Peran Pihak Kepolisian

Pihak kepolisian pun tak bisa berbuat banyak sehingga dianggap melakukan pembiaran terhadap arak-arakan pengantar jenazah, mungkin saja polisi serba salah dan tak ingin cari masalah mengingat massa pengantar jenazah yang cukup banyak itu kadang membawa balok kayu dan benda-benda keras lainnya ketika mengantar jenazah.

Memang dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pengantar jenazah masuk dalam pengguna jalan yang memperoleh hak prioritas. Hal itu tertuang dalam Pasal 134 Undang-Undang tersebut. Dalam Islam pun jenazah harus dikebumikan sesegera mungkin namun bukan berarti pengantar jenazah bisa berbuat seenaknya dan mengabaikan hak pengguna jalan lain. Tentu bukan simpati yang didapat, malah antipati dan cibiran orang-orang yang merasa diruginkan.

Padahal sejatinya pihak kepolisian menyediakan pengawalan khusus bagi iring-iringan pengantar jenazah untuk menghindari aksi ugal-ugalan serta arogansi di jalan, seperti yang disampaikan Wakil Kepala Polrestabes Makassar AKBP Hotman Sirait, yang dikutip dari Kompas.com.

Warga diimbau untuk meminta pengawalan iring-iringan pengatar jenazah di Polrestabes Makassar dan jajarannya. Para Bhabinkamtibmas di masing-masing kelurahan untuk lebih awal mengetahui tentang ada warga yang meninggal dengan koordinasi pihak kelurahan, RW, dan RT

Pembinaan Warga

Peristiwa yang dialami dokter muda tersebut sudah sering terjadi di Makassar namun kali ini jadi perhatian banyak orang karena aknum pengantar jenazah yang jadi pelaku pengrusakan direkam oleh korban lalu di unggah ke media sosial. Banyak netizen yang mengecam namun tak sedikit pula yang menyalahkan dokter muda tersebut karena bersikeras tak mau minggir.

Sudah jadi rahasia umum jika pengantar jenazah di Makassar selalu menjadi momok bagi pengguna jalan lain, jadi lebih baik mengalah jika tak ingin tertimpa masalah. Mungkin seperti itu yang ingin disampaikan olen netizen yang menyalahkan dokter muda itu.

Apakah kita harus diam saja jika hak-hak sebagai pengguna jalan direbut secara paksa, bahkan menjadi korban oknum-oknum pengantar jenazah dengan kerugian materiil tanpa ada yang mau bertanggung jawab. Jelas itu sebuah tindak kriminal dan bisa dihukum pidana jika dilaporkan kepada pihak berwajib.

Pengguna jalan seakan tak punya pilihan lain, mau tidak mau, bisa atau tidak bisa harus tetap memberikan prioritas saat bertemu dengan iring-iringan pengantar jenazah meski situasi dan kondisi yang tak memungkinkan sekalipun. Atau anda akan bernasib sama seperti dokter muda tersebut, padahal ia sudah berada di jalur yang benar bahkan jalur tersebut memiliki pembatas dengan jalur sebelahnya. Namun saat itu jalur sebelahnya macet sehingga iring-iringan jenazah melawan arus melewati jalur kanan dan memaksa pengguna jalan lain menepi.

Pihak kepolisian seharusnya lebih pro aktif memberi pengarahan tentang etika berlalu lintas khususnya bagi iring-iringan pengatar jenazah, memang kesadaran berlalu lintas kembali lagi ke pribadi masing-masing. Mengutamakan keselamatan dalam berkedara tentu lebih penting daripada sikap sok jagoan di jalan dan menimbulkan keresahan, semoga ke depannya konvoi pengantar jenazah bisa lebih tertib dan menghargai hak-hak pengguna jalan lain.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE