Nostalgia Dilan

image by sidomi.com

Demam Dilan sudah menggema sejak awal pemutarannya di bioskop-bioskop, hingga sekarang kurang lebih tiga minggu berlalu film Dilan masih menyita perhatian banyak mata khususnya para ABG, tante-tante, bahkan ibu-ibu.

Istri saya termasuk salah satu orang yang terjangkit demam Dilan, entah sudah berapa kali ia bilang kalau film itu bagus dan saya harus nonton. Memang waktu itu istri saya nonton bareng teman-teman kantornya dan kebetulan saya tidak bisa ikut gabung, masa gabung sama ibu-ibu?Jarang-jarang film remaja percintaan membuat ibu-ibu rela antre di bioskop.

Tapi melihat besarnya antusias penonton yang sudah menyaksikan film yang diadaptasi dari buku dengan judul yang sama itu mulai dari media sosial, komentar para artis, hingga meme-meme yang mengutip salah satu scene dan banyak beredar di internet sudah cukup membuat saya percaya kalau film ini pasti menarik.

Kemarin, saya dan istri menyempatkan diri nonton film Dilan 1990 di bioskop dekat rumah, kebetulan CGV Cinemas baru buka di Daya Grand Square dan dapat diskon untuk dua tiket. Lumayanlah hemat di tengah bulan. Selain itu di CGV Cinemas juga tersedia mesin Self Ticketing, jadi beli tiket secara online bisa langsung dicetak sendiri di mesin tersebut. Tidak perlu antre dan pastinya lebih nyaman.

Sebelumnya saya tidak punya deskripsi khusus tentang karakter Dilan kecuali tahu dia cowok penggombal, itu kata istri saya yang memang sudah lebih dulu nonton. Sebagai sesama cowok tentu sudah tak asing dengan istilah gombal, bisa jadi cowok itu playboy, tukang PHP-in cewek, atau cowok yang senang tebar pesona. Namun setelah saya nonton sendiri filmnya, ternyata persepsi saya tentang cowok penggombal tersebut seketika sirna.

Akting Iqbaal Ramadhan di film yang kini sudah ditonton empat juta orang di hari ke-12 pemutarannya itu membawa karakter cowok idaman cewek di zamannya, bahkan cewek zaman sekarang ikutan baper setelah nonton Dilan 1990. Perangainya yang dingin, cuek, dan penuh kejutan mewakili karakter cowok yang didambakan banyak wanita, sebagai cowok yang besar di tahun tersebut saya tahu betul suka dukanya PDK sama cewek dengan dukungan teknologi ala kadarnya.

Seolah diajak bernostalgia, beberapa adegan seperti berkirim surat via teman sekolah, menelepon dengan telepon koin, buku TTS, kaos dengan gambar-gambar yang populer di zaman itu, hingga poster-poster grup band yang ada di kamar Dilan semuanya mengingatkan kenangan-kenangan ketika saya masih berumur belasan. Dan saya yakin anak zaman now yang tumbuh di era internet tak akan merasakan sensasi serupa, suguhan alur cerita yang jauh dari lebay dan sok romantis ditambah dengan bumbu rayuan-rayuan maut sudah cukup membuat ABG sekarang kelepek-kelepek.

Dan memang cerita film Dilan 1990 cukup sederhana tanpa koflik yang membuat emosi penonton meledak-ledak, pemain yang memerankan setiap karakter juga pas karena yang ditonjolkan adalah kisah percintaan Dilan dan Milea. Penyampaian arti mencintai dan dicintai yang juga sederhana pada zaman itu sangat mudah dicerna oleh penonton, tentu saja tak bisa disamakan dengan percintaan zaman sekarang yang sudah terkontaminasi internet dan tak bisa lepas dari jejaring sosial.

Sebagai penonton awam saya terhibur dengan film Dilan 1990 dan merekomendasikan anda-anda yang besar di tahun 90-an agar menonton film ini sebagai luapan nostalgia. Setiap orang punya zamannya sendiri-sendiri dan mengklaim zaman mereka paling baik khususnya masa SMA, namun setiap zaman punya cerita masing-masing dan keunikan tersendiri. Jadi nikmati saja.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE