Mengapa Saya Menulis

ide-menulis-artikel

image http://www.helozi.com

Kadang sebuah pertanyaan tak butuh jawaban verbal, cukup dengan coretan tinta di atas kertas tebal sudah cukup untuk menjelaskannya. Seperti pertanyaan mengapa saya menulis.

Anak berusia belasan tahun itu tampak sibuk mencari sebuah buku di dalam kamar tidur yang berantakan, bukan buku biasa. Buku yang menjadi teman kala ia sendiri, buku yang menghiburnya kala ia sedih, dan buku yang menenangkannya kala ia gusar. Buku itu selalu ia sapa saat pulang dari sekolah, ketika selesai bermain, atau setelah ia mengalami sebuah kejadian yang dianggapnya berharga dan tak ingin melupakannya.

Di buku itu ia bebas berkata apa saja, bermimpi sesukanya, dan bercita-cita menjadi apa saja yang ia mau. Ia ingin buku itu kelak menjadi saksi sejarah perjalanan hidupnya, buku yang berisi jejak-jejak kenangan yang terlalu sayang untuk dilupakan begitu saja. Ia ingin buku itu menjadi warisan berharga untuk penerus keturunannya, terlepas dari apakah ia suka atau tidak dengan warisan itu.

Setelah anak itu menemukan buku catatan hariannya, segera ia menulis keresahannya pada seorang gadis. Teman sekelas yang diam-diam ia menaruh hati padanya, cinta monyet lebih tepatnya. Semua perasaan anak itu tercurah dalam buku harian, mulai dari awal rasa itu tumbuh hingga mekar menjadi cinta yang tegar meski gadis itu tak pernah tahu. Buku harian itu menjadi tempat pelarian cinta diam-diamnya, rasa bahagia, dan keluh-kesah tergambar jelas di dalamnya.

Hingga akhirnya gadis itu akan pergi, melanjutkan sekolah ke kota lain mengikuti orang tuanya yang dipindahtugaskan. Hati anak lelaki itu makin rancau, keberanian untuk mengungkapkan perasaannya tak jua muncul. Tulisan dalam buku harian tentang gadis itu hampir sampai di halaman akhir, namun keberanian yang ditunggu tak pernah muncul. Gadis itu pun benar-benar pergi, meninggalkan anak lelaki yang masih setia mendekap cinta dalam hatinya, dalam buku harian yang membuat sosok gadis itu tetap abadi.

*****

Kini anak lelaki itu tumbuh menjadi pria dewasa bersama kegemaran menulisnya yang terus terjaga. Bukan hanya yang ia rasakan dan yang ia alami saja yang wajib ditulis, namun apa yang ia harapkan dan cita-citakan di masa depan sudah terpampang jelas dalam setiap goresan penanya.

Kadang pertanyaan “mengapa saya menulis” terngiang-ngiang dalam benaknya, bahkan terlontar dari orang-orang terdekat. Pertanyaan sederhana namun menurutnya butuh keikhlasan dan kejujuran untuk menjawabnya.

Ingatannya pun menerawang ke masa lalu saat ia masih berumur belasan tahun, masa di mana ia baru pertama kali menulis, masa di mana ia mulai akrab dengan buku harian, dan masa di mana ia harus kebal dengan olok-olok teman sepermainan yang menganggap hobi menulis buku harian itu hanya milik gadis belia.

Namun semangat menulis anak lelaki itu tak pernah surut, bahkan semakin melecut bak kuda liar yang kegirangan karena terlepas dari ikatan. Menulis menjadikan anak lelaki itu lebih percaya diri dalam berkata-kata, lebih kaya bahan dalam mengeksplor dan mengungkapkan kalimat. Kalah telak dibanding kemampuan bicaranya yang tiba-tiba meredup saat diminta memberi sepatah dua kata di atas podium atau beradu argumen dalam sebuah forum diskusi.

Menulis membuatnya seperti punya dunia sendiri, di sanalah ia menemukan gairah dan jati diri yang selama ini ia cari.

Selain itu, menulis membuatnya selalu akrab dengan ingatan. Bahkan kejadian belasan tahun lalu yang tak mampu tersimpan dalam ingatan seorang manusia masih terekam jelas dalam buku hariannya. Kebiasaanya menulis sejak duduk dibangku SMP membuat segala kenangan dan kerinduannya pada teman-teman sepermainan, teman seperjuangan di bangku kuliah, hingga teman sependeritaan di tempat kerja dapat terobati setiap saat.

Seiring waktu, kegiatan menulis tak hanya ia lakukan di buku harian. Perkembangan zaman dan teknologi membawa perubahan pada kegemarannya menulis, buku harian ia tinggalkan dan beralih ke media sosial, blog. Awal mula perkenalannya dengan blog berangkat dari ikut-ikutan dengan tren masa itu yang populer dengan media mirip website, betapa bangganya orang yang menyematkan alamat blog di kartu nama atau biodata online yang mereka miliki. Meski isinya masih seputar curahan hati, anak lelaki itu pun membuat sebuah blog personal yang berisi tentang kegiatan sehari-hari.

*****

Usianya makin matang, anak lelaki itu kini semakin dewasa dalam bersikap dan berucap. Tulisannya kini tak hanya berkutat pada perasaan dan aktivitas sehari-hari, apa yang mengganjal di pikiran dan yang tak sesuai dengan harapan segera ia tuangkan dalam tulisan. Entah itu kejadian di lingkungan rumah, di tempat kerja, atau berita-berita hangat yang menjadi perbincangan orang. Semua tak luput dari sumber kritiknya jika memang ia anggap tak sejalan dengan keinginannya.

Jika pertanyaan “mengapa saya menulis” kembali menyeruak dalam benak, anak lelaki itu tak akan menjawabnya secara verbal, ia akan menjawabnya dengan tindakan yang akan menghasilkan sebuah karya dalam bentuk tulisan. Baginya apa yang ia lakukan dengan senang hati seperti kegemarannya menulis merupakan gairah yang menyemangatinya untuk terus menikmati hidup.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE