Melawan Hoax

Hoax berarti mengibuli orang supaya percaya pada informasi yang salah – Merriam Webster.

Perkembangan informasi di era digital sekarang ini semakin memprihatinkan, penyebaran berita yang masif dan kadang tak jelas sumbernya membuat netizen khususnya pengguna media sosial merasa tak perlu mencari tahu apakah memang berita tersebut berasal dari sumber yang terpercaya atau tidak. Apalagi kalau si pengguna merasa bahwa berita itu sejalan dengan pemikirannya dan merasa perlu membagikan ke orang lain melalui media social tanpa melakukan cross check terlebih dahulu.

Itulah fenomena yang terjadi saat ini, dan ironisnya jumlah pengguna media sosial yang semakin meningkat tak diimbangi dengan etika bermedia sosial yang baik dan benar. Mungkin sudah seharusnya aturan main dan etika penggunaan media sosial dimasukkan pada kurikulum sekolah, atau menjadi mata kuliah wajib di jenjang perguruan tinggi agar generasi muda bangsa tak telalu gampang mengonsumsi mentah-mentah informasi yang beredar di alam maya.

Pemerintah sekarang menggalakkan program melawan hoax, sebegitu urgent-nya penyebaran hoax hingga pemerintah pun merasa perlu turun tangan. 9 Februari kemarin diperingati sebagai Hari Pers Nasional selain menegaskan komitmennya melawan hoax, di hari itu juga pemerintah merilis nama-nama media yang telah tervertifikasi secara resmi sehingga masyarakat tahu kemana harus melakukan cek dan ricek terhadap informasi yang diduga menyesatkan.

Banyak faktor yang menyebabkan lahirnya berita hoax dan akhir-akhir ini semakin menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan, mulai dari tujuan politik, ekonomi, bisnis, ataupun sengaja untuk menimbulkan kegaduhan di kalangan masyarakat. Dan sebagai pengguna internet atau masyarakat yang sudah fasih berinteraksi di ranah digital diharapkan untuk tak mudah percaya pada berita-berita yang banyak beredar di media sosial.

Judul Kadang Menipu

Salah satu foktor penyebab mewabahnya berita palsu khususnya di media sosial adalah terlalu mudahnya pemilik akun membagikan berita tersebut hanya karena tertarik dengan judulnya, dan memang daya tarik sebuah artikel salah satunya karena punya judul yang “wah” atau menarik perhatian pembaca.

Kebiasaan pengguna internet yang malas membaca isi berita atau artikel turut memuluskan penyebaran hoax, jika ada judul berita yang sesuai gagasannya masalah berita tersebut benar atau tidak itu urusan kesekian, yang terpenting mereka share saja dulu meskipun isinya belum dibaca.

Namun membaca pun belum tentu menjadikan berita itu bebas dari hoax karena membaca berita di media online membuat orang cenderung tergesa-gesa hingga pada akhirnya cara menyimpulkan berita tersebut jadi keliru. Apalagi berita yang memuat tulisan yang panjang sehingga membuat orang merasa tak sabar untuk segera menarik kesimpulan dari judul berita tersebut.

Jadi tak heran jika judul berita-berita hoax kadang tak sesuai dengan isinya, karena si pembuat berita tahu jika sebagian pengguna media sosial negeri ini lebih suka berbagi informasi tanpa perlu membaca dulu isinya apalagi untuk mengecek kebenarannya.

Cross Check Before Share

Jika kebiasaan membaca di kalangan pengguna media sosial saja sangat kurang lalu bagaimana dengan kemampuan memahami dan menyimpulkan. Beragam dampak dan kemudahan dari perkembangan teknologi namun tak diimbangin dengan pola pendidikan yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Menurut Numan Luthfi yang merupakan pengamat media social, semestinya masyarakat semakin cerdas dalam menghadapi derasnya hoax namun nyatanya, penyebaran hoax di dunia maya seperti tak terbendung bahkan berdampak di dunia nyata atau offline. Ia menilai hal itu dipengaruhi oleh tingkat literasi masyarakat yang rendah terhadap informasi, media, hingga social media.

Pendidikan kita tak mengajarkan untuk membaca yang benar, membaca yang kritis. Tidak mengajarkan kita untuk mendekonstruksikan konten, dan lain-lain, pola pendidikan kita tidak mengajarkan itu makanya gampang tertelan sama konten yang tidak keruan. (sumber: detikcom).

Ya, kuncinya adalah pendidikan. Seperti yang saya tulis di awal, sudah seharusnya etika bermedia sosial atau berinteraksi di dunia maya harus ditanamkan sejak dini, kalau bisa dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Dengan pengetahuan yang memadai penyebaran hoax bisa ditangkal dengan melakukan cek dan ricek pada sebuah berita sebelum dibagikan pada orang lain, selain itu dengan kualitas pendidikan yang baik maka pengguna bisa membandingkan sudut pandang beberapa sumber referensi terhadap berita yang memang benar-benar aktual.

Skeptis Informasi

Media sosial merupakan sasaran empuk bagi penyebar hoax, selain karena jumlahnya yang sangat besar, sebagian pengguna media sosial tanah air juga punya kebiasaan yang menguntungkan si penyebar hoax yakni malas melakukan cross check terhadap informasi yang bertebaran. Terutama bagi mereka yang belum fasih bermedia sosial, kalangan ini paling mudah termakan berita hoax dan kadang tanpa rasa bersalah ikut menyebarkannya.

Namun kebiasaan check before share tak melulu dilakukan oleh pengguna awam ataupun masyarakat biasa, di kalangan jurnalis dan media pun tak sedikit yang membuat berita hanya berdasarkan pada informasi yang tak jelas sumbernya. Hanya ikut meramaikan sebuah isu yang sedang booming tanpa melakukan verifikasi terlebih dulu.

Sebaiknya jadilah pengguna yang skeptis terhadap informasi apapun khususnya yang beredar di media sosial, menanamkan rasa kurang percaya pada informasi atau berita-berita yang seliweran di media sosial setidaknya menumbuhkan rasa ingin tahu lebih dalam dan memacu diri untuk melakukan cross check ke sumber-sumber yang terpercaya.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE