Miskin Ide

Awal tahun ini saya benar-benar dilanda kemiskinan, lebih tepatnya kemiskinan ide. Padahal saya pernah membuat tulisan tentang tips memancing ide yang sepertinya kurang ngefek buat saya, memang kadang lebih mudah berkata-kata dalam teori dibandingkan melakukannya (action) dalam kehidupan nyata. Salah satu resep untuk menjadi penulis adalah harus peka terhadap keadaan sekitar atau fenomena yang terjadi di masyarakat.

Banyak hal yang bisa dijadikan ide tulisan seperti, kecelakaan Air Asia di penghujung tahun 2014, turunnya harga BBM bersubsidi, ditangkapnya Wakil Ketua KPK, Bambang Wijdojanto yang katanya merupakan aksi balasan dari penetapan Budi Gunawan sebagai tersangka KPK disaat dirinya disiapkan oleh pak Presiden sebagai calon tunggal Kapolri dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa nasional yang bisa dijadikan ide menulis.

Mungkin ide semacam itu terlalu berat bagi penulis amatir dan masih perlu banyak belajar seperti saya, bukankah saran dari para penulis-penulis terkenal selalu ingin memudahkan penulis pemula seperti tulislah apa yang kamu ketahui, tulislah aktivitas keseharian yang kamu alami dengan gaya bahasa sehari-hari, tulislah apa yang menjadi passion-mu, tulislah kesedihanmu, tulislah kebahagianmu dan masih banyak lagi tips-tips menulis yang sangat membantu bagi para penulis pemula untuk menemukan ide.

Namun seperti yang saya katakan di awal bahwa mempraktekkan saran-saran tersebut tidak semudah mengucapkannya, banyak kejadian yang sebenarnya menarik jika dilihat dari kacamata penulis namun tampak biasa karena kita melihatnya dengan kacamata orang awam yang tidak perlu peka, cukup tahu saja tidak lebih dari itu.

Penyakit seseorang yang suka menulis namun tiba-tiba kehilang mood untuk menulis adalah ketika ia kehabisan ide atau merasa fakir miskin ide, padahal ide bertebaran dimana-mana hanya butuh sedikit usaha untuk menangkapnya. Seperti beberapa hari yang lalu ketika saya selesai shalat Subuh di masjid depan rumah, Kamil yang juga sebagai bujang masjid mendapat giliran untuk membawakan kultum (kuliah tujuh menit).

Dalam ceramahnya ia selalu mengatakan “Hidup itu indah” dan saya yakin jika judul ceramahnya bukan itu namun karena seringnya ia mengatakan “Hidup itu indah” sampai-sampai saya iseng dengan menambah kalimat “Hidup itu indah kalau punya duit, kalau tidak punya duit?” waktu itu saya ingin membuat judul postingan Hidup itu Indah berangkat dari kultum yang disampaikan oleh Kamil, namun saya sudah terlanjur dilanda miskin ide.

Akhir bulan Januari ini saya baru membuat tiga postingan termasuk tulisan ini yang saya tulis di menit-menit akhir, target delapan tulisan dalam sebulan gagal saya penuhi dan harus mendapat hukuman sebagai bukti komitmen diri dalam memacu semangat untuk tetap terus menulis. Semoga bulan depan bisa lebih peka terhadap setiap peristiwa dan melihat segala sesuatunya dengan kacamata penulis.

Tidak ada kata malas dalam kamus seseorang yang hobi menulis, bahkan manulislah ketika kamu sedang tidak memiliki ide dan inilah contoh tulisan yang saya sendiri tidak merasa punya ide untuk menulisnya. Apa yang terlintas di kepala maka itulah yang saya tulis. So, jangan pernah merasa miskin ide karena banyak ide bertebaran di sekitar kita yang siap untuk dipungut.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE