Mencintai Diri

Tak harus dengan tetesan keringat untuk mencintai diri sendiri. Tak harus dengan derai air mata untuk membuat orang lain terluka, walau itu sering kali kita lakukan. Sadarlah dengan apa yang kita perbuat, karena semua itu akan kembali pada diri kita. Kadang kita merasa jatuh dengan bergelimang amarah dan kesalahan, dan tak jarang hati ini bergerilya mencari hati yang semestinya terlarang. “Sudah, jangan pernah sesali semua yang telah terjadi. Biarkan dia kecewa dan menangis darah pun kau tak harus peduli dengannya.” kata hati yang keluar dari jalur nurani. “Sayangi dia, kau tak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati bila kau tak mencintai dia.” kata hati yang murni dengan ketulusan raga. Lumrah jika konflik batin merajalela dengan seuntai mutiara yang tak berkilau, wajar bila hati meronta untuk dikasihi walau itu tak merubah segalanya jadi lebih baik.

“Kau sudah mati. Di alam mimpiku kau sudah mati dengan arwah yang tersesat tak bertuah. Apa yang kau tebar adalah malapetaka yang akan membuatmu tersiksa.” Teriakan yang tak berujung dan penuh dengan emosi jiwa. Percuma hidup dalam rasa bersalah, karena luka itu akan selalu menimbulkan rasa yang amat sangat sakit. Percuma kau berlutut menyembah dewa cinta yang tak punya kekuatan apapun, menyelamatkan hati yang terluka pun tenaga itu tak akan setia menemani. Cukup derita dan air mata ini menetes, bukan untuk manusia yang tak mengerti arti cinta sejati. Memaksa diri untuk beranjak meninggalkan raga yang rapuh dan lemah, adalah tindakan yang pasti untuk seorang pencinta palsu.

“Bunuhlah dirimu, bunuhlah ragamu, bunuhlah hatimu segera. Agar tak kembali menguak luka yang selama ini tertanam.” Toh aku tak akan mengumbar air mata untukmu. Terbiasa jiwa ini terluka tapi tak pernah sesakit ini, terbiasa hati ini kecewa tapi tak pernah meronta seperti ini. Hilang ada karena pernah ada, jangan pernah mengharap sesuatu itu akan abadi karena yang abadi hanyalah Tuhan. Jangan pernah mengharap sesuatu yang sejati karena sejati itu hanya untuk jiwa yang mengerti arti cinta dan dicintai. “Matilah kau dengan tenang. Jangan pernah mengharap tangan ini menengadah untuk mendoakanmu.” Biarlah kata sadis dan tak bermoral melekat. Karena alasan ku untuk melakukan semua itu lebih bermoral dan lebih berhati manusia.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE