Mati Suri

Satu tembakan dengan peluru tajam, sudah dapat menghentikan detak jantungmu dengan segera. Tak ada yang aku pikirkan, tak ada yang aku takutkan, semua itu aku lakukan karena sakit hati. Diriku yang terlihat lemah dihadapanmu, memang tak berarti apa-apa dalam hidupmu, aku bagaikan virus yang merugikan ragamu dan menyakitkan seperti panyakit yang meluluh lantakan masa depanmu. Itulah bisikan iblis yang berdengung-dengung di telingaku, suaranya sangat nyata dengan nada yang khas ingin menjeratku dalam dekapannya. Aku sudah berusaha menolak dengan sekuat tenaga, menguras emosi, dan mengguncang jiwa. Namun apa daya, yang ada malah aku lumpuh dibuatnya.

Saat itu aku mengajakmu ke sebuah bukit, yang indah dengan pemandangan hijau daun, yang biru dengan jernihnya air pantai, yang bening dengan segarnya hawa embun pagi. Kita tertawa lepas dan melupakan gejolak jiwa yang melanda bak tsunami. Menghindari badai asmara yang dulu terpatri, aku berusaha tersenyum walau terasa berat dengan beton menggelayuti sela-sela bibirku. Hati menangis dengan teriakan histeris, jiwa pun ikut meronta dengan pekikan dahsyat amukan alam. Aku harus kuat mengontrol semuanya, agar dia tak tahu apa yang akan aku lakukan kelak. Aku memeluknya dengan erat, berharap ini pelukan yang terakhir. Aku menggenggam tangannya erat, berharap ini adalah sentuhan yang terakhir. Aku mengecup keningnya dengan lembut, berharap ini kecuapan yang terakhir.

“berjalanlah engkau kekasihku, ke ujung bukit itu.” Kataku dengan lembut. Langkahnya begitu gemulai dengan gaya bak penari timur tengah, sesekali matanya melirik ke arahku dengan sejuta makna. Jejak kakinya tertinggal di atas unggukan pasir yang halus, mengisyaratkan bahwa cintanya tak lekang oleh waktu yang ambisius. Aku hanya tertegun, entah dilema atau kriminal yang ada dipikiranku, karena jawaban itu masih rabun dengan rasa derita. Sekuat tenaga aku tersenyum, mencoba ciptakan suasana yang hangat dan penuh cinta, walau aku tahu itu hanya fatamorgana.

Setelah dia sampai di ujung bukit, langkahnya pun terhenti dengan hembusan angin yang mengepak-ngepakkan rambutnya yang lurus dan hitam. Dia menikmati indahnya ciptaan Tuhan dengan beragam untaian hasrat ingin memiliki. Aku semakin bergetar dengan euforia kemenangan yang semu, bersiap mengumpulkan tenaga terakhir yang tersisa, agar jiwa ini terpuaskan oleh nafsu dunia. Aku keluarkan pistol dari balik jaket kulitku, hadiah ulang tahun darinya. Dan mengarahkan tepat di dada sebelah kirinya. ‘Edrika’ Panggilku lembut. ‘Duuaarrrrr……….’ Seketika tubuhnya tergeletak tak bernyawa. Aku menangis dengan air mata darah, menyesal dengan apa yang aku perbuat. Aku memeluknya erat, menggenggam tangannya, dan mengecup keningnya. Penyesalan tak terkira, dan berharap dia hanya ‘MATI SURI’ dan suatu saat akan bangun dan kembali ke sisiku.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE