Menjadi Super Papa

p_20161001_074259

Evan, mama, dan eyang

Pagi yang tak biasa, pukul 5 subuh seisi rumah sudah terbangun. Setelah sholat subuh mama mulai bersiap-siap ke bandara, tak lupa pula si pangeran Evan terjaga lebih cepat mungkin merasa terganggu dengan kegaduhan mama yang lagi berdandan. Jam mandi pagi si pangeran terpaksa dimajukan karena ia ingin diajak mengantar mamanya ke bandara, syukurlah meski masih terkantuk-kantuk Evan tak rewel bahkan cerewet dengan bahasa khas anak balita saat dimandikan.

Inha akan melakukan kunjungan kerja ke Jepang selama kurang lebih 24 hari namun tiga hari sebelumnya ia dan rekan-rekan harus ke Jakarta untuk menerima pembekalan dari kementerian Republik Indonesia. Hampir sebulan saya akan menggantikan peran mama sebagai ibu yang mengurus seorang anak, Evan yang baru berumur10 bulan. Anak yang sedang tumbuh dengan lucunya dan lagi semangat-semangatnya belajar jalan.

Istilah kerennya super papa yang mampu mengerjakan peran seorang ibu yang mengurus semua keperluan anak meski tak 100 persen, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Syukurlah masih ada eyang yang kadang membantu mengurus Evan, di hari kerja saya kebagian jatah menjaga Evan saat sore hingga esok pagi. Namun ketika hari libur tentu tak etis saya menyerahkan tanggung jawab menjaga anak pada orang tua yang sudah lanjut usia, jadi sebisa mungkin sayalah yang menjaga Evan seharian penuh ketika hari libur tiba.

Selama ini Evan tak pernah sekalipun berpisah dengan mamanya dalam waktu yang lama kecuali pada hari kerja, dan keberangkatan mama kali ini membuat ia tak mampu membendung air mata. Saat tiba di bandara menjadi moment yang paling mengharukan, pelukan mama pada Evan mengisyaratkan jika ikatan batin seorang ibu dan anak bagitu kuat. Selama ini Evan masih mengkonsumsi ASI eksklusif dan itu yang membuatnya sangat berat berpisah dengan Evan.

Awalnya ia ragu untuk pergi atau tidak namun saya katakan ini kesempatan langka yang tak semua orang bisa dapatkan, pergi menimba ilmu di negeri Sakura dengan beragam kelebihan yang dimiliki sebagai salah satu negara maju tentu menjadi pengalaman berharga dalam hidup. Mungkin saja setelah perjalanan dinas tersebut akan berdampak positif dengan kariernya dalam pekerjaan.

Pertimbangan anak dan suamin menjadi kendala yang membuat ia awalnya sulit menentukan untuk menerima tawaran ke Jepang atau tidak, lalu saya coba memberi solusi. Evan sekarang sudah cukup gede dan semakin cerdas, dia bukan lagi anak bayi yang harus di dampingi saat tidur ataupun bermain selama 24 jam. Meski di usianya yang sekarang Evan memang butuh pengawasan lebih mengingat ia sudah merangkak dan sedikit demi sedikit mulai belajar jalan, tentu butuh tenaga ekstra untuk menjaganya. Tapi tenang saja serahkan semua sama papa, ujar saya kala itu.

Syukurlah eyang siap membantu saya mengurus Evan selama mamanya berada di Jepang dan itu yang membuat ia sedikit lega serta siap menerima tawaran itu dan menginggalkan Evan dalam waktu yang cukup lama. Tentu saja saya harus mengerti jika porsi eyang saat menjaga Evan harus lebih kecil dibanding saya sebagai papanya, mulai dari menyuapi, membuat dan meminumkannya susu, memandikan hingga menidurkan Evan adalah tugas saya saat tiba di rumah.

Sudah dua hari ini Evan tidur tanpa di dampingi mamanya, syukurlah dia tak pernah rewel berat karena rindu dan mencari mamanya. Dan selama dua hari ini juga saya merasakan beratnya menjadi seorang ibu terlebih lagi untuk ibu yang bekerja, saat tiba di rumah sudah disambut dengan pekerjaan rumah yang tak kalah beratnya dibanding kerjaan kantor. Semoga perjalanan istri tercinta menyenangkan selama di sana dan pulang tanpa kurang satu apapun, we will miss you mom.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE