Nasib Dunia Pendidikan Di Era Digital

IMAG0026

Para pelajar dan mahasiswa yang tumbuh di era digital tentu merasakan beragam dampak positif dari perkembangan teknologi di dunia pendidikan khususnya internet yang berafiliasi pada sistem informasi dan telekomunikasi. Bahan ajar yang diberikan oleh guru atau dosen bisa dijabarkan lebih luas dengan bantuan internet agar mudah dimengerti, namun kemudahan tersebut kadang tak berbanding lurus dengan penggunaan yang tepat khususnya untuk menunjang sistem belajar mengajar.

Menjamurnya layanan media sosial, aplikasi instan messaging, dan beragam fitur hiburan pada smartphone dan tablet yang ditawarkan secara online menjadi salah satu faktor pemanfaatan teknologi yang tak sesuai ekspektasi di lingkungan sekolah atau kampus. Pelajar dan mahasiswa yang dituntut untuk lebih pro aktif meningkatkan budaya literasi yang dinilai masih sangat kurang menurut data UNESCO seakan tak mampu membendung derasnya tren layanan jejaring sosial dan aplikasi chatting tersebut.

Jadi tak heran jika pelajar atau mahasiswa lebih senang Facebook-kan, Twitter-an, WhatsApp-an ketika jam belajar berlangsung dibanding memerhatikan materi yang dijelaskan oleh guru atau dosen. Sistem pengajaran yang masih bersifat konvensional turut berperan dalam perilaku pelajar dan mahasiswa yang kurang aktif saat menyerap bahan ajar yang diberikan, kini sudah saatnya menerapkan sistem belajar berkonsep global dan mendukung LMS (Learning Management System) pada dunia pendidikan yang tumbuh di era digital.

Budaya Baca dan Tulis yang Terpinggirkan

Ketika tren media sosial dan instan messaging populer, hampir semua smartphone dan tablet menjadikan layanan OTT tersebut sebagai nilai jual yang wajib tersedia pada sebuah perangkat telekomunikasi. Fungsinya pun tentu saja untuk memfasilitasi penggunanya saat berinteraksi di jagat maya, bertukar informasi, membaca berita, hingga bergosip sampai menimbulkan fitnah dan teror bagi pengguna yang lain pun kini marak terjadi.

Hal tersebut merupakan sisi lain dari perkembangan teknologi yang kebablasan tanpa kontrol penggunanya, dan sudah banyak kasus terjadi akibat dari penggunaan layanan media sosial dan aplikasi chatting yang menyulut fitnah, kebencian, dan berakhir di pengadilan.

Pelajar dan mahasiswa yang setiap hari bersinggungan dengan media sosial seolah turut meredam semangat mereka untuk membaca dan menulis, budaya literasi yang seharusnya menjadi indentitas mereka sebagai generasi penerus bangsa kini tergantikan dengan budaya baca dan tulis ala media sosial.

Memang di satu sisi membaca dan menulis di media sosial menawarkan kepraktisan, efektif, dan murah namun membaca buku dan menulis secara konvensional tetap menjadi sebuah pembelajaran yang penting untuk pelajar dan mahasiswa. Buku, selain menjadi sumber informasi yang utama juga sebagai wadah untuk melakukan verifikasi jika memerlukan data yang valid.

Kedigdayaan media sosial juga berimbas pada perpustakaan yang kian hari mengalami penurunan pengunjung, buku-buku yang ada di perpustakaan kini kalah menarik jika di bandingkan e-book yang ditawarkan secara online langsung ke smartphone pelajar dan mahasiswa. Agar tak punah, perpustakaan pun kini bertransformasi menjadi perpustakaan daring atau e-library.

Apakah keberadaan e-library sudah mampu meningkatkan minat baca dan tulis pelajar atau mahasiswa? Sejauh ini sosialisasi e-library belum optimal. Bagaimana bisa optimal jika koneksi internet di sekolah dan kampus-kampus masih lamban, untuk melakukan riset dan verifikasi data tentu lebih efisien dilakukan pada e-library. Namun efisiensi dan efektivitas tak akan tercapai jika tak ditunjang dengan akses internet yang mumpuni.

*****

Pendidikan berbasis digital sudah saatnya menjadi kebutuhan di zaman teknologi dan informasi yang semakin berkembang pesat, tak hanya metode belajar mengajar saja yang berkonsep global namun bahan ajar dan sumber rujukan pelajaran seperti buku dan perpustakaan sudah harus bertransformasi digital. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memberikan semangat baru bagi pelajar dan mahasiswa ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply to D Sukmana Adi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE