Menanti Geliat Serie A Musim Depan

Sejak skandal Calciopoli atau pengaturan skor terkuak yang melibatkan tim-tim besar Seri-A pada musim 2005/2006, membuat kompetisi sepakbola tertinggi di negeri Pizza itu perlahan mulai kehilangan pamor.

Akhir 1970 hingga awal 1980 siapa yang tak kenal dengan Liga Itali, liga paling glamor, populer, tujuan para pemain bintang meniti dan melanjutkan karier. Tak heran jika saat itu tim-tim besar seperti Juventus, Inter Milan, AC Milan, Lazio, Fiorentina, dan Parma punya basis pendukung yang tersebar di seluruh dunia. Liga Inggris sebenarnya juga punya cukup banyak penggemar namun jumlahnya tak sebanyak pendukung Serie A yang zaman itu memang didukungan finansial yang besar dibanding liga-liga lain yang ada di dunia.

Saya pun sempat merasakan gemerlap Liga Itali di tahun 2002, Saat itu Inter Milan dihuni oleh pemain-pemain kelas dunia. Ronaldo Luis Nazario De Lima dan Christian Vieri adalah dua striker hebat yang pernah berjaya di era itu dan sukses membuat saya jadi Interisti hingga sekarang. Tim-tim besar Serie A zaman itu tak pernah ragu untuk mendatangkan pemain berlabel bintang, bahkan dengan gaji selangit pun bukanlah sebuah masalah. Karena memang pamor Liga Itali saat itu sedang berada di atas angin.

Skandal calciopoli benar-benar mencoreng wajah sepakbola Italia dan akan terus dikenang sebagai catatan kelam sejarah sepakbola di negara berpenduduk kurang lebih 61 juta jiwa itu. Dampak dari skandal yang mengegerkan sepakbola Italia itu juga terasa hingga saat ini, daya tarik kompetisi tertinggi di negara Mode itu perlahan mulai surut. Berpindah ke liga Inggris yang kini menjadi liga paling elit dan bergengsi di dunia, pencapaian Negeri Ratu Elizabeth tersebut memang wajar jika melihat cara mereka meramu industri sepakbolanya.

Mulai dari kebebasan investor asing mengelola klub secara mandiri hingga persaingan di atara tim yang selalu lahirkan kejutan di setiap musimnya jadi nilai positif yang dimiliki Liga Inggris. Tak hanya itu, dari gaya permainan pun Liga Inggris yang dulu dikenal dengan Kick ‘n Rush kini punya beragam gaya bermain seiring datangnya pelatih-pelatih asal luar Inggris yang membawa skema permainan sendiri-sendiri.

Serie A Terus Berbenah

Merasa Tertinggal dari Premier League membuat Serie A berusaha mengejar, beragam cara digunakan agar Liga Italia tak semakin keteteran bersaing dengan Liga Inggris dan Liga Spanyol. Mulai dari membuka diri dengan sokongan investor asing hingga mendatangkan pemain-pemain kelas wahid, namun sayang hingga kini efeknya masih belum terasa.

Klub-klub yang kini dimiliki oleh meliuner asing sepertinya ogah menggelontorkan banyak dana untuk mendatangkan pemain top, bukan karena pelit tapi mungkin saja karena prospeknya tak sebanding dengan keuntungan yang akan didapat. Hal tersebut sejalan dengan keinginan pemain-pemain berlabel bintang yang hanya menjadikan Liga Italia sebagai tujuan di penghujung karier.

Lihat saja Ronaldo yang datang ke Juventus di usia 34 tahun. Untuk usia pemain bola jelas Ronaldo sudah melewati usia emas meski secara performa pemain yang sebelumnya membela Real Madrid itu masih terlihat superior. Musim perdana pemain berjuluk CR7 itu di Itali sukses membawa Juventus meraih scudetto kedelapan beruntun, lalu di timnas pemain bernomor punggung 7 itu baru saja mengantar Portugal juara UEFA Nations League 2019.

Secara tak langsung kedatangan Ronaldo dengan segudang prestasi dan kepopulerannya mendongkrak Liga Itali meski tak signifikan, namun usaha tim-tim Serie A mengangkat pamor Liga Italia patut diapresiasi. Jika usaha mendatangkan pemain berlabel bintang yang berusia senja dianggap kurang tepat mengembalikan kejayaan Serie A, mendatangkan pelatih top mungkin bisa menjadi solusi.

Inter baru saja meresmikan Antonio Conte sebagai pelatih anyar menggantikan Luciano Spalletti yang berhasil membawa Nerazzurri finish di peringkat empat klasemen akhir Serie A. Meski target berlaga di Liga Champions musim depan sudah tercapai namun sepertinya manajemen Inter masih belum puas dengan performa La Beneamata musim ini. Menunjuk suksesor Antonio Conte yang sebelumnya membesut Juventus dan Chelsea. Rekam jejak Conte didua klub sebelumnya terbilang sukses dengan raihan lima trofi bersama Juventus dan dua trofi bersama Chelsea.

Patut ditunggu seampuh apa racikan tangan dingin Conte saat menangani Inter yang sudah hampir enam musim puasa gelar. Apakah keputusan manajemen Inter menunjuk Antonio Conte sebagai suksesor sudah tepat? atau malah menjadi blunder padahal kinerja Luciano Spalletti saat membesut Mauro Icardi dkk terbilang cukup lumayan.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE