Menulis itu Percuma

ikapi

foto : http://pojoksatu.id

Faktor menjadi penulis itu bukan bakat, tapi kerja keras.

-Dewi Lestari

Kutiapan di atas jelas menyemangati siapa saja untuk menulis meski ia tak punya bakat atau lahir dari keluarga yang bukan penulis. Seseorang yang ingin menulis atau memulai sebuah tulisan kadang terbentur stigma bahwa ia harus punya bakatlah, keturunan penulislah, atau tumbuh di lingkungan yang gemar menulis dan beragam pengaruh-pengaruh lain yang menyurutkan semangat untuk menulis.

Saya pun mengalami pemikiran-pemikiran seperti itu ketika keinginan menulis muncul pertama kali, dan apa yang saya lakukan saat itu? Tetap menulis apa yang ingin saya tulis. Andai saya menuruti keraguan-keraguan tersebut mungkin hingga sekarang saya tak akan pernah memulai sebuah tulisan.

Seperti kutipan Dee Lestari di awal bahwa kemampuan menulis itu bukan bakat, tapi kerja keras yang dilakukan terus-menerus dan tak kenal lelah. Seperti pemain bola dunia yang tak sedikit lahir dan tumbuh dari keluarga yang bukan pesepakbola, namun mereka punya kemauan, keyakinan, dan kerja keras berlatih agar bisa menjadi pemain profesional hingga akhirnya menjadi pemain hebat bahkan menjadi seorang legenda.

Menulis pun seperti itu, saat keinginan menulis datang maka segeralah menulis. Apa yang terbesit dalam hati dan pikiran itulah yang menjadi langkah awal untuk memulai sebuah tulisan, entah nanti tulisan itu bagus atau tidak, apakah sesuai dengan kaidah penulisan yang benar atau tidak, dibaca orang atau tidak itu urusan belakang. Yang terpenting mulailah menulis.

Apakah hanya menulis dan terus menulis? Secara umum, iya. Tapi faktor penunjang agar tulisan semakin bagus dan berkualitas tentu beragam. Menulis jadi percuma kalau tak diikuti dengan kegemaran membaca, belajar dari orang-orang yang lebih berpengalaman menulis juga perlu, dan semakin komplit jika punya waktu mengikuti workshop kepenulisan.

Let’s You’r Passion

Selain kerja keras, seorang penulis juga harus cerdas dan punya wawasan luas. Darimana semua kemampuan itu datang? Bukan dari langit atau dari pintu ajaib, tentu dari kegemaran membaca dan kreativitas yang terus digali agar semakin berkembang. Penulis yang hanya sekadar menulis ibarat seorang atlet lari yang hanya lari di tempat, ia memang bisa berlari tapi tak akan bisa mencapai garis finish.

Saya pun terus berusaha meningkatkan kemampuan menulis dengan berbagai cara, salah satunya dengan let’s my passion. Saya suka nonton bola dan mengikuti perkembangan teknologi khususnya smartphone, sehingga bahan bacaan saya pun tak jauh-jauh dari kedua topik itu.

Awalnya saya sering menulis cerpen berangkat dari kegemaran saya membaca novel juga cerita-cerita pendek yang ada di koran dan majalah, sebagai anak ABG jaman dulu pun saya sering curhat di buku harian meski bukan untuk konsumsi publik. Namun lama-kelamaan saya pun menemukan kenyamanan menulis saat mengomentari permainan tim bola kesayangan dan menceritakan pengalaman selama menggunakan sebuah smartphone.

Mungkin itu adalah tips paling ampuh menurut saya agar semangat menulis terus berkobar, dan untuk menjaga semangat itu supaya tak padam maka konsistenlah menulis. Menghasilkan tulisan yang berkualitas dan enak dibaca itu relatif tergantung dari orang yang membacanya, namun yang terpenting adalah menulislah sesuai kenyamanan hati. Lets’ you’r passion niscaya kata demi kata akan mengalir dengan sendirinya. Selamat menulis.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply to Ira duniabiza Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE