Pengalaman Pertama Melihat USG Transvaginal

Memiliki buah hati yang lucu dan imut adalah dambaan setiap pasangan suami istri tak terkecuali saya dan Inha, sejak resmi menyandang status sebagai suami istri kami tak ingin membuang waktu lagi untuk mempunyai keturunan. Alhamdulillah umur penikahan kami sudah berjalan lima bulan dan Inha sudah memiliki tanda-tanda kehamilan, sebagai calon orangtua tentu saya bahagia dan was-was. Bahagia karena Insya Allah akan dikaruniai keturunan namun was-was dengan rutinitas sang istri yang tentu saja bisa berdampak pada kehamilannya.

Untuk menenangkan rasa was-was itu kami sepakat untuk segera berkonsultasi ke dokter kandungan, sebagai pemegang kartu BPJS kami berencana untuk meminta surat rujukan dari klinik tempat kami terdaftar sebagai peserta BPJS agar bisa digunakan berobat/berkonsultasi pada dokter kandungan yang kami inginkan. Namun keinginan kami untuk memanfaatkan kartu BPJS itu terpaksa harus ditunda mengingat hari ini adalah hari minggu, dokter BPJS tidak melayani ketika hari libur.

Keesokan harinya kami kembali ke klinik tempat kami terdaftar sebagai peserta BPJS, antrian yang super panjang dan jam pelayanan yang hanya sampai jam 10 malam membuat kami harus menunda menggunakan kartu BPJS, dan akhirnya kami pun memilih jalur umum tanpa menggunakan kartu BPJS untuk berobat/berkonsultasi, keputusan ini harus kami ambil mengingat aktivitas Inha yang setiap hari harus menempuh perjalan jauh ke tampat kerja dengan menggunakan sepeda motor sehingga kami ingin memastikan apakah Inha benar-benar hamil, jika iya maka kami ingin berkonsultasi tentang obat atau vitamin apa yang cocok untuk menjaga kehamilannya.

Keesokannya lagi kami ke rumah sakit Awal Bros dan mendaftar sebagai pasien umum di poli kandungan, dokter yang menangani Inha segera melakukan USG abdomen (melalui perut) untuk memastikan apakan sudah ada tanda-tanda kehamilan atau tidak. Namun menurut dokter, Inha yang baru empat hari terlambat haid jika memang benar hamil belum bisa terdeteksi lewat USG abdomen.

Dokter pun menawarkan pemeriksaan dengan USG transvaginal, sebuah alat yang mirip dengan USG biasa namun cara pemakaiannya yang berbeda. Jika USG abdomen digunakan di luar atau dilekatkan pada perut ibu hamil maka USG transvaginal merupakan sebuah alat berbentuk tongkat kecil dengan ujung membulat yang dimasukkan ke dalam vagina. Sejatinya alat ini bukan hanya digunakan untuk ibu hamil tapi bagi wanita yang memiliki masalah pada organ genital atau perdarahan yang abnormal.

Awalnya Inha sempat ragu ketika dokter menawarkan pemeriksaan USG transvaginal, mungkin rasa risi ketika benda asing yang mampir di area sensitifnya jadi pertimbangan. Namun saya coba menyakinkan sekaligus untuk mengusir rasa penasaran kami agar tak lagi menerka-nerka apakah memang Inha positif hamil atau tidak. Hasil pemeriksaannya pun Alhamdulillah ada tanda-tanda kehamilan namun masih berbentuk bulatan kecil karena memang usianya yang masih terhitung hari, Kami disarankan untuk datang lagi dua minggu ke depan untuk mengetahui perkembangannya.

Kami pun bisa lebih tenang dan tak was-was lagi karena dokter memberikan resep berupa obat penguat dan vitamin untuk menjaga kehamilan Inha agar tetap stabil. Kembali ke kartu BPJS, biaya konsultasi, USG transvaginal dan menebus resep obat untuk pasien umum lumayan mahal. Jadi untuk konsultasi selanjutnya kami sepakat menggunakan kartu BPJS meski kabarnya tidak semua tindakan medis dan obat dari dokter ditanggung oleh BPJS, namun setidaknya bisa sedikit meringankan.

Hasil pemeriksaan USG Transvaginal

 

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply to endras Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE