Menulis Lepas

Rindu masa-masa di mana menulis itu tak perlu pusing cari ide, tak perlu mikir cara nambah visitor, atau tak perlu kesal kalau yang komen dikit.

Ngeblog sepuluh tahun yang lalu memang berbeda dibanding sekarang, saya yang mengenal dunia blogging sejak tahun 2009 pun sangat merasakan perbedaan itu. Dulu, dengan hanya melihat sebuah gambar atau foto maka ide pun meluap ke mana-mana bahkan rutinitas bangun pagi bisa menjelma jadi tulisan ringan yang menurut saya apa adanya dan membacanya pun tak bikin lelah otak.

Seiring perkembangan teknologi membuat dunia blogging mengalami metamorfosis, saat ini ngeblog terasa lebih berat buat mereka yang menjadikan blog hanya sebagai wadah untuk menampung hobi menulis. Memang tak semuanya, namun jika mereka berada pada lingkungan yang notabene blogger-blogger pemburu visitor atau menyasar pamasang iklan tentu saja keinginan agar blognya juga bisa menghasilkan rupiah akan selalu menghantui.

Well, pilihan menjadi blogger alamiah atau blogger rupiah kembali pada diri masing-masih dan kembali pada tujuan awal seseorang ngeblog. Saya pun tak menafikan bahwa sah-sah saja jika ada blogger yang awalnya menulis untuk dirinya sendiri namun pada akhirnya ia ikut terjun ke dunia blogging yang berafiliasi dengan duit, toh semua orang pasti butuh duit. Jika pun ada segelintir orang yang merasa ngeblog zaman sekarang tak sesimpel dulu, mungkin iya. Bagi orang yang tujuannya ngeblog buat duit.

Beradaptasi dengan lingkungan itu perlu, terutama bagi orang-orang yang kesehariannya bersinggungan dengan teknologi. Dunia blogging yang dinamis membutuhkan blogger-blogger yang mampu bermetamorfosis, tak harus perfeksionis untuk bisa bertahan di era digital seperti saat ini karena yang terpenting konsistensi buat yang memang hobi ngeblog harus terus dijaga.

Namun kadang saya juga kangen masa-masa ngeblog apa adanya, menulis lepas tanpa diburu deadline atau terikat aturan-aturan khusus yang sebenarnya mengekang ide untuk beranak pinak. Hasilnya pun terasa saat menulis kata per kata, menyusun kalimat demi kalimat, hingga menjadi sebuah tulisan yang utuh. Jika dibaca sepertinya ada value yang hilang.

Akhir-akhir ini saat dunia blogging dihiasi oleh beragam aliran blog mulai dari food blogger, techno blogger, hingga travel blogger dan beragam blog-blog yang mengkhususkan diri pada tema tertentu. Tak sedikit pula yang menyindir keberadaan blog personal yang kini tak lagi personal, apalagi kalau bukan karena konten blog tersebut berisi artikel-artikel pesanan atau di bagian sidebar-nya dipenuhi iklan.

Menurut saya hal itu sah-sah saja selama tak meninggalkan identitas blog tersebut yang awalnya sebagai blog pribadi, cara itu merupakan bentuk adaptasi digital dari sebuah blog untuk terus eksis. Dulu, menulis segala aktivitas sehari-hari di portal blog lebih bergengsi dibanding buku tulis, ada value yang dimiliki dan bahkan banyak yang meraup sukses berkat rutinitas ngeblognya itu.

Kalau pun ada seorang blogger ber-genre personal blog ingin meramaikan blognya dengan konten-konten berbayar, itu hak si pemilik blog. Bahkan menurut saya itu merupakan bentuk apresiasi dari orang lain yang menganggap bahwa tulisan blogger tersebut dari sisi bisnis punya nilai jual. Namun sekali lagi, menurut saya identitas sebuah blog pribadi harus tetap ada bahkan harus lebih dominan dibanding genre-genre blog yang memang berkutat pada satu topik saja.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE