Penantang Maut

“Setiap yang berjiwa pasti akan mengalami yang namanya maut.” Bunyi salah satu Ayat Al Quran. Seluruh makhluk hidup yang ada di dunia ini pasti akan menemui si maut, kapan dan di mana maut akan menjemput? Itu rahasia Allah dan tak seorang pun tahu. Namun di jaman modern sekarang ini, tak sedikit manusia yang berani menantang maut seolah percaya jika manusia punya nyawa lebih dari satu (mirip kucing kalee), hingga keselamatan jiwa raga ditempatkan pada urutan kesekian. Ada banyak penyebab kematian, seperti umur yang sudah mentok (alias sudah tiba ajal), karena penyakit yang mematikan, karena tindak kriminal yang berujung maut, hingga banyaknya terjadi kecelakaan lalu lintas yang menurut organisasi kesehatan dunia (WHO ) menjadi pembunuh no. 3 di dunia setelah HIV/AIDS dan TBC. 

Berdasarkan data Dirjen Perhubungan Darat, sepanjang 2012 sedikitnya 32.000 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Di mana 67% korban kecelakaan adalah mereka yang berusia produktif 22-50 tahun (sumber: dephub). Nah, kebayang kan begitu banyak nyawa manusia yang melayang sia-sia, namun anehnya data tersebut tak membuat manusia sadar jika keselamatan berlalu lintas sangat penting, buktinya tiap tahun jumlah korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas semakin bertambah. Menurut data kecelakaan yang dilansir Dirlantas Polda Metro Jaya sejak 2006 hingga Mei 2011, pada 2006 sebanyak 4.407 kasus dengan jumlah korban 5.688, sebanyak 1.128 meninggal dunia. Pada 2007 sebanyak 5.154 kasus, dengan jumlah korban 6.742 dan 999 meninggal dunia. Pada 2008 tercatat 6.393 kasus dengan jumlah korban 8.083, sebanyak 1.169 meninggal dunia. Pada 2009 ada sekira 7.329 kasus, jumlah korban 9.624 dan sekitar 1.071 meninggal dunia. Pada 2010 tercatat 8.235 kasus dengan jumlah korban 10.346, sebanyak 1.048 meninggal dunia. Pada 2011 (hingga Mei) ada 3.288 kasus, jumlah korban 4.149 dan sebanyak 487 meninggal dunia (Sumber: rimanews).

Banyak faktor yang memengaruhi terjadinya kecelakaan lalu lintas (selain karena memang sebagai musibah), juga ada faktor manusia, faktor kendaraan, faktor jalan dan lingkungan. Faktor manusia berada diurutan pertama, selain karena tingkat kesadaran berlalu lintas yang masih rendah, manusia juga kurang menghargai pemberian Tuhan (nyawa). Berikut beberapa penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas karena kelalaian manusia itu sendiri (Human Erorr).

1. Pilih Nyawa atau Gadget.

Tak dipungkiri perkembangan teknologi membuat manusia semakin kalap untuk melahap berbagai macam informasi. Manusia yang hidup di kota-kota besar bahkan hingga kepelosok-pelosok desa tentu sudah akrab dengan yang namanya perangkat teknologi komunikasi semisal, handphone, phablet, tablet dan lain sebagainya. Saking akrabnya, manusia seakan tak bisa lepas dari gadget canggih yang secara tak langsung mengancam keselamatan si penggunanya bila digunakan pada saat berkendara. Menerima telepon ketika sedang di atas motor, membaca/mengetik sms di lampu merah, bahkan update status di tengah kemacetan sudah menjadi pemandangan umum dan sering kita jumpai. Manusia lebih mementingkan bunyi gadget mereka hingga rela mempertaruhkan nyawa, ironis.

2. Berkendara Bukan Bergaya.

Saat berkendara, kita dituntun untuk selalu waspada dan siaga, mematuhi rambu-rambu lalul lintas, berkendara secara wajar dan tak ugal-ugalan. Jalan itu milik umum bukan milik nenek moyang orang-orang yang suka ngebut-ngebut hingga mengganggu kenyamanan pengendara lain bahkan bisa mengancam keselamatan orang lain. Selain itu pengendara juga sering melakukan hal-hal yang berbahaya dan berisiko terjadinya kecelakaan, seperti mengendarai motor yang melebihi kapasitas. Motor dirancang hanya untuk dua orang bukan untuk lima orang (kecuali jika anda pemain sirkus), tentu hal ini sangat berisiko terjadinya kecelakaan, penggunaan pakaian ketat, seba mini dan seksi (bagi wanita) sangat tak dianjurkan, selain karena bisa memecah konsentrasi pengendara lain, juga bisa memicu tindakan kriminal dan tentu saja merugikan wanita. Jadi berkendaralah dengan wajar, hargailah pengendara lain dengan begitu anda juga akan dihargai.

3. Jalur Maut.

Jalan di kota-kota besar sudah ditata sedemikian rupa agar nyaman dilalui oleh para pengendara. Namun tak jarang kita jumpai orang-orang yang “bernyali” lebih dan menempuh jalur maut atau jalur yang berlawanan arah, tentu ini sangat membahayakan pengendara itu sendiri ataupun pengendara lain. Kadang efisiensi waktu menjadi alasan, jarak tempuh yang lebih lama jika ingin sampai ke tempat tujuan dan mengikuti jalur yang benar. Atau memangkas jarak tempuh namun dengan risiko melawan arus lalu lintas menjadi pilihan banyak orang. Himbauan pihak kepolisian yang banyak kita temui di jalan, seperti “Pelanggaran adalah awal dari kecelakaan.” seakan tak mampu meredam ego pengendara yang lebih mementingkan ketepatan waktu agar sampai tujuan dengan cepat dan mengabaikan keselamatan yang sejatinya jauh lebih penting.

Musibah bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja, namun kita bisa meminimalisir bahkan mencegah risiko terjadinya kecelakaan di jalan raya dengan mematuhi rambu-rambu lalu lintas, selalu waspada dan siaga serta mengutamakan safety riding saat berkendara. Jadilah pengguna jalan yang bijak, sabar berkendara dan menghargai pengguna jalan lain. Manusia adalah makhluk sosial yang cerdas bukan penantang maut yang berfikiran cadas hingga tak peduli dengan nyawa titipan Tuhan.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE