Makassar, Keamanan dan Kenyamanan yang Terenggut

Beberapa pekan belakangan ini lagi riuh tagar #MakassarTidakAman yang beredar luas di jejaring sosial Twitter, tagar itu dilatarbelakangi oleh meningkatnya tindak kriminal yang terjadi di kota Anging Mammiri dalam sebulan terakhir ini. Kasus geng motor yang sejak dulu memang meresahkan kenyamanan dan keamanan warga kota Makassar turut andil lahirnya tagar tersebut yang kemudian muncul lagi dengan tagar #MakassarHarusAman sebagai harapan dan keinginan seluruh warga Makassar yang merasa kenyamanan dan keamanannya terenggut. Salah satu kebutuhan pokok manusia selain sandang, pangan dan papan tentu rasa aman serta nyaman dalam melakukan aktivitas, bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain, jika rasa aman seseorang terusik bahkan membuat jiwa terancam tentu ada yang salah dengan sistem keamanan yang diterapkan oleh aparat dalam menangani masalah tersebut.

Kembali ke tagar #MakassarTidakAman dan #MakassarHarusAman, tagar itu lahir dari keresahan warga kota Makassar yang selama ini merasa tidak aman dan tidak nyaman lagi ketika beraktivitas di luar rumah khususnya pada jam-jam malam. Sebagai kota metropolitan yang roda aktivitas warganya nyaris berputar hampir 24 jam tentu menginginkan rasa aman dari segala bentuk tindak kriminal yang mengancam jiwa, hal tersebut tentu berdampak pada citra kota Makassar yang kurang baik dan minat wisatawan yang ingin menikmati Makassar saat malam jadi menurun. Saya pun teringat beberapa tahun yang lalu, bersama teman-teman menikmati malam di kota Makassar tanpa rasa was-was bahkan hingga dini hari nongkrong di warung kopi sambil nonton bareng siaran piala dunia. Suasana kehidupan malam di kota Makassar saat itu tak kalah ramai dibanding hiruk-pikuk kota saat pagi hingga sore.

Kini kenyamanan dan keamanan saat menikmati kota Makassar di malam hari seakan terenggut oleh aksi geng motor dan tindak kriminal yang semakin hari semakin meningkat, beragam kasus kejahatan malam menghias kolom berita cetak maupun online membuat warga kehilangan kepercayaan pada aparat dan pemerintah kota. Ke mana mereka yang sepertinya menutup mata dan telinga terhadap banyaknya korban yang berjatuhan akibat aksi anarkis geng motor, penodongan, perampokan dan kejahatan malam lainnya. Apakah warga harus bertindak sendiri melawan aksi kejahatan yang mengusik rasa aman dan nyaman? Hal tersebut bisa saja terjadi jika aparat dan pemerintah kota masih tak peka terhadap keadaan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Namun sejauh ini warga masih bersabar menunggu aksi nyata dari aparat dan pemerintah kota untuk mengembalikan rasa aman dan kenyamanan warga yang selama ini hilang.

Minggu, 22 Februari 2015 bertempat di Pantai Losari. Warga menggelar aksi yang menyerukan #MakassarHarusAman dengan mengumpulkan tanda tangan di atas spanduk sepanjang sekitar lima meter. Aksi tersebut juga merupakan kritik bagi aparat dan pemerintah kota yang dirasa lamban dalam menangani kasus kejahatan malam yang dilakukan oleh oknum geng motor, pemerintah kota beserta aparat juga belum memberi solusi dalam memberantas aksi kejahatan malam yang kian beringas sehingga korban akibat aksi tersebut semakin meningkat. Saat ini warga masih bisa bersabar menunggu reaksi dari aparat dan pemerintah kota yang terkesan abai dalam menangani tindak kejahatan malam di kota ini, namun bila kesabaran warga habis kepada siapa lagi mereka akan mengadu, apakah warga perlu menggunakan jasa super hero?

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE